Memaknai Kemerdekaan dalam Refleksi Kebudayaan

Agustus 24, 2017

Dimuat HALUAN, 24 Agustus 2017 ||

Menapaktilasi perjuangan rakyat Indonesia menuju kemerdekaan. Masa yang dilalui rakyat Indonesia senatiasa diwarnai oleh tindak-tanduk yang sarat akan kecamuk, baik dari segi fisik maupun nonfisik, moril serta materiil, dalam upaya terbebas dari belenggu imperialisme. Sungguh, penjajahan teramat sangat menyengsarakan. Rakyat menjadi korban, pelbagai bidang: politik, ekonomi, dan pendidikan serta merta berada pada kondisi terpuruk.

Tak ayal, perjuangan fisik pun menjadi salah satu bentuk antipati. Sontak, daerah-daerah membara Api perjuangan berpijar dari tangan-tangan yang terjajah. Namun apa dinyana, pihak kolonial mampu meredam bahkan lebih bersikap represif kepada rakyat. Nyata di hadapan mata, yang dihadapi rakyat bukanlah sebatang tebu yang dapat dipatahkan dengan sekali hantaman di lutut. Akan tetapi apa yang menghadang di muka tak ubahnya batu karang yang demikian keras lagi tak tergoyahkan. Hari demi hari diwarnai dengan luka dan darah. Burung bangkai seakan terus mengintai menanti tubuh-tubuh pribumi yang tak lagi bernyawa. Hingga muncul sebuah gagasan perjuangan lewat organisasi modern.

Dalam perjalanannya, berbagai organisasi tak sekadar solider sebagai penyalur rasa ketidakpuasan sosial masyarakat yang menginginkan lenyapnya kolonialisme dari muka bumi Indonesia. Tidak pula semata turut menempa sekaligus membangun karakter yang kuat bagi generasi penerus bangsa dalam babak baru untuk memimpin pergerakan bangsa. Para pejuang bangsa berusaha berada pada garda terdepan dalam perjuangan nasionalisme berkebudayaan yang saat itu mulai disusupi kebudayaan asing.

Hal ini juga dipaparkan oleh Cahyo B.U. di dalam bukunya Dinamika Pergerakan Kebangsaan Indonesia: “Akibat praktek-praktek kolonialisme, bangsa Indonesia tidak hanya kehilangan kemerdekaan politiknya; tidak hanya menderita dalam lapangan sosial dan ekonominya berupa kemelaratan dan kesengsaraan; tetapi juga mengalami terbongkarnya beberapa akar kulturalnya. Masyarakat Indonesia diinfiltrasi dengan nilai-nilai budaya yang merugikan. Telah terjadi apa yang dikenal dengan penetrasi kultural Barat terhadap kultural Indonesia.”

Maka kemudian, banyak pemikir bangsa berupaya mengunjukkan sikap tegas lagi keras dalam menghadapi penetrasi kebudayaan asing. Dan dengan kebulatan bersama lahirlah perjuangan- perjuangan yang bercorak nasionalisme kultural dengan bersandar pada kebudayaan bangsa. Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan mendirikan sekolah dan menarik banyak kaum intelektual untuk memperhatikan kemajuan budaya sendiri. Bahkan, jika dilitik lebih lanjut, segala macam sepak terjang organisasi-organisasi pemuda tidak lain dari sebuah cara ekstensif dalam menciptakan kebudayaan sebagai identitas bangsa Indonesia.

Sekumpulan pemuda dengan kebaruan pemikirannya mengejawantah menjadi katalisator bagi lahirnya organisasi-organisasi perjuangan lainnya di pelbagai daerah. Bahkan gerakan-gerakan yang menjunjung ideliasme nasionalis kultural yang sama juga telah meluas hingga ke Belanda dengan digagas oleh pelajar-pelajar Indonesia yang tengah melakukan studi di sana.

Seiring dengan kesamaan cita-cita yang disandang bersama, kesadaran akan adanya jati diri bangsa pun terus mengalami perkembangan hingga mencapai ke arah kedewasaan. Dengan berlatar belakang kebudayaan nasional, diploklamirkan bahwa: bangsa Indonesia mesti memiliki satu bahasa umum, persamaan kehendak sebagai satu bangsa dan satu tanah air Indonesia. Maka kemudian gerakan kebudayaan seakan tak gentar menjunjung asa perjuangan kebudayaan yang telah terpatri kuat sebagai pondasi bangsa.

Kini, setelah Indonesia merdeka dan bermartabat secara kebudayaan, setiap tanggal 17 Agustus semua rakyat Indonesia mengenangnya sebagai Hari Kemerdekaan. Namun, apakah ideologi kemerdekaan yang sejatinya berakar pada nasionalisme kebudayaan yang lebih seabad lalu dipatrikan oleh orang-orang muda yang berpikir idealis, kini masih tertanam pada relung hati pemuda-pemudi penerus bangsa? Atau kemerdekaan tak lebih dari sekadar jargon, yang dengan begitu mudahnya untuk disebut tanpa dibarengi kemafhuman akan kedalaman maknanya?

Tak dapat dinafikan, kondisi identitas bangsa sebagai salah satu bentuk dari pencapaian nilai-nilai kemerdekaan saat ini tengah berada pada fase pengikisan secara perlahan. Kaum muda sebagai pemegang penuh tongkat estafet kemajuan bangsa terkesan apatis dalam menjaga—bahkan mengenal—kultural bangsa. Kebudayaan yang sejatinya akan mengangkat derajat bangsa dan meninggikan harkat nasionalisme lama-kelamaan mengalami dekadensi, baik dari sisi eksistensi maupun nilai keluhuran.

Di sisi lain, apa yang ditakutkan generasi silam menyangkut penyusupan kultural asing, saat ini malah sangat sulit untuk dibendung. Pengerasukkan kultur asing dewasa ini begitu menjalar. Pasalnya, masyarakat seakan membuka pintu selebar mungkin untuk kebudayaan yang dianggap sebagai identitas modernitas. Sebuah kontradiksi dari apa yang menjadi pakem munculnya upaya penguatan identitas pada masa lalu. Alhasil, ideologi pragmatisme akan terus menyeruak.

Terkait dengan hal tersebut, upaya negara dalam memperkokoh ketahanan budaya sebagai identitas bangsa semakin gencar dan fisibel. Pada tahun ini, pemerintah telah merampungkan Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Pada dasarnya, dengan lahirnya undang-undang ini nantinya akan menjadi dasar hukum dalam pengelolaan kebudayaan, termasuk di dalamnya penjagaan aset budaya bangsa dan infiltrasi budaya yang menjadi kecemasan bersama. Jika dimaknai lebih dalam, upaya memajukan kebudayaan ini sejatinya memiliki marwah serupa dengan amanat penegak bangsa masa silam yang menuangkan gagasannya ke dalam Undang-undang Dasar, Pasal 32 ayat 1, bahwa: Negara memajukan kebudayaan Nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.

Mengutip pemikiran Truman Simanjuntak, dalam tulisannya Arkeologi dan Pembangunan Karakter Bangsa yang termaktub di buku Arkeologi untuk Publik: “Keseluruhan nilai-nilai budaya menjadi bagian dan karakter Indonesia sekarang. Karakter itu akan semakin kaya lagi jika dilengkapi dengan nilai-nilai kehidupan masa lampau yang belum teridentifikasi dan nilai-nilai inovasi serta serapan budaya modern. Dengan mempraktikkan kesemuanya dalam kehidupan berbangsa, Indonesia niscaya tampil sebagai bangsa yang betul-betul berkepribadian khas, yang membedakan dari bangsa-bangsa lain di dunia.“

Indonesia sejatinya memang amat kaya dalam hal kebudayaan. Nusantara adalah sebuah peradaban besar yang lahir dari detak-jejak kehidupan manusia Indonesia dari masa ke masa. Negeri ini bernyawa lantaran kekhasan-kekhasan nilai budaya maupun tinggalan cagar budaya dari setiap periodesasi perjalanan sejarah. Sehingga bukan tanpa alasan bahwa kekayaan budayalah yang menjadikan Indonesia tampil sebagai bangsa yang betul-betul berkepribadian khas mengutip kata Truman.

Akan menjadi salah satu manifestasi sikap dalam memaknai kemerdekaan yang tidak semata terbebas dari belenggu penjajahan dan lalu mengibarkan sangsaka Merah Putih belaka. Namun, lebih dari itu, semestinya kebudayaan pun turut dikibarkan. Kebudayaan harus mengepak dengan elegan, sebagai identitas bangsa, dengan peduli dan melestarikan budaya bangsa. Sebab, kebudayaan sejatinya tidak semata menjadi sebuah perwujudan atas pemikiran dan perilaku kehidupan manusia pada masa silam semata, akan tetapi kebudayaan akan menetaskan nilai-nilai luhur dari cangkang keanekaragaman. Adalah tugas kita untuk kembali memerdekakan jati diri yang dahulu berurat-berakar kekal di kedalaman Tanah Air ini. Memaknai perjuangan adalah bukan tentang seberapa lantang berteriak “merdeka!” dan kemudian tidur siang. Tapi apa yang telah kita dedikasikan untuk bangsa, walaupun dari hal-hal kecil yang dipandang sebelah mata. Dirgayahu Republik Indonesia. 72 tahun, bukan lagi usia untuk berleha-leha!

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.