Cerita Pilu dari Parikesit

Maret 21, 2016

https://sumbarsatu.com/berita/12439-cerita-pilu-dari-parikesit

Kepulangan Semen Padang FC dari turnamen Piala Gubernur Kaltim, tak dapat dimungkiri, telah menyisakan guratan kekecewaan bagi para pendukungnya. Tim kebanggaan urang awak ini sebelumnya begitu digadang-gadangkan dapat menjaga asa dengan setidaknya kembali mengulang cerita manis dari turnamen sebelumnya—Piala Jenderal Sudirman—, menembus laga final. Tak dinyana, Nur Iskandar cs mesti angkat koper lebih cepat.

Apa yang dicapai pasukan dari Indarung ini memang tidak disangka-sangka khalayak. Bercokol di Grup C dengan lawan tanding yang di atas kertas dianggap tidak begitu berbahaya, ternyata menjadi neraka bagi perjalanan Semen Padang FC di gelaran yang digalang oleh Pemerintah Daerah Kaltim tersebut. Dibuka dengan kekalahan 2-1 dari Persiba Balikpapan agaknya menjadi preambul atas cerita pilu itu. Meski sempat mempermalukan Surabaya United dengan meraup tiga poin pada laga ke dua, hal ini tak lantas membuat langkah mereka mulus menghadapi anak-anak muda Kalimantan dalam partai pamungkas Grup C. Alih-alih memberi pelajaran pada “anak kemarin sore”, Rivki Mokodompit dipaksa memungut bola dari sarangnya setelah Rezam Baskoro lewat aksi solo run berhasil menceploskan bola ke sudut jala yang dijaga eks Mitra Kukar itu.

Tak dapat dinafikan, selepas gelaran tersebut, caliak sendeang dari maniak Semen Padang pun tertuju tajam pada para debutan ekspatriat. Kehadiran dua dari tiga pemain samba dalam mengisi skuad kabau sirah dirasa belum mengunjukkan kontribusi yang impresif. Kurang padunya peran mereka dengan orkestra permainan yang digubah Nil Maizar terasa amat kentara. Kehadiran mereka pun kerap disantirkan dengan pemain-pemain asing yang sempat mengenakkan seragam merah dengan logo kepala kerbau itu. Praktis, nama Cassio Fransisco de Jesus yang lebih mentereng dibandingkan duo rekan senegaranya, Fernando dan Taffarel. Sorotan bahkan lebih tertuju pada Taffarel. Diplot sebagai juru gedor pertahanan lawan, ia malah terkesan lasi untuk berduel dengan lawan. Alhasil, manajemen tidak mau buang waktu. Surat pemecatan pun tiba pada kedua ekspatriat tersebut.

Reminisensi skuat

Sedikit menarik ingatan ke lima tahun belakangan. Setelah hengkangnya Edward Wilson Junior (asal Liberia), sukar menyandingkan nama yang memiliki naluri mencetak gol yang setara dengannya. Selama enam musim mengisi pos penyerang Semen Padang, ia berhasil membukukan 80 gol dari 105 kali pertandingan. Melalui capaian yang diraihnya, di musim 2010/2011 Semen Padang FC yang notabene sebagai klub debutan di ISL berhasil mengunci posisi di podium empat klasemen. Setahun berselang, Semen Padang FC menjuarai IPL sekaligus melesat ke AFC Cup. Dan pada musim terakhir, ketajamannya di depan gawang lawan membawa Semen Padang FC berlaga di delapan besar AFC Cup. Setelah hengkangnya Edward, Semen Padang FC pun merekrut Osas Saha (asal Nigeria) dan kemudian Koko Lomel (asal Liberia). Osas tidak dapat dikatakan tumpul di sisi depan skuat, meski penampilannya dicap kambuh-kambuhan. Dan nama terakhir, ia turut mencecap laga final di turnamen Piala Jenderal Sudirman.

Agaknya, bukan tanpa alasan jika tak jarang tilikan dari mata fans kabau sirah akan serta-merta berhipotesis: “pemain kaliang lebih setel dengan gaya permainan tim Semen Padang”. Memang, kehadiran pemain-pemain asal Afrika memiliki kemasyhuran tersendiri di atas lapangan hijau. Selain sarat stamina fisik yang bagus, pemain berkulit legam ini pun terkenal liat dan sulit dijatuhkan manakala mengiring bola, dan pula akan menjadi senjata mematikan pada saat counter attack.

Sabtu (19/3) silam, legiun asing yang begitu dinanti-nanti khalayak tiba. Alih-alih pemain kaliang, adalah duo samba kembali didatangkan: Diego Messian (Gelandang) dan Marcelo de Souza (Penyerang). Memang tidak dapat dengan mudah menjustifikasi duo anyar tersebut akan serta-merta bermain lebih baik atau tidak dari rekan senegaranya yang pernah merantau ke Ranah Minang, mengingat kedua pemain tersebut baru akan menapaki rumput lapangan Mes Indarung Senin (22/3) ini. Kabar tak sedap yang membikin fans agak galau, kedua pemain ini tercatat sebagai pemain “buangan” dari Persipura. Hanya dalam hitungan hari bergabung dengan klub ujung Timur Indonesia itu, mereka sekonyong-konyong didepak dengan alasan kualitas yang tidak jauh berbeda dengan pemain lokal. Menarik untuk disimak kebolehan pemain baru ini. Akankah mereka mampu mematahkan paradigma “pemain kaliang lebih setel dengan gaya permainan tim Semen Padang”.

Perjalanan sepanjang gelaran Piala Gubernur Kaltim yang diikuti Semen Padang tentunya tidak semata badiang di abu dingin. Apapun pencapaian yang diraih hendaknya senantiasa dijadikan momentum refleksi bagi pelbagai pilar internal maupun eksternal yang menaungi tim. Semen Padang FC adalah tim hebat yang diisi pemain, pelatih, manajemen, suporter yang hebat pula. “Better now than at the end of season” lebih baik sekarang dibandingkan di akhir musim, demikian Marcello Lippi pernah berkata. Tim dan jajarannya tentu amat mafhum, kekalahan hari ini, kekalahan pada turnamen Piala Gubernur Kaltim, tentu akan menjadi pelajaran yang amat berarti, menjelang Indonesia Soccer Championship yang akan digelar.

Layaknya kisah Prabu Parikesit (yang juga menjadi toponim Stadion Parikesit), Sang Raja Kuru yang tertera dalam wiracarita Mahabrata. Pada akhir riwayatnya, ia tewas digigit Naga Taksaka yang bersembunyi di dalam pohon jambu. Kejadian ini terjadi atas dasar kutukan Brahmana Srenggi yang dendam lantaran Prabu Parikesit telah mengalungkan bangkai ular hitam di leher ayahandanya, Bagawan Samiti. Stadion Parikesit, Balikpapan, tidak semata menjadi latar cerita pilu yang dilakoni Semen Padang FC. Akan tetapi dari tempat inilah Semen Padang FC yang berbeda akan terlahir kembali. Semen Padang FC yang lahir dengan pemain-pemain yang punya semangat dan sportivitas stinggi. Semen Padang FC yang hadir dengan liuk-liku permainan yang tak sekadar menunjukkan kemenangan pun mempertunjukkan permainan yang indah dan elegan. Semen Padang FC yang akan menulis cerita indah di sanubari pencinta sepakbola ranah minang. Semen Padang FC yang akan mengejawantah sebagai Brahmana Srenggi, memendam kesumat kekalahan, dan kelak akan menjelma Naga Taksasa yang mengigit sesiapapun yang menghalanginya.

*Dafriansyah Putra, masyarakat pecinta sepak bola.

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.