Inventarisasi dan Identifikasi Sebaran Rumah Gadang; Upaya mewujudkan Rumah Gadang dalam Kesatuan Basis Data

Juni 21, 2019

Dimuat HALUAN, Minggu 21 Juni 2019 ||

Rumah Gadang, tidak hanya menjadi identitas masyarakat Minangkabau yang sarat akan makna dan filosofi, namun juga menjadi salah satu bentuk sumber daya budaya yang memiliki signifikansi; dari sisi arsitektur, teknis struktur, maupun lansekap wilayah. Kekhasan yang ada pada Rumah Gadang menjadi representasi pencapaian manusia pada masa silam dalam upaya memenuhi kebutuhan primer. Manusia pada saat itu tidak lagi sekadar berusaha mempertahankan hidup (survive) akan tetapi telah tumbuh kesadaran ekspresif. Terjadi loncatan besar dalam penciptaan wujud artistik yang melibatkan pemikiran, pengolahan dan pengerjaan dalam bentuk Rumah Gadang, sebagai ruang hunian yang dilingkupi berbagai maknawi dan hakikat khas Minangkabau.

Kelangkaan dan keunikan yang dimiliki pada masing-masing Rumah Gadang itulah menjadi nilai yang membuat Rumah Gadang mesti senantiasa dilindungi. Kondisi saat ini, keberadaan Rumah Gadang semakin berkurang, dari sisi kualitas maupun kuantitas. Banyak faktor yang menjadi pemicu. Dari sisi internal bangunan: komponen bangunan yang mengalami pelapukan dan kerusakan, kesulitan mencari bahan. Juga dari sisi eksternal: gencarnya pembangunan berorientasi modern, cara pandang terhadap Rumah Gadang yang kian rendah. Serta merta menjadikan Rumah Gadang mengalami degradasi secara fisik dan dekadensi dari sisi nilai.

Pelindungan Rumah Gadang sebagai bentuk sumber daya  budaya  di  dalam  suatu  kawasan  haruslah  didukung  oleh  kegiatan inventarisasi dan identifikasi. Pendokumentasian perlu sesegera mungkin dilakukan sebelum terjadinya aspek-spek yang dapat menyebabkan perubahan keasliannya. Belum terinventarisasi keseluruhan sebaran bangunan Rumah Gadang menjadi salah satu tantangan yang mesti segera disikapi. Dampaknya, ketidaktersediaan data inventaris secara langsung maupun tidak langsung akan kian melemahkan eksistensi Rumah Gadang secara kualitas dan kuantitas.

Rumah Gadang pada dasarnya tidak semata menjadi perwujudan karya adiluhung pencapaian manusia dalam membangun peradaban. Ditilik dari latar historis, Rumah Gadang betapa raya akan kekuatan cerita dan begitu kaya akan sejarah yang melatarbelakanginya. Sedangkan dari sisi kerupaan, Rumah Gadang hadir dalam berbagai bentuk wujud artistik yang tumbuh dari kesadaran ekspresif dari masa ke masa. Sejatinya hal tersebut betapa menarik untuk dipelajari dan dimaknai.

Pengimplementasian dalam berbagai ruang lingkup kekinian merupakan salah satu bentuk pengembangan ekspresif sebuah Rumah Gadang. Dalam berbagai upaya meningkatkan dan memperkaya objek pemajuan kebudayaan, selayaknya Rumah Gadang sebagai peninggalan budaya sedapat mungkin mempertahankan keaslian dari sisi bentuk, bahan, maupun metode pengerjaan. Hal ini identik dengan upaya adaptasi. Namun, kondisi yang kerap luput, pengembangan Rumah Gadang tidak lagi melalui tahap perencanaan yang menjunjung tinggi keaslian. Dari sisi teknik dan arsitektur, kerap ditemukan strukutur dan komponen Rumah Gadang berbaur ke dalam rupa masif: pembangunan pondasi, penggantian papan dengan bata, penambahan keramik, dsb. Sehingga nilai alam, metode pembangunan yang sarat nuansa kearifan lokal, dan segala bentuk karakter yang melekat dan kentara sebagai bahan pembentuk Rumah Gadang, kini tidak lagi identik dan menjadi impresif dari suatu perwujudan kelokalan.

Menapak Jejak Rumah Gadang Nagari Cubadak

Berjarak sekitar sembilan kilometer dari Batusangkar, Ibukota Kabupaten Tanah Datar, dan berkisar 100 kilometer dari Kota Padang, Ibukota Provinsi Sumatera Barat. Sebuah wilayah, sarat hamparan sawah nan menyejukkan mata. Adalah Nagari Cubadak, wilayah yang terdiri dari dua Jorong: Cubadak dan Supanjang. Siapa duga, di sini masih terjaga karya adiluhung nenek moyang dalam memenuhi kebutuhan ruang: dalam wujud Rumah Gadang. Sebaran Rumah Gadang di Nagari yang terletak di dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 650 meter dari permukaan laut ini memiliki 15 bangunan, yang terdiri atas tujuh Rumah Gadang di Jorong Cubadak dan delapan Rumah Gadang di Jorong Supanjang.

Pada mulanya Rumah Gadang dibangun secara gotong royong yang dipimpin oleh niniak mamak dengan menghimpun potensi kaum yang ada. Kemudian Rumah Gadang akan dimiliki secara turun temurun dengan cara diwariskan. Hingga kini, meski terdapat beberapa yang lapuk dan tidak terawat akibat tidak lagi ditempati, masih terdapat Rumah Gadang yang dihuni dan kadangkala dimanfaatkan sebagai tempat perhelatan adat, seperti kegiatan pengangkatan datuk, tempat bermusyawarah pemangku adat, silaturahmi anak kemenakan, dan pesta pernikahan. Dalam berbagai wujud aktivitas, Rumah Gadang  masih menjadi simbol kekerabatan kaum sebagai media untuk mewariskan nilai-nilai adat.

Pada umumnya Rumah Gadang di Nagari Cubadak telah berusia lebih dari 100 tahun. Terdapat keberagaman secara fisik bangunan yang terlihat dari jumlah gonjong, posisi tangga dan pintu masuk, anjuang dan ukiran/ornamen yang menghiasi bangunan. Berdasarkan bentuk konstruksinya pun memiliki beberapa tipologi. Keseluruhan Rumah Gadang umumnya terbuat dari kayu dengan gaya dan ukuran yang beragam. Bentuk dasarnya berupa persegi panjang dengan konstruksi bangunan yang mengembang ke atas.

Pada beberapa komponen Rumah Gadang ada yang telah dilakukan perbaikan maupun penambahan. Seperti perubahan tangga kayu menjadi tangga semen. Perubahan juga terlihat pada penambahan material baru seperti: penambahan kaca, plafon, cat maupun keramik. Penambagan serambi. Tidak hanya pada bangunan Rumah Gadang, perubahan atau modifikasi yang paling terlihat adalah perubahan lingkungan atau lansekap. Konsep keaslian keruangan pemukiman tradisional Minangkabau sudah mengalami degradasi dan tidak begitu jelas terlihat.

Banyak Rumah Gadang di dalam kawasan yang  tertutup oleh bangunan baru. Perubahan ini terjadi karena beberapa faktor seperti pergeseran cara hidup masyarakat, kebutuhan akan ruang hunian baru, material arsitektur asli yang sulit untuk dicari, dan lain sebagainya. Perubahan ini juga dipicu oleh meningkatnya jumlah penduduk berdasarkan sumber dari BPS Kabupaten Tanah Datar, pada tahun 2009 jumlah penduduk Nagari Cubadak berjumlah 2.653 jiwa, pada tahun 2017 terdata sebanyak 3.193, dan pada tahun 2018 bertambah menjadi 3.288 jiwa.

Belum terangkumnya basis data sebaran Rumah Gadang adalah menjadi kegelisahan bersama. Upaya inventarisasi dan identifikasi sebaran bangunan Rumah Gadang menjadi solusi yang sesegera mungkin mesti dilaksanakan. Dengan mengetahui jumlah Rumah Gadang, maka akan teridentifikasi dan termonitor secara statistik kondisi kualitas dan kuantitas Rumah Gadang. Sehingga dapat menjadi data dasar guna menyusun upaya pelestarian tinggalan budaya.

Menjadi dambaan bersama tentunya, menyaksikkan bangunan Rumah Gadang senantiasa terlestari, tonggaknya masih kokoh berdiri, dinding papannya tetap tersusun rapi, gonjongnya terus menjulang tinggi. Sehingga anak-cucu kita nanti, di halamannya pun terlihat asyik berlari-lari. Bahagia menikmati hari. Dan, selamanya…. Rumah Gadang akan terus menjadi saksi. Sepanjang tumbuhnya generasi demi generasi. Semoga…

35 People reacted on this

  1. Rumah Gadang adalah identitas. Dulu, ketika duduk di bangku SD, saya dan teman-teman sesama siswa rutin menyanyikan lagu Rumah Gadang, ada kebanggaan di hati kami saya saat melagukannya–saya rasa teman yang lain juga seperti itu. Entahlah, apakah kini lagu itu masih dinyanyikan di jenjang sekolah dasar di Sumatera Barat. Nyatanya kita memang harus peduli dan melindungi Rumah Gadang ini

  2. Wah keren, dimuat di Haluan. Salam kenal yo Uda Dafri. Kami Mutia, dari Pasaman Barat. Di Nagari kami pun ado Rumah Gadang, salah satu cagar budayanya bernama Rumah Gadang Tuanku Bosa Talu.

  3. Kekayaan budaya Indonesia melalui rumah khas masing-masing daerah harus tetap dilestarikan. Rumah khas biasanya memiliki banyak makna dalam pembangunannya. Meski jaman sudah modern, tapi nilai-nilai tersebut harus tetap kita jaga. Agar Indonesia tidak kehilangan identitasnya. Pingin deh keliling Indonesia, melihat langsung kekayaan budayanya.

  4. Keren risetnya. Jadi pengen tahu lebih banyak tentang Rumah Gadang, desain, dan sistem pelestariannya. Saya mengajar di prodi Arsitektur di Bandung. Bangunan tradisional di Jawa Barat apalagi, malah engga ada yg masih dipakai tempat tinggal. Kalaupun ada bangunan baru yang menyerupai arsitektur tradisional, bukan untuk rumah tinggal. Mungkin karena engga ada tradisi sekuat masyarakat Minangkabau ya…

  5. Saat jalan-jalan ke Sumbar memang beberapa kali sering liat rumah gadang yang hancur dan kurang terawat karena tidak dihuni lagi. Padahal sayang sekali ya, rumah tersebut pasti punya kenangan dan sejarah bagi pemiliknya terdahulu.

  6. Seingat saya, lihat rumah gadang yang benar secara fisik pas berwisata ke TMII. Tapi kan itu hanya tiruan ya. Dan, dari situ saya tahu bahwa rumah gadang memang cantik, tidak cuma dari fotonya. Semoga generasi mendatang bisa melestarikan warisan budaya ini.

  7. Kelangkaan dan keunikan yang dimiliki pada masing-masing Rumah Gadang itulah menjadi nilai yang membuat Rumah Gadang mesti senantiasa dilindungi. NAh bener banget, sayang kalau ngga dilindungi. Rumah Gadang adalah sebuah identitas. Inget banget dulu jaman sekolah yang inget rumah Gadang 🙂

  8. Rumah gadang dari SUMBAR ini memang bisa jadi warisan sejarah budaya bangsa Indonesia. Unik dan pernah ada di mata uang NKRI. Bentuk2 kerucut menjulang ke langit tentu saja memberi kesan indah dan tinggi, penuh filosofi yang indah….

    Thanks ya kak infonya…

  9. Di tempat saya komunitas sesama perantau dari Sumbar bikin persatuan. Misalnya Ikatan Keluarga Gurun Saiyo, nah biasanya punya aula yang bentuk atapnya seperti rumah gadang ini. Mari kita lestarikan budaya daerah dan rumah gadang ini ya.

    Suka banget sama paragraf terakhir, kalimatnya berima sama ya, i-i semua. Kereenn

  10. hai kak, keren banget tulisannya dimuat di Haluan. Kalo saya sendiri nggak pernah tahu rumah Gadang dari tempat asalnya. Palingan cuma replika di Surabaya yang sepertinya menjadi persewaan tempat misalnya untuk menikah gt. Semoga rumah gadang mendapat perhatian untuk dilestarikan ya Kak 🙂 karena bagaimanapun itu merupakan aset budaya bangsa Indonesia

  11. Rumah gadang ini peninggalan budaya yang harus dilestarikan ya keberadaannya. setuju saya jika dilakukan inventarisasi supaya lebih mudah mengendalikan dan menjaganya.

  12. Saya penasaran pengen masuk ke rumah gadang dan melihat kondisi di dalamnya.

    Masih cukup banyak juga bangunan rumah gadang di Sumbar ya. Budaya daerah yang perlu dilestarikan.

  13. Pengen banget deh ke rumah gadang yg asli, pasti keren banget dan banyak filosofi di setiap sisinya

  14. Awalnya saya fikir, nagari Cubadak yang di Pasaman. eh Kampung Cubadak.
    Karena itu kampung ayah saya, dan rasanya saya ndak pernah lihat ada rumah gadang hehehehe
    ternyata yang di Tanah Datar ya…

  15. keberadaan rumah gadang saat ini memang sangat memperihatinkan dan butuh perhatian khusus di tengah perkembaangan zaman dan bertambahnya penduduk. Bentuk khas rumah gadang kian lama akan tergerus jika tidak ada upaya untuk pelestarian dan adaptasi terhadap kondisi sekarang. Terpenting regulasinya harus dibuat

  16. Jadi kan Uda, saya kira rumah gadang cuma ada di bukit tinggi saja. Ternyata masing-masing nagari bisa saja memilikinya. Terlepas apakah rumah gadang tersebut masih terpelihara atau tidak.
    Semoga data inventaris rumah gadang ini dapat ditindaklanjuti menjadi pemugaran rumah gadang agar tetap berdiri kokoh menjadi sebuah kekayaan budaya yang akan terus terjaga. Aamiin

  17. Saya pernah baca bahwa Rumah Gadang termasuk tahan gempa. Keberadaannya sampai sekarang masih ada meski lapuk dimakan waktu.
    Sayang sekali tidak ada lagi pembuatan rumah Gadang. Barangkali bisa dalam versi kecil, dan persoalan bahannya apakah bisa dipakai kayu lain yang mudah didapatkan tetapi tetap tahan lama?
    Orang di luar daerah kagum pada Rumah Gadang, sayang jika tidak ada yang merawatnya.

  18. Suka takjub dengan rumah gadang ini. Impian bisa melihatnya langsung. Anak cucu juga pengin aku kenalin ke rumah adat kayak gini. Mudah-mudahan terus lestarii ngga tergantikan dengan rumah2 modern

  19. Memang saat ini rumah adat berasa hampir hilang ya kak, di tempatku aja rumah joglo hanya beberapa saja. saat ini banyak bangunan modern. btw, aku ikutan membayangkan rumah gadang ini memiliki halaman yang luas, anak2 lari2an ke sana kemari, dudududu
    semoga ya, rumah gadang dan rumah adat lainnya tetap lestari 🙂

  20. Kesatuan basis data ini penting untuk memonitor berapa jumlah dan sebaran rumah gadang ya, noted. Bagus nih ada upaya inventarisasi dan identifikasi seperti ini ya… agar cagar budaya warisan tak ternilai suku MInangkabau bisa lestari. Aamiinn

  21. Senang sekali mendapatkan informasi baru. Sebagai WNI yang tahu negara kita memiliki banyak adat istiadat dan keanekaragaman budaya, rumah adat ini sangat membanggakan saya yang orang Sunda. Sungguh keinginan main ke tempat rumah gadang berada ini semakin tinggi. Semoga pandemi segera berakhir. Biar bisa traveling ke sana

  22. wah keren sekali, kalau nyebut rumah gadang pasti langsung ingat Sumbar. Waktu saya berkunjung ke sana, saya juga mengunjungi beberapa rumah gadang, bentuknya memang unik ya khas banget

  23. Bagusnya dibahas juga Pak interiornya. Disertai dengan gambar-gambarnya. Misalnya aja kan khasnya interior rumah-rumah adat itu tidak memiliki kamar. Jadi, satu kamar luas dengan beberapa ranjang. Hanya dibatasi dengan sekat. Nah, itu ada filosofinya juga

  24. Betul sih sebaiknya semua rumah adat itu diinventarisasi karena memiliki nilai sejarah dan bangunan arsitektur yang sangat unik, semoga ini bisa membantu perkembangan pariwisata di Indonesia. Setau saya yang diinventarisasi baru Masjid dan mungkni juga pasar karena pertimbangan fungsional

  25. Dulu pernah lihat rumah gadang di TMII Jakarta. Menarik dan etnik sekali. Terasa sekali nuansa jaman dahulu dari bentuk bangunan dan arsitekturnya. Jika di mat-matin seperti rumah Toraja di Sulawesi sana.

  26. sudah sepatutnya sebagai generasi penerus mempertahankan apa yg ada sejak zaman leluhur, termasuk bangunan bersejarah. dari pemerintah sudah ada kan lembaga yg menaungi data dari sejarah dan peninggalan ini? mungkin masing-masing dari kita perlu lebih peduli ya bang akan hal2 kecil yg mungkin akan terlupakan seperti bangunan ini… smoga kelak bisa terkumpul data yg mumpuni terkait rumah gadang

  27. Dari segi desain arsitektur sudah sangat menarik memang rumah gadang ini. Kalo ingat kata rumah gadang memang langsung ngeh pasti khas Suku Minang. Penting banget memang nih pemerintah lakukan inventarisasi yang jelas agar jumlahnya tetep diketahui.

  28. rumah gadang ini bisa dibilang cagar budaya ya. tapi saya kurang setuju jika ornamen atau bahan bangunan dari harus diganti dengan semen, karena bagaimanapun itu adalah sejarah. meskpin ornamennya terbuat dari kayu, jelas pasti sampai sekarang belum ada yang lapu. secara gitu bangunan orang dulu pasti awet awet

  29. rumah adat memang harus dilestarikan ya, atau mungkin diviralkan, biar para generasi sekarang kalo bangun rumah terinspirasi dengan bentuk-bentuk rumah adat yang khas, kan jd lebih nyeni ya hehe

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.