Diamku Teruntuk Tuhan

Oktober 2, 2011

Dimuat Singgalang Minggu, 2 Oktober 2011 ||

“Perkenalkan, namaku Wan Puto,” katanya, sembari mengulurkan kanan tangannya dengan lima buah jemari yang besar-besar lagi kasar, melebar ke arah lelaki tua berkopiah beledu di hadapannya.

Hanya dalam hitungan sekian detik, lelaki itu pergi meninggalkannya, tanpa sepatah kata, tentu saja tanpa memberikan balasan jabatan tangan kepada Wan Puto yang bernasib sial.

Senyuman yang ia cipta kini berganti komat-kamit menggerutu. Telapak tangannya yang terbuka lebar kini membulat membentuk sebongkah tinju: wujud dari kesal yang tak tertahankan. Mencak-mencak ia memijak tanah, kesal sendiri seperti orang kemasukan ruh jahat leluhur. Habislah rumput-rumput menjerit menjadi pelampiasan emosinya. Mukanya masam sempurna, di matanya berkobar-kobar sebentuk api liar yang terus tajam memandang punggung lebar lelaki tua berambut ikal itu, semakin jauh kian kecil, kemudian hilang dari batas akhir pandanganya. Tidak sebanding dengan emosinya yang kian mendaki menuju titik puncak.

Ternyata memang benar, cerita yang pernah ia dengar dari muncung orang sekitar—belakangan menjadi santap gunjingan paling hangat bagi ibu-ibu berdaster longgar di sekitar lingkungan. Bahkan kabar sang tuan tanah akan kembali rujuk dengan istri lamanya menjadi kalah heboh dengan yang satu ini. Menjadi fenomena baru, semua membicarakannya. Nama lelaki berkopiah beledu itu kian bertalu-talu dari satu gendang telinga ke telinga lainnya, sampai-sampai menjadi hapal bagi mereka di luar kepala.

Sifat dan lakulah yang membuat nama Angku Ludai dikenal semua orang. Namun hal itu biasa bagi Angku Ludai sang pembuat ulah, sumber segala sumpah serapah. Tak ada wujud apapun yang ia nampakkan dari rupanya yang kian menua, seolah beku rasa mati ekspresi, sebab telah biasa ia mendapati perlakuan seperti itu, sejak dulu, sejak ia memijakkan kakinya di muka bumi ini. Buah dari sifatnya, hingga saat ini tidaklah ia memiliki pendamping diri dalam kehidupannya. Sementara, ia nampak asyik menikmati liuk liku kehidupannya dengan caranya sendiri, meski usianya tak lagi muda. Ia tak memiliki teman, tak punya sahabat, bukannya orang tak mau berkawan dengannya, tetapi begitulah kemauannya. Sifatnya penyendiri, seolah dunia dicipta Tuhan teruntuknya semata.

Kepindahannya menjadi bukti ia ditentang oleh kehidupan sosial. Sifatnya yang dirasa aneh membuat masyarakat di tempat sebelumnya tinggal mengusir halus keberadaannya. Sebab, barang tak sedetikpun ia keluar dari rumah kecuali untuk membeli keperluan pangan kemudian bersembahyang. Entah apa yang dikerjakannya sendirian di dalam gubuk beratap rumbia peninggalan orang tuanya yang telah tiada. Pernah warga mencoba bertamu namun tidak sekalipun dibukakan pintu, sehingga tak sedikit yang curiga akan keberadaannya. Di dalam mushalapun ia sekedar bersembahyang lalu berdzikir kemudian pergi, tanpa jabatan tangan. Tak ada silaturahmi ia jalin dengan sekitar.

Hingga pada suatu senja menua, asap hitam tinggi mengibar, lidah api menjalar membakar gubuk kayu tempat dimana ia meneduhkan diri dari terik siang dan dingin malam, tempat ia menghabiskan putaran detik jarum jam yang setala dengan putaran bumi. Habislah seluruh harta bendanya. Kobaran api semakin meninggi gagah. Namun, tak sesosok manusiapun mencoba menolongnya. Hanyalah puing menjadi saksi kehidupannya.

Ketika api sudah bosan menelan papan-papan lapuk itu, tinggalah asap-asap kecil menyisa. Ia coba mengais-ngais sendiri berharap masih ada sesuatu yang bisa diselamatkan. Berkali-kali manusia lalu lalang di hadapan, namun tak secuilpun terbesit pada hati mereka untuk menolongnya. Di kemudian hari tersebar kabar, kebakaran yang melanda rumahnya adalah ulah segelintir orang yang curiga dan menyangkut-nyangkutkan gaib terhadap kelakuannya.

Berkali-kali lirih ia lantunkan sepotong kata pengaduan kepada yang maha kuasa. Tak setetespun tangis tercipta dari pelupuk matanya. Air mukanya tenang dan datar, seperti tak terjadi apa-apa. Inikah yang di sebut kesabaran tiada batas? Jika kita lihat kehidupan Nabi dan orang-orang sholeh lainnya, akan kita dapati kesamaan, memang kesabaran mestinya tiada berbatas. Segala tantangan dan ujian kehidupan haruslah dijalani dengan penuh keberanian, keyakinan, dan kesabaran. Berkait sikap kerelaan atas seluruh kejadian baik menyenangkan atau tidak karena suatu kesadaran ada ‘tangan’ Tuhan yang bekerja di sana. Manusia akan selalu diuji dengan berbagai bentuk kejadian maupun sikap orang-orang di sekitarnya yang menuntut kesabaran. Sampai akhirnya Tuhan akan mengajarkan arti kesabaran yang sesungguhnya.

***

Warisan peninggalan orang tuanya sangatlah banyak dan secara sah telah menjadi miliknya, sebab ia adalah anak semata wayang buah keluarga orang yang berada, kepada siapa lagi harta benda itu diberikan kalau bukan kepadanya. Dulu, ayahnya adalah seorang ulama sekaligus pejuang besar di ranah Sumatera. Tak ada yang tak kenal dengan Buya Kinantan. Pucuk Sabang sampai ekor Lampung seluruh orang takzim akan kehadirannya. Namanya terbilang unik. ‘Kinantan’ adalah sejenis ayam yang gagah dan memiliki keberanian, persis kegagahannya dan keberanian perjuangannya dalam menyebarkan syiar agama dan semangat perjuangan ditengah kondisi revolusi yang serba ketat. Serta merta dalam setiap dakwahnya, tak lebih separuh waktunya ia selipkan aura kemerdekaan kepada jamaah yang mendengarkan. Membara-bara ia memompa semangat perjuangan kedalam tubuh dan jiwa yang terjajah. Akhirnya, kematiannya pun berujung pada jalan surga.

Kala ia berdakwah di ranah minangkabau, tepat di atas mimpar surau Gubuak. Selongsor pelor mematuk lekuk raganya, mata-mata Belanda yang membuntuti aksinya dengan menyamar menjadi bagian dari jamaah merasa tak senang kepada kalimat-kalimat dahsyatnya. Buya Kinantan yang revolusioner itu kemudian menjadi santapan lezat harimau loreng yang kelaparan setelah tubuhnya dibuang ke dalam semak belantara.

Setelah peristiwa kebakaran silam, hampir seluruh harta benda peninggalan orang tuanya ludes menjadi abu. Tidaklah semua, sebab sebagian besar emas batangan sebesar telapak tangan tersimpan rapi di timbunan tanah dekat parak tebu. Dari barang-barang itulah ia mencoba melanjutkan kehidupan dengan tinggal di gubuk pengap berdinding kardus dan plastik di perkampungan dekat sungai. Kehidupannya telah berubah, namun tidak bagi sikapnya.

***

Tampak lelaki paruh baya berkopiah beledu tengah asyik menikmati dzikir di awal pagi yang meninggalkan lembab pada hujan lebat semalaman. Akibat hujan itu sebagian besar perkampungan yang mengarah ke bibir sungai terdendam banjir dahsyat, berpuluh-puluh senti air meninggi menghanyutkan harta benda dan tak sedikit tubuh yang hanyut terbawa arus. Namun, tidak bagi istana mungil Angku Ludai, hanya cipratan riak mengombak membasahi tepian. Tigapuluh tiga bulatan tasbih berpindah silih berganti mencicipi kecupan kecil dari telunjuk dan ibu jarinya. Nafasnya terseret kedalam lafaz-lafaz kesucian hati yang ia cipta, sesekali suara angin mengguncang atap rumah itu, namun dzikir amali yang ia lisankan tak kalah menggelegar.

Lelaki itu tidak melihat tanda-tanda bahwa masyarakat sekitar perkampungan yang baru ia huni merasa terusik melihat sikapnya, termasuk Wan Puto, lelaki yang ia temui di mushala beberapa hari lalu. Kekesalan akibat sikap acuh Angku Ludai tempo hari masih meradang di puncak ubun-ubunnya. Hingga tak jarang ia berkoar menumpahkan cerita tentang kekesalannya kepada orang-orang seisi lepau selepas bermain domino.

Terlihat Wan Puto tengah berjalan bersama dua orang asing, di kanannya seorang lekaki kekar berkaus hitam sempit, nampak jelas di tiap lekuk kulit otot besarnya bersemayam rupa raja naga tengah menganga. Dan seorang lagi serupa dengan lelaki berkaus hitam itu namun di kanan tangannya ia menggenggam sebuah linggis berat sedikit berkarat. Mereka berjalan tergesa menuju arah pinggiran sungai kemudian berhenti tepat di halaman sebuah gubuk berdinding kardus. Tak salah lagi itu rumah Angku Ludai.

“Hoiii… Angku Ludai, keluarlah!” seorang dengan suara parau memanggilnya keluar.

Namun barang sedetikpun tak ia gubris, ujung janggutnya yang meruncing tetap bergerak naik turun seirama komat-kamit gerak mulutnya. Sama halnya pada tempat ia tinggal sebelumnya, tidak akan ia coba membuka pintu rumahnya kepada tiap orang yang datang, sekalipun untuk menjalin silaturahmi dengannya.

Terperanjat kalut Angku Ludai kala triplek, papan berlapis tiga yang menjadi palang masuk rumahnya, kini rusak tak tentu bentuk sebab ditendang kuat oleh seorang dari lelaki berkaus hitam.

“Sombong sekali kelakuanmu! Baru tinggal beberapa hari di kampung ini, tak mau kau membaur dengan masyarakat. Bahkan jabat tanganku tempo hari kau acuhkan begitu saja. Apa yang kau banggakan?!” meninggi suara Wan Puto. Matanya membelalak tampak bulatan hitam sempurna tercipta dari biji matanya yang ganda.

Perlakuan lain malah yang didapati Wan Puto. Tak secuilpun suara tercipta dari mulut Angku Ludai, yang terdengar hanya nada rendah dari getar pita suaranya— diwujudkan pada gerak bibir menarikan puji-pujian kepada Tuhan yang diucapkannya berulang-ulang.

Mendapati pertanyaannya tak dijawab air muka Wan Puto makin memerah, tangannya ligat menyambar kerah baju Angku Ludai, diremasnya dengan kasar leher baju itu.

“Aku mendapat laporan dari warga, mereka resah dengan sikapmu. Jangan-jangan kau menyimpan sihir! Kalau tidak mengapa gubuk burukmu tak ikut tersapu banjir dahsyat semalam!” rentetan cercaan keluar dari mulut Wan Puto. Sesekali butir-butiran ludahnya membasahi muka Angku Ludai.

Selalu orang menghubungkan sifat Angku Ludai dengan perihal gaib, di lingkungan lamanya dulu, juga di sini, Tak ada beda. Sepertinya mendekati akhir zaman, orang yang memiliki pandangan sendiri dalam beragama akan di anggap aneh bahkan gila. Memang, agama layaknya sebuah sistem yang mengatur tata keimanan dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Namun filosofi agama lebih jauh dari itu, menyangkut tentang keyakinan di dalam sanubari.

Emosinya semakin memuncak, sebab tak satupun jawaban keluar dari mulut Angku Ludai. Kemudian diraihnya linggis dari tangan lelaki berkaus hitam ketat yang sedari tadi siaga di belakang punggungnya. Sontak ia arahkan benda berat itu ke pundak Angku Ludai yang serasa menjadi sasaran empuk. Namun dengan gerakan tiba-tiba tanpa rancang, Angku Ludai mampu mengelak tepat sejengkal arah sasaran. Kembali serangan bertubi-tubi melesat laksana kilat, ia ayunkan lagi besi berat itu namun sia-sialah usahanya, sebab peralihan tempat lincah yang diperagakan Angku Ludai nyaris sempurna. Laksana gerakan ular, ligat ia seperti menari rantak menanggapi serangan-serangan yang dibangun Wan Puto hanya sekedar pemainan murahan. Tak sekalipun menyerang, hanya bertahan lalu bertahan kemudian bertahan. Entah paham pendekar mana lagi yang ia anut.

Kini dua manusia kekar mencoba menghentikan gerakannya. Nganga naga yang melekat di lengan mereka seolah makin membesar dan mengekar. Diayunkannya lengan kanannya tepat ke arah dada Angku Ludai. Apalah daya kuda-kuda yang dibentuknya kokoh kini timpang, sebelah lututnya pincang tak lagi tegak. Duk! Sebuah hantaman keras tiba-tiba datang dari belakang, membuat tenaga Angku Ludai lenyap. Tubuhnya jatuh seketika.

Mulut Angku Ludai bergerak, seperti bicara. Tak jelas apa yang diucapkannya, tapi yang pasti kalimat yang keluar dari mulutnya kini bukanlah lafaz ketuhanan yang biasa ia ucapkan. Mereka coba dekati tubuh yang terbaring itu dan mencoba mengeja suaranya.

“Diamku teruntuk Tuhan. Aku tak ingin menyerahkan tubuh dan jiwa kepada perihal duniawi. Semakin kumencumbu dunia, semakin kumerasakan kenikmatannya.”

Mentaripun menepi menjadi saksi langkah hati yang ia miliki.

Dua tiga langkah kemudian orang-orang itu berlalu dari hadapan Angku Ludai. Kini tinggalah tubuh lelaki tua itu tergoleh lemah di sudut ruang pengap dengan luka memar menyinggahi sekujur tubuhnya. Sambil terus merajut bayang-bayang Tuhan.

Padang, 21 Agustus 2011

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.