Kutuk Pelayaran, Koak Paruh Retak, Jejak di Rumpun Sajak, Risau Menyusur Lusa, Di Ujung Pengembaraan

Juli 24, 2016

Dimuat Haluan, Minggu, 24 Juli 2016 ||

Kutuk Pelayaran

debar kita serupa kapal berlayar
merangkum resah bak amuk laut
detik menjelma perjalanan yang ke sekian
hamparan melulu membentang dalam pandang
sedang pulau penyandar tak kunjung membayang

duhai, beginikah kutuk pelayaran
terhuyung gelisah di amis sendawa belukang
penat meringkas cemas dari debur ke debur
namun masa mengemas tak kunjung terukur
jika terbenam,terbenamlah
sekira hanya merangkaki hamparan
lautan luas bertepian entah
rumah jauh telah kita tinggal
tiada kemestian kembali kepada titah
kepada kitab pelayaran bersampul tebal

————————————-

Koak Paruh Retak

kau bawa jua paruh retak itu
nun menyingsing menelusuki mega
meski riuh gemuruh menawar gamang
pantang gemetar kepak menentang
pada patuk yang begitu awas
terselusur jua kelamnya tualang
sebagai tetesan luka menitik panjang
menjadi jejak pengembaraan masa silam

kau bawa jua moncong rekah itu
sebab dengannya belaka kau berhikayat
tentang langit dan bianglala pada suatu waktu
pengucap matera pengindah hayat

duhai, dengan paruh tak kunjung tumbuh
akankah masyuk kita bercumbu

—————————————–

Jejak di Rumpun Sajak

manakala rama-rama serempak mengepak
kau kata pada sayap-sayap mereka terdapat jejak
kelak akan mencipta berumpun–rumpun sajak
yang sebar, mekar dan lalu menumbuh kelopak
dan sebentuk yang hinggap di kepalamu kelak
membenamkan serupa tikaman mata tombak
mengisap segala hikayat sepanjang hari
setingkah rama-rama menyerap sari

seketika batang tubuh terhuyung
aku akan lekas menanamkan taring
hingga kau terjaga dan menyadari
kita tengah mengepak di dalam sajak
di sehamparan taman yang belum terpijak

————————————-

Risau Menyusur Lusa

barangkali, risau kita menyusur lusa
serupa pejalan malam menata langkah
dalam kesangsian menerka arah
sebab tak ada jejak mampu terbaca
pada hamparan waktu yang kian menggulita
sedang segerombol jiwa-jiwa tanpa tubuh
senantiasa meneruka belukar di sisi yang tetap utuh
menerobos rimba luka dan remah kenangan
yang terserak di sekujur jejak masa silam

duhai, atma, beranjaklah dari segala
pun serupa sandaran tiang paling tepi
sebab kita tidak sedang menimang-nimang sepi
membuailah nyanyian palung syahdu
terlelaplah dalam bait-bait penghabisan
sebelum sempurna kelam menikam malam
—————————————

Di Ujung Pengembaraan

yang mekar di dalam terik
serupa kelopak diembus sepoi
terhuyung khusyuk mengeja detik
sebelum alam meriuh dalam bengkalai

di ujung rerantingan kita bertemu
dan pada akhirnya akan ada yang luruh
sebagai ranggas helai dedaunan melayu
mengersik dan lalu rapuh
dalam dekap selimut waktu

pada rengkuh nyanyian langit
oh, atma, berserulah kepada apa
kepada yang mengalir menuju muara
kepada yang menjulang menembus daya

——————————————–

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.