Obeng Kembang

Oktober 26, 2014

Dimuat Padang Ekspres, 26 Oktober 2014\\

Parjan tidak pernah tahu kalau istrinya dari dapur diam-diam akan selalu mendengar pembicaraannya setiap kali pelanggan datang. Seperti siang ini, seorang lelaki tambun berkaus bola Semen Padang FC datang membawa sebuah televisi Polytron 17 inci.

Parjan meletakkan obeng kembang yang sedari tadi ada di tangannya, meninggalkan sebentuk meja lebar yang penuh dengan perkakas, berdiri menuju pelanggan sambil membetulkan sarungnya yang kedodoran.

“Kumat lagi, Par. Baru dihidupkan biasa, tapi lama-lama gambar di layarnya jadi makin kecil saja.”

“Penyakit televisi tua itu. Digoyang sedikit saja nanti bakal betul.”

“Bisa dalam empat hari ini selesai? Sabtu ada bola soalnya, 8 besar ISL, Semen Padang lawan Arema. Rugi saya kalau tidak dapat nonton.”

“Empat hari, terlalu lama. Besok sore siap!”

Maka semringahlah air muka lelaki tambun itu mendengar semacam garansi yang diucapkan Parjan. Tentu, itu bukan asal sebut. Parjan sudah paham asam-garam barang elektronik. Entah sudah berapa banyaknya barang elektronik pernah merasakan makan tangan Parjan. Semua kembali dapat dipergunakan. Hanya sebagian kecil saja, yang barangkali rusak akut, tidak sanggup ia perbaiki.

Tidak sampai lima menit setelah lelaki tambun itu meninggalkan Parjan, kali ini datang seorang lelaki berkumis. Tampaknya, tidak perlu waktu lama untuk memanaskan kembali kursi panjang dari bambu bekas dudukan lelaki tambun tadi yang memang disediakan Parjan untuk para pelanggannya.

Dari sela-sela jeruji kipas angin yang sedang ia perbaiki, Parjan melirik kepada pelanggan yang baru datang itu. Pada saat itu ingatannya cepat bekerja untuk memastikan barang apa yang akan dijemput pelanggan.

Parjan menyeka perkakas di atas meja, menyediakan sedikit tempat yang dirasa cukup untuk meletakkan tape recorder. Setelah ia colokkan kabel ke sumber listrik, tape recorder itu jernih memainkan pita kaset Pasan Mande. Suara berat Tiar Ramon riuh rendah menaungi ruangan kecil berdinding triplek itu.

“Cuma sabuk karetnya saja yang longgar. Sudah diperbaiki.”

“Benarkah? Cuma itu saja? Padahal sudah saya coba bawa ke bengkel di pasar. Banyak yang rusak katanya. Sampai dua raus ribu pula saya kena. ”

“Hahaha. Ya, begitulah. Kalau dibawa ke tempat lain pasti ada-ada saja yang dikatakannya rusak. Yang belum patut diganti bakal digantinya. Dan yang seharusnya diganti, hanya diperbaiki sekenanya saja. Biar kalau rusak datang lagi ke tempat dia.”

Lelaki berkumis itu hanya mengangguk-angguk. Entah karena setuju dengan perkataan Parjan, atau lantaran sedang larut dalam suara bansi yang hadir setelah refrein, seakan membawanya sedang berada di kampung halaman.

“Berapa, Par?” lelaki berkumis meraba saku-saku belakang celananya.

Tapi, sebelum sempat lelaki itu mengeluarkan uang, Parjan lebih dulu buka suara.

“Duh, kita sama kita tak usah begitu perhitunganlah. Bawa saja!”

Istri Parjan yang sedari tadi menguping pembicaraan itu sambil menggoreng tempe di dapur, tiba-tiba menjatuhkan periuk dengan sengaja. Bunyi dentang periuk beriring dengan lirik penutup Pasan Mande: kato malereang oi nak kanduang, bisonyo tajam.

***

“Segan! Apa segan bisa mengenyangkan perut? Apa segan bisa membeli cabe dan minyang goreng? Sampai kapan kamu mau begini?”

Istri Parjan geram bercampur gemas. Sungguh, sudah lama ia mencoba memendam perasaan itu. Tapi tidak lagi untuk hari ini. Betapa segala kekesalan—yang dilingkupi juga dengan kesedihan—di pedalaman batinnya telah menjelma bola salju. Semakin ia sering melihat ulah suaminya, semakin kekesalan itu menggelembung.

Entah untuk ke berapa kali ia menyaksikkan Parjan enggan menerima bayaran atas pekerjaannya. Dengan alasan yang melulu sama: segan, tidak enak menerima uang dari orang yang sama kampung dengannya itu, sedang di rantau ini orang sekampung sudah dianggap saudara sendiri.

Ah, gila! Aturan dari langit mana itu? Ingin rasanya ia mengatakan kepada suaminya, tidak sedikit ditemukan saudara sekalipun jika sudah perkara uang mau tak mau sementara mesti menanggalkan sebutan “saudara” itu.  Apalagi ini, sekadar saudara yang ditalikan oleh kedaerahan. Primordialisme yang terkesan berlebihan!

Bahkan, dalam kondisi emosi seperti ini, mata iblis istrinya seakan membelalak nyalang. Mata iblis yang membuatnya mampu melihat cela terkecil dari diri Parjan. Tidak ada hal lain yang lebih patut disebutkan, selain hendak mengatakan kalau suaminya terlalu naif.

Jelas, istrinya merasa Parjan tidak tahu kalau dirinya sedang dipermainkan orang. Kebaikan Parjan digunakan orang untuk sebuah keuntungan. Parjan sedang dimanfaatkan orang-orang yang senantiasa diagung-agungkan suaminya itu sebagai saudara. Yang lebih menjengkelkan lagi, orang yang menjadi pelanggan Parjan didominasi oleh orang-orang yang disebutnya sebagai saudara itu. Betapa istrinya semakin dapat melihat, orang-orang itu tak lebih ingin menggunakan kesempatan dari ketulusan suaminya. Dan istrinya yakin, pikiran seperti itu tidak pernah disadari Parjan.

“Terimalah uang mereka. Terimalah hasil dari keringatmu!”

“Selama ini, makan di rumah makan pemilik radio ini, aku tak bayar. Naik angkot yang punya kipas angin ini, juga tak pernah bayar. Itu pertanda saudara. Tahu kau!”

“Mereka mungkin banyak pelanggan. Tidak begitu berarti harga sepiring nasi yang kamu makan. Tidak begitu bernilai ongkos angkot hanya dari seorang penumpang. Tapi, kita? Hanya dari memperbaiki barang elektronik inilah uang didapat. Bahkan belanja anak-anak bergantung pada itu. Sementara dalam satu hari sulit memastikan akan datang satu orang saja. Dan sekalinya ada yang datang, kamu enggan menerima uang.”

“Apa urusanmu mengatur-aturku?”

“Aku istrimu!”

“Jangan sok mengatur suami!”

Parjan masuk kamar, menukar sarung dengan celana panjang, lalu pergi keluar rumah setelah menyambar topi hitam lusuh yang tergantung di paku dekat pintu. Sementara istrinya masih terduduk lunglai di lantai meski hidungnya jelas mencium bau tempe hangus di penggorengan.

***

Jalanan kota yang ramai oleh lalu lalang kendaraan membuat pandangan Parjan berkunang-kunang. Sudah jauh ia berjalan, tanpa ada tujuan pemberhentian. Ia berharap dengan meninggalkan rumah setidaknya dapat mengobati sakit kepalanya akibat mendengar omelan istrinya.

Ia lihat sepasang muda-mudi bermesraan di kursi taman. Mereka saling suap makanan. Sial, ia seperti diseret untuk mengenang masa-masa saat merasakan kasmaran sewaktu muda dulu. Ah, ia jadi teringat istrinya yang tinggal di rumah.

Cepat-cepat ia menghapus bayangan itu. Untuk apa perempuan itu hadir di kepalanya, sementara istrinya tidak mau mengerti pada perasaannya. Parjan tahu kehidupan yang ia bangun dengan istrinya sungguh sederhana. Parjan juga tahu, ia hanya mampu memberi nafkah dari memperbaiki barang elektronik. Parjan tahu, bahkan benar-benar tahu, sikapnya yang tidak mau menerima bayaran jelas mengecewakan istrinya. Bahkan jauh di lubuk hatinya, betapa ia juga sebenarnya menginginkan menerima uang itu.

Tapi… tapi tidak mungkin ia menerimanya.  Akan menjadi semacam melanggar pantangan yang ia lahirkan sendiri di dalam dirinya jika menerima bayaran dari orang-orang sama kampung yang menggunakan jasanya. Meski sejatinya tak ada masalah jika ia memungut bayaran atas pekerjaannya. Tapi, entahlah, ia merasa tak enak saja. Segan.

Dalam pikirannya, hidup di perantauan mesti pandai mendekatkan diri, terlebih dengan orang satu kampung yang kebetulan bersua di perantauan. Sebab, seandainya kelak ia terbaring sakit, pasti orang sekampung itu juga yang akan repot. Bahkan pahit kata, jika ia mati di tanah rantau ini, maka orang sekampung juga yang bakal sibuk memberi kabar ke kampung dan mengurusi jasadnya.

Jadi, perihal menerima uang itu… Ah, mau bagaimana. Payah ia menyebutnya.

***

Lelaki tambun yang meninggalkan televisi Polytron 17 inci kemarin, sore ini kembali mendatangi rumah Parjan. Terlihat tubuh tambun itu masih mengenakkan kaus bola klub Semen Padang FC seperti yang kemarin, tapi dengan warna yang berbeda. Lelaki itu dibuat bingung melihat ruangan kerja Parjan seperti kapal pecah.

Dari sela-sela tumpukan barang, Parjan muncul.

“Par, bagaimana televisi saya, bisa diperbaiki?”

“Aduh, maaf. Maafkan saya, belum sempat saya pegang. Obeng kembang hilang!” kata Parjan sambil menyeka keringat dingin di kening.

Padang, 2014

1 people reacted on this

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.