Stasiun Radio PDRI di Lintau Buo Utara, Dari Pentas Sejarah menuju Arena Teaterikal

November 8, 2015

Dimuat Singgalang, 8 November 2015 ||

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/peristiwa-sejarah-pdri-di-lintaubuo-utara-jalan-terjal-kemerdekaan-yengkie-bravo-juliet-6-penyambung-nadi-bangsa-hut-ri-ke-70/

17 Agustus silam, tepat sesaat setelah upacara peringatan detik-detik proklamasi di Lapangan Cinduamato, Batusangkar, peserta upacara dibuat terkesiap manakala dari keempat penjuru lapangan sekonyong-konyong “diserbu” oleh 200 orang dengan wajah coreng-moreng sembari memanggul bambu runcing. Dalam balutan musik heroik mereka berputar-putar membentuk gerakan artistik. Dari arah yang lain, tiba-tiba muncul sepuluh orang berpakaian tentara dengan tertatih-tatih menggotong sebuah benda hitam dengan tinggi mencapai dua meter. Benda itu dipikul bersama-sama sembari terus mengelilingi lingkaran manusia. Benda bertuliskan “YBJ-6” itu masuk ke tengah lingkaran dan diangkat dari tempat yang lebih tinggi. Hingga, dari segala penjuru benda itu menjadi pusat perhatian penonton. Teriakan “merdeka” seketika bersipongang di Lapangan Cinduamato.

Penampilan Teaterikal Kolosak Dijepret dari Udara

PEMENTASAN TEATERIKAL KOLOSAL

Deskripsi di atas merupakan bagian dari adegan penampilan teaterikal kolosal persembahan Kodim 0307 bekerjasama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau. Teaterikal perjuangan kemerdekaan yang mencoba menapaktilasi sejarah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia di Lintau Buo Utara itu digagas oleh Letnan Kolonel Arm Bagus Tri Kuntjoro, SH, selaku Dandim Kodim 0307 Tanah Datar dan disutradarai Agoes Tri Mulyono, SH, Kasubbag TU BPCB Batusangkar.

Tak tanggung-tanggung acara tersebut melibatkan pelbagai pihak. Sebagai pelindung Dandim Kodim 0307 Tanah Datar dan Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau. Penanggungjawab: Mayor Inf Defi Deflijun, S. Sos. dan Kapten Inf Yuliasman (Kodim). Asisten Sutradara: M. Yusuf, Bambang Rudianto, Azwar Sutihat, Ahmad Kusasih (Staf BPCB). Teknisi: Zulfian, A dan Purwanto (Staf BPCB). Penata musik dan pembantu naskah: Dafriansyah Putra (Staf BPCB) serta pembaca puisi Arinda Miranti.

Pengarahan Skenario

Sedangkan pelaku terdiri dari 210 orang berasal dari: pasukan Kodim 0307 Tanah Datar, Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI) Tanah Datar, Pemuda Panca Marga (PPM) Tanah Datar dan sejumlah pelajar dari: SMA 1 Lintau, MAN 1 Sungayang, SMK 1 Batusangkar, SMA 1 Pariangan, SMA 1 Rambatan, SMA 1 Batipuh, SMA 1 Salimpaung, SMA 1 Sungai Tarab, SMK 2 Batusangkar, SMA 2 Lima Kaum dan SMA Nurul Ikhlas.

Dengan menggaungkan judul “Jalan Terjal Kemerdekaan: Yengkie Bravo Juliet-6, Penyambung Nadi Bangsa” penampilan teaterikal kolosal ini mampu menyita perhatian banyak pihak dan pula media yang meliput.

Penampilan Teaterikal Kolosal

SITUS (TAPAK) STASIUN RADIO PDRI SEBAGAI TEMA

Dalam penampilannya, karya teaterikal ini mencoba merasuki marwah pejuang-pejuang PDRI utamanya ketika di Lintau Buo Utara. Hal ini didasari dengan tinggalan Cagar Budaya Situs (Tapak) Stasiun Radio PDRI yang berada di jorong Teratai, Nagari Lubuk Jantan, Kecamatan Lintau Buo Utara, Provinsi Sumatera Barat.

Peta Lokasi

Objek Cagar Budaya ini telah termaktub dalam Daftar Cagar Budaya Tidak Benda Provinsi Sumatera Barat 2015 BPCB Batusangkar dengan Nomor Inventaris 61/BCB-TB/A/12/2011. Dari pusat kota Batusangkar, untuk sampai ke lokasi ini mesti menempuh jarak kurang lebih 35 km. Secara astronomis objek ini terletak pada S 00˚ 26’ 10.2” E 100˚ 45’ 57.5”. 35.

Keberadaan situs ini erat kaitannya dengan serentetan perjalanan panjang perjuangan PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan RI pasca Agresi Militer Belanda II tepatnya pada tahun 1948. Meski telah tiga tahun Indonesia merdeka, kala itu, akan tetapi masih saja membentang jalan terjal untuk merasakan kemerdekaan nan hakiki. Belanda ingin mendapatkan kembali tanah jajahannya yang lebih dari 60 kali luas negerinya itu. “Indie verlore, rampspoed geboren” (Indonesia hilang, malapetaka datang). Mereka benar-benar mencamkan ungkapan tersebut, mengingat dari tanah dan peluh pribumilah mereka makmur.

19 Desember 1948, Yogyakarta yang menjadi Ibukota Republik berhasil dikuasai. Pemimpin negeri ditawan. Perjanjian Linggarjati dan Renville nyata dikhianati Belanda. Aggresi Militer II membara. Republik Indonesia dianggap tidak lagi ada. Beruntung, dari Yogyakarta, sesaat sebelum penangkapan, Soekarno masih sempat mengawatkan surat kuasa kepada Sjafruddin Prawiranegara di Bukittinggi,untuk segera membentuk Pemerintahan Darurat.

Namun, Bukittinggi pun tidak ketinggalan menjadi sasaran bidikan. Kompeni meradang! Pesawat mustang Belanda meliar di langit Bukittinggi. Bom pertama telah mereka jatuhkan. Masyarakat berhamburan. Bangunan-bangunan menjadi santapan keangkuhan. Sjafruddin Prawianegara pun dipaksa menyingkir ke Halaban dalam daerah Payakumbuh. Dari Halaban, 22 Desember 1948, diproklamasikan pendirian PDRI beserta susunan kabinetnya. Sejak saat itulah PDRI dianggap lawan yang mengancam bagi Belanda.Tokoh-tokoh PDRI mesti bergerak untuk menghindari serangan-serangan Belanda.

Radio Yengkie Bravo Juliet-6 dengan frekuensi 3035 KC/8 menjadi corong PDRI dalam mendengar dan memberi kabar. Alat ini mampu menerima dan mengirim radiogram dan juga memonitor berita dalam maupun luar negeri. YBJ-6 menjadi senjata menghadapi musuh. Belanda semakin merasuk ke pelosok wilayah. Belanda kian menusuk ke daerah pedalaman, terutama tempat-tempat yang diperkirakan menjadi lokasi persembunyian YBJ-6. Benar saja, karena seringnya mengudara, Belanda menangkap gelagat mencurigakan dari radio YBJ-6 melalui pengukur frekuensi radio yang dimilikinya.

Belanda lantas menyerang melalui darat dan udara. Rombongan PDRI kembali bergerak. Perangkat yang cukup berat itu kembali digotong bergerilya ke arah yang tidak menentu. Meskipun dengan berjalan kaki siang malam. Meskipun keluar masuk hutan demi keamanan. Demi menjauhi jejak dari kecurigaan Belanda. Demi menyambung napas perjuangan bangsa.Hingga, tibalah rombongandi Lareh Aia, Lubuak Jantan, Lintau Buo Utara.Tak peduli sekalipun perjalanan mesti menuruni tebing curam,menaklukan ngarai, menyeberangi jembatan gantung yang membelah aliran Batang Sinamar, yang deras, keruh dan riuh dalam amuk riam.

Akhirnya, di sebuah Rumah Gadang milik Inyiak Soma,di sanalah diinapkannya radio YBJ-6 selama tiga bulan, Januari hingga Maret 1949. Dari tempat itu pula, radio kembali dapat berhubungan dengan Sudarsono dan AA. Maramis yang tengah menghadiri konferensi PAN Asia di New Delhi. Disampaikanlah kondisi Indonesia yang masih ada sebagai negara berdaulat. Melalui tokoh-tokoh tersebut,disuarakan kembali keberadaan Republik Indonesia kepada PBB dan dunia Internasional

Secara arkeologis, di lokasi Situs (tapak) Stasiun Radio PDRI inilah dahulunya merupakan tempat berdirinya Rumah Gadang Inyiak Soma yang dipakai sebagai tempat dipancarkan dan disebarluaskan eksistensi Pemerintah RI melalui perangkat YBJ-6. Sehingga akhirnya PBB dan dunia internasional masih mengakui eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

BERKUNJUNG KE SITUS (TAPAK) STASIUN RADIO PDRI

Entah mengapa, jiwa saya seperti begitu terpanggil mengunjungi situs ini. Terlebih setelah terlibat dalam pembuatan naskah teaterikal kolosal yang secara langsung memaksa saya mencari banyak bahan bacaan tentang tinggalan Cagar Budaya dan serta merta mengetahui apa-apa yang melatarbelakanginya keberadaan situs tersebut. Maka, selang beberapa hari setelah penampilan teaterikal, saya coba kunjungi lokasi situs PDRI tersebut.

Agaknya benar adanya. Dalam naskah pementasan dikisahkan untuk membawa perangkat radio YBJ-6 menuju tempat yang dirasa aman, rombongan mesti menuruni tebing curam, menaklukan ngarai. Segala deskripsi tempat itu benar-benar terlihat adanya. Topografis lokasi yang cukup curam membuat kita dalam berkendara mesti awas. Kerap ditemukan penurunan yang cukup tajam, bahkan diselingi dengan tikungan. Aksesibilitas jalan menuju lokasi terbilang baik. Sebagian jalan sudah beraspal meski pada beberapa ruas terdapat kerusakan.

Selepas sebuah penurunan, saya akhirnya dihadapi pada bentangan jembatan gantung tua. Saya jadi ingat naskah itu lagi; tatakala rombongan menyeberangi jembatan gantung yang membelah aliran Batang Sinamar, yang deras, keruh dan riuh dalam amuk riam. Cukup berkeringat juga sekujur tubuh saya manakala mencoba menapaki jembatan tersebut, terlebih kondisi jembatan yang sudah tua dan lantai jembatan terlihat rapuh. Apalagi pada saat mulai memasuki jembatan, tiba-tiba terdengar suara seperti deruan panjang. Awalnya saya mengira memang ada kendaraan di belakang. Namun, setelah dilihat ternyata di ruas jalan itu tidak ada kendaraan apapun. Kembali mencoba mulai melewati jembatan. Lagi, suara serupa terdengar. Seketika saya menyadari, suara tersebur berasal dari jembatan yang memang sudah riskan untuk dilalui. Terlebih jika melihat ke bawah, aliran Batang Sinamar yang deras benar-benar memburu denyut jantung.

Jembatan Gantung Menuju Lokasi

Sayangnya untuk menuju lokasi situs, tidak terdapat penunjuk arah ataupun pertanda keberadaan lokasi situs, sehingga cukup kesulitan menemukan lokasi pasti sepenggal jejak masa silam ini. Beruntung, di sekitar terdapat rumah penduduk. Langkah tepat untuk saya bertanya karena kebetulan ada penduduk yang sedang di luar. Ternyata untuk menuju situs mesti melewati jalan tanah yang cukup sempit lagi. Memang tidak begitu jauh, setelah mendapati mushalla desa , berkisar 50 m lagi kita tiba pada lokasi.

Lokasi Situs (Tapak) Stasiun Radio PDRI

Jika dipandang sekilas, tidak begitu kentara perbedaan lokasi antara situs dengan lingkungan sekitar. Kecuali pagar yang memetaki sehamparan tanah yang cukup semak disertai dua buah pelang yang sudah kusam namun pada salah satunya masih dapat terbaca tulisan “Situs Cagar Budaya PEMANCAR RADIO YBJ-6”. Tak salah lagi, di tanah seluas 13 x 11 m itulah dahulu menjadi tapak stasiun radio YBJ-6 milik PDRI.

Pelang Penanda Situs

Sengaja saya biarkan telapak kaki saya telanjang, biar terasa, di tanah yang sama inilah lampau pejuang PDRI pernah berpijak. Saya coba embus napas dalam-dalam, sembari memejamkan mata beberapa saat. Seakan pesawat mustang bermoncong merah milik kompeni tengah melintas di langit Lintau. Pasukan PDRI sontak merunduk dalam debar cemas. Ah, jiwa saya masyuk dibimbing menuju lorong-lorong kontemplasi.

Kini, hampir tiga perempat abad kita bebas dari belenggu impreliasime. Sejarah telah mencatat pelbagai babak menuju hari ini. Akan menjadi sebuah ironi sekiranya kita bersikap apatis terhadap apa-apa yang terjadi pada masa silam. Saya teringat sebuah ungkapan: “Historia Vitae Magistra, Historia Me Absolvera” (yang terpenting bukan hanya bagaimana belajar sejarah, akan tetapi bagaimana belajar dari sejarah). Keberadaan benda maupun situs Cagar Budaya tidak semata menjadi sebentuk wujud dari masa lalu yang hanya dapat dipandang secara kasat mata. Akan tetapi banyak kedalaman nilai-nilai adiluhung yang penting untuk hari ini dan masa yang akan datang.

Saya perhatikan lagi setiap sisi tempat itu. Saya kembali memejamkan mata sekian detik…

*Tulisan ini merupakan versi lengkap dari pemuatan terdahulu di Singgalang edisi, 8 November 2015

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.