Harta Karun Rimbo Pato

November 20, 2011

Dimuat Singgalang Minggu, 20 November 2011 ||

“Ah, sudahlah Ponai. Berapakali ku bilang, mana mungkin ada harta karun di tempat ini. Untuk apa kau percayai mimpimu itu. Imajinasimu terlalu tinggi membumbung dan akhirnya kau terjebak sendiri di dalamnya. Sudahlah, ayo kita pulang.”

Tak ada tanggapan, bocah tak berbaju itu malah semakin ligat merebahkan ilalang-ilalang yang lebih tinggi dari kepalanya yang mengganggu laju perjalanan. Lalu mereka meneruskan langkah menyusuri setapak tak bertuan. Belum ada seorangpun manusia pernah membekaskan jejak di sekitaran tempat ini. Tak lain kabar bahwa Rimbo Pato adalah sarang tidur har

imau loreng telah membawa masyarakat tak berani menyusurinya. Namun, hutan ini tidak perawan lagi, dua orang bocah telah menggagahinya.

Sejenak mereka berhenti tepat di bawah pohon beringin besar yang sesekali akar gantungnya bergoyang sesuka laju angin. Mereka bersandar pada batangnya yang meliuk jalin. Sepertinya rasa pegal telah mendekap tubuh mungil itu. Bagaimana tidak, perjalanan ini terlalu berat untuk ukuran mereka.

“Sudahlah Ponai, tak akan kita temukan itu harta karun. Coba kau pikir, mana mungkin kakekmu mau-maunya menimbun harta di tempat seperti ini. Untuk memasukinya saja sulit. Kau lihat semak sebelah sana, aku yakin harimau loreng pasti sedang terlelap tidur,”

“Sssttt… jaga bicaramu. Aku tak tanggung jawab ya jika harimau yang kau sebut itu datang kesini karena merasa terganggu akibat ocehanmu yang tiada henti. Lagipula keberadaan harimau loreng itu hanya kabar belaka.”

Sekejab bocah yang sedari tadi rajin mencipta omelan itu kini terpaku seperti pendekar terkena totok. Mulutnya mengatup serapat mungkin. Perlahan peluhnya menetes. Mukanya mendadak pucat.

“Kenapa? kamu takut ya?” tanya Ponai kala mendapati gelagat takut dari roman sahabat yang ia minta menemani perjalannya.

Tak ada jawaban dari bocah itu, hanya sekali geleng kecil berputar dari bulat kepalanya.

Lama kelamaan tubuhnya semakin basah saja. Dan. Ah, kini celananya ikut basah akibat kencingnya sendiri.

“Aduh… Baran! Baru aku gertak sedikit saja sudah begini kejadiannya. Sudahlah, kita pulang saja.”

***

Kali ini Ponai berencana kembali menuntaskan misinya menemukan harta karun di Rimbo Pato. Pastinya, ia akan berangkat sendiri. Membawa Baran sama saja dengan membimbing anak cerewet  dan penakut ke tengah hutan. Padahal sebelumnya ia berharap banyak pada Baran untuk menjaga perjalanan, sebab Baran telah diajarkan silat oleh ayahnya. Ayah Baran adalah guru yang disegani di perguruan Silat Lintau. Tapi setelah kejadian kemaren, mustahil rasanya Baran akan berani menghadapi harimau loreng yang konon kabarnya akan muncul tatkala manusia memasuki rimbanya.

Tubuh kecil itu berjalan gagah menelusuri arah yang kemarin sempat dilaluinya. Perjalanan kemarin rasanya barulah sekedar pintu gerbang bagi itu rimba, sedangkan untuk menuju ke tengah rimba tak sedikit rintangan yang akan menghadang, bisa jadi salah satunya bertemu harimau loreng. Namun, tak ada gurat kecemasan sedikitpun, malah sesekali bocah itu menyibak sebersit senyum. Sepertinya, di dalam kepalanya kini, sudah terbayang batangan-batangan emas sebesar telapak tangan.

Tiga hari lalu, ia pernah mendapat amanat dari Gaek Mahia, yang tak lain adalah kakeknya sendiri. Bahwasanya di tengah Rimbo Pato, tiga langkah arah selatan dari sebuah batang jati paling besar, kakeknya itu pernah mengubur sebuah kotak yang berisi berbatang-batang emas.

Dulu, Gaek Mahia adalah adalah orang yang kaya raya. Bagaimana tidak, ia adalah seorang pribumi yang dijadikan Belanda sebagai mata-mata. Pastinya Meener Belanda akan boros membagi kepeng kepadanya asal informasi yang mereka butuhkan tercapai. Namun, karena kebodohannya sendiri Gaek Mahia mati terbunuh senjatanya sendiri, manakala Belanda membekalinya sebuah senjata api.

Dasar manusia pekak, ia lupa bahwa di dalam senapan itu telah diisi peluru, malah ia berlagak di hadapan warga pribumi, apalagi kalau bukan perihal hadiah berharga itu. Ya, berharga sebab tak sembarang orang memiliki senjata itu. Dor!!! Tiba-tiba saja saat menekan kokang pistol ke arah keningnya sendiri, sebuah peluru panas secepat kilat menembus kepalanya sendiri. Senjata itu telah memakan sang tuan.

Tak peduli bagi bocah itu medan berat menghambat laju langkahnya. Dengan berbagai cara ia coba temukan liku nan lain. Namun tidak untuk yang satu ini, bebatuan tersusun sebesar badan kerbau tepat dihadapannya, sedang di kiri dan kanan jurang siap menelan. Tak ada jalan lain kecuali memanjatnya. Dengan sigap bocah bertubuh kecil itu menaikinya. Tampak ia kesulitan menaklukan medan yang tidak wajar untuknya. Layaknya seekor laba-laba kelaparan, ia terus berusaha menggapai batuan-batuan yang menonjol untuk membantunya menuntun langkah. Ah, sebuah pecahan batuan rapuh dan menggelinding. Jika tak cepat mengelak, barang keras itu akan tepat menghantam batang hidung sang bocah.

Tak ada yang mengira bocah itu berhasil menaklukannya. Tapi kenyataannya berbeda. Raut wajahnya kegirangan, jiwa petualang sepertinya berhasil membimbingnya dalam keyakinan dan keberanian pasti. Memang, sejatinya itulah bekal dasar yang harus dimiliki oleh seorang petualang.

Matahari sembunyi di balik iringan awan menghitam, sinarnya takluk oleh rinai yang semakin lama kian melebat. Malang bagi bocah itu, tubuhnya kuyup kebasahan. Apalah daya tak ia temukan sesudut ruang peneduh, pun selembar daun pelindung tubuh. Tak kenal kata menyerah, bocah itu terus memastikan langkah. Tidak berapa jauh lagi ia akan sampai tepat di tengah rimba. Dalam pikirannya bayangan emas batangan itu semakin jelas.

Hujan semakin deras tak sesaat pun menyisakan jeda. Bocah itu menggapai-gapaikan kedua belah telapak tangannya guna membimbing langkah sambil terus berusaha menyibak belantara ilalang. Sesekali punggung tangan menyapu sekitaran matanya yang terbasahi. Kabur, hanya itu yang tampak di sekelilingnya, sebab kabut dataran tinggi makin menebal setara suhu yang kian menurun ke titik terendah. Langkahnya kini terbata, tak seperti tadi tegas meyakini.

Bocah itu kehabisan daya, tenaganya terkuras. Namun apa yang dilihatnya. Tepat dihadapannya ia mendapati sebatang jati yang besar. Sepertinya itu batang jati yang disebut Gaek Mahia dalam mimpinya. Penasaran, ia dekati pohon itu. Kemudian ia melangkah tiga langkah menuju arah selatan. Dengan dibantu samar-samar tubuh matahari yang kian menepi, ia coba terka arah yang dimaksud. Jantungnya kian berdebar, raut mukanya gelagatan dalam harap dan cemas tak menentu.

Alangkah terkejutnya ia kala mendapati tulang belulang yang berserakan dimana-mana. Tak mau berpikiran panjang, segera ia gali timbunan tanah tepat di titik pijakannya, berharap segera menemukan emas batangan sebesar telapak tangan. Dari dalam hati ia terus mencoba menenangkan keadaan, pikirnya meyakini itu adalah belulang binatang mati karena kalah berkelahi. Tak mau ia berpikir yang lain-lain.

Peluhnya menetes bersama butiran-butiran hujan yang kian deras. Sesekali petir menggelegar, bersamaan lolongan panjang serigala hutan. Rasa cemas makin menggelantung di diri bocah itu. Namun ia mencoba memusatkan diri pada galian tanah yang lama-kelamaan makin dalam ia lubangi. Tak ada sebentuk benda pun di dalam, padahal hampir dua kali tinggi badannya tanah yang telah ia gali.

Tiba-tiba saja muncul sesosok bayangan mendekati bocah itu. Aum! Seekor harimau loreng telah menelan tubuh bocah itu hingga habis. Menyisakan tulang yang membaur bersama tulang-tulang lainnya yang sebelumnya sempat ditemukan oleh bocah itu. Sesungguhnya tulang-tulang itu adalah sisa santapan harimau loreng dari tubuh Gaek Mahia kala dulu jasadnya dicampakkan masyarakat pribumi jauh ke tengah rimba. Masyarakat tak mau jasad busuk penghianat dikebumikan bersamaan dengan rakyat pejuang yang mati berjuang menegakkan kemerdekaan.

Hujan mulai reda, menyisakan sesekali gemuruh kecil. Gelap yang menyelimuti awan beransur hilang, menampakkan cokelat berpadu merah dalam balutan senja. Sepertinya harta karun yang dijanjikan Gaek Mahia adalah kisah yang membawa belulang cucunya berpadu bersama tulang-tulangnya di tengah Rimbo Pato.

 Padang, 28 Oktober 2011

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.