Eksistensi Cagar Budaya dalam Kepungan Pembangunan

November 13, 2016

Dimuat Singgalang, 13 November 2016 ||

Eksistensi Cagar Budaya kian hari secara langsung maupun tidak langsung beransur-ansur mengalami pengikisan. Baik dalam artian fisik maupun nilai-nilai yang dimilikinya. Fenomena demikian kerap ditemukan, utamanya pada daerah-daerah yang mulai berkembang.

Pesatnya kemajuan dan perkembangan suatu wilayah kerap diidentikkan dengan semakin giatnya pembangunan fisik dan serta dibarengi tuntutan aktivitas masyarakat yang kian meningkat. Terlebih, pada wilayah-wilayah yang berada dalam tahap mulai berkembang. Pembangunan seakan menjadi menjadi angin segar yang menguatkan citra metropolis yang sarat akan gengsi modernitas.

Namun, keadaan yang terjadi belakangan, keterbatasan sumberdaya dunia pada kenyataannya berbanding terbalik dengan gagasan untuk menguasai. Pembangunan—dalam perspektif ekonomi— seakan semata mengandalkan “lengan besi” ekskavator. Raungan mesin-mesin baja raksasa dengan angkuhnya tanpa tedeng aling akan merusak dan meruntuhkan apa saja yang menghalangi niat ekspansi para kapitalis. Bahkan bukan tidak pernah terjadi, untuk ketersediaan lahan yang memadai, suatu objek Cagar Budaya—sebuah benda mati yang barangkali dianggap pengganggu lantaran berdiri di atasnya—dengan semena-mena diluluhlantakkan. Demi menjual kehendak tampilan yang sarat akan kemutakhiran konsep arsitektural, maka benda kuno di sekitar yang hanya akan mengganggu keeleganan suatu objek lekas diberantas. Ah, terdengar cukup hiperbolis, namun demikianlah kenyataan yang terjadi belakangan.

Keberadaan suatu objek Cagar Budaya di tengah-tengah ataupun sekitar ruang aktivitas pembangunan sejatinya memang amat rentan akan dampak dari pelaksanaan kegiatan teknis pembangunan. Entah itu menyentuh langsung pada fisik objek Cagar Budaya (merusakkan keseluruhan maupun sebagian), serta dapat pula memengaruhi lingkungan yang bersalin rupa tanpa menyelaraskan dengan lansekap budaya suatu Cagar Budaya. Pengaruh perusak eksternal yang akan terasa langsung pada fisik objek Cagar Budaya, salah satunya bersumber dari pelaksanaan kegiatan konstruksi di sekitar. Misalnya pada saat pemasangan tiang pancang. Getaran dan hentakan yang ditimbulkan alat berat akan menghasilkan getaran pada tanah sekitar. Selain itu suara yang bising jelas tak akan bisa dibendung. Hal-hal tersebut, sedikit banyaknya, akan turut memengaruhi kondisi fisik objek Cagar Budaya yang ada di sekitar. Terlebih, jika objek merupakan tinggalan dengan bahan pembentuk fisik yang telah berusia ratusan atau bahkan ribuan tahun. Upaya konservasi untuk mengatasi kehancuran yang semestinya dilakukan malah sebaliknya: upaya mendegradasi kualitas substansi materi bangunan secara perlahan.

Tod Jones dalam bukunya Kebudayaan dan kekuasaan di Indonesia menuliskan: “Indonesia perlu dilatih dalam estetika untuk melihat untuk menghargai benda-benda yang berharga secara budaya. Melalui proses perolehan apresiasi estetik dan belajar untuk menghargai nilai penting historis benda-benda dan nilai, masyarakat pun akan melihat diri mereka sebagai orang Indonesia.” Agaknya benar apa yang disangkalkan oleh dosen senior Curtin University, Autraslia yang memiliki minat meneliti kebudayaan Indoensia ini. Nilai-nilai penting dari tinggalan Cagar Budaya yang semestinya menjadi cermin yang akan melihat diri mereka sebagai orang Indonesia¸mengutip persis kalimat Tod Jones, malah diabaikan oleh tangan-tangan manusia Indonesia sendiri.

Dengan mengatasnamakan pembangunan, manusia terkadang buta akan sisi kemanusiaannya yang sejatinya amat membutuhkan nilai-nilai kontemplatif yang membawa diri mereka hadir sebagai sesosok tubuh. Cagar Budaya, akan menjadi salah satu titian yang mengantarkan jiwa manusia melekat kepada tubuh, hingga pada akhirnya tubuh akan membentuk suatu wujud universal, kelak dinamakan sebagai manusia berbudaya.

Memang, menjadi dilematis tersendiri jika dihadapkan antara pembangunan yang membawa dampak positif bagi masyarakat, dengan tuntutan pengembanan amanat pelestarian Cagar Budaya sebagaimana yang dipesankan dalam Undang-undang. Namun, dalam pada itu, kita pun tidak dapat menjustifikasi bahwa suatu objek Cagar Budaya mesti steril sepenuhnya tanpa deru-debu pembangunan. Sebab, jika ditilik dari sudut pandang yang berbeda, pembangunan misalnya yang dilangsungkan di sekitar objek Cagar Budaya, semestinya akan dapat memperbaiki kualitas, menguatkan keberadaan suatu objek Cagar Budaya, serta dapat pula menjadi penarik minat untuk kemudian mengunjunginya. Tentu saja, jika pembangunan-pembangunan tersebut dilandasi kesadaran akan nilai-nilai penting dari kelestarian objek Cagar Budaya

Ketika pembangunan menjadi sebuah keinginan bersama, sedangkan di sisi lain ada tuntutan untuk mempertahankan keberadaan fisik suatu objek Cagar Budaya yang kebetulan direspon sebagai penghambat aktivitas pembangunan, maka untuk mengurai benang kusut atas fenomena-fenomena serupa di atas, fungsi pengembangan dan pemanfaatan Cagar Budaya dapat menjadi pelerainya. Merujuk kepada Undang-undang No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, adaptasi sejatinya dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masa kini, akan tetapi dengan catatan: tetap mempertahankan ciri asli objek. Jika lingkungan sekitar objek Cagar Budaya mengalami perkembangan dengan dibangunnya kafe-kafe maupun pertokoan, misalnya, maka sebuah bangunan kolonial yang kebetulan berada persis di antara aktivitas lingkungan pun tentu akan amat memiriskan manakala hanya dibiarkan menjadi bangunan tua yang tak berpenghuni dan akan menimbulkan kesan menyeramkan bagi siapapun untuk memasukinya.

Upaya adaptasi dapat dilakukan dengan membentuk sekat-sekat ruangan dan mengolah interior bangunan semenarik mungkin, layaknya bangunan kafe. Sedangkan langkah revitalisasinya ialah dengan memberikan fungsi baru bangunan sebagai kafe. Pada  dasarnya adaptasi dan revitalisasi dilakukan untuk menumbuhkan nilai-nilai penting Cagar Budaya dengan fungsi baru yang tidak bertentangan dengan prinsip pelestarian. Malah, dengan kehadiran ruang dan fungsi kafe yang mengetengahkan gaya arsitektur kolonial seperti ini misalnya, tentunya akan menjadi kesan tersendiri yang menarik minat pengunjung. Dan pula secara tidak langsung, sedikit banyaknya akan turut menimbulkan keingintahuan pengunjung akan latar sejarah yang mengiringi kehadiran bangunan tersebut. Maka kesadaran akan betapa luhurnya buah karya peradaban yang diwujudkan melalui suatu objek Cagar Budaya kelak akan terasa dengan sendirinya.

Kita akan diajak menilik aspek guna objek Cagar Budaya tersebut. Memang pada mulanya bangunan hadir sebagai ruang untuk mempertahankan kehidupan pada masa manusia hidup dengan cara nomaden. Pada awal peradaban manusia merasa membutuhkan tempat berlindung dari serangan binatang buas maupun kondisi alam. Tuntutan keterancamanan ini serta-merta menjadi pemantik gerak pikir untuk merasa butuh tempat berlindung. Hingga, perkembangan pola pikir manusia turut berkorelasi dengan perkembangan kebutuhan manusia yang menciptakan fungsi bangunan lebih dari sekadar tempat bernaung. Selain fungsi penggunaan yang beragam, tinggalan bangunan memiki karakteristik tertentu pada bahan pembuat bangunan. Utamanya pada bangunan tradisional, bahan pembentuk konstruksi umumnya merupakan bahan-bahan yang terdapat di alam. Kemudian seiring perkembangannya, materi pembentuk dan seni bina bangunan pun turut mengalami perkembangan. Bangunan Cagar Budaya memang dituntun untuk menyuguhkan keaslian bentuk fisik. Namun bersamaan dengan hal tersebut, pentingnya upaya menghidupkan nilai-nilai yang mengendap pada bangunan tersebut meski digalakkan.

Selain kesadaran akan betapa berharganya nilai-nilai yang melingkupinya, kehadiran suatu objek Cagar Budaya yang tetap hidup dengan segala aktivitas manusia di bawah naungan atapnya, akan menjadi semacam ruang nyata yang membawa pengunjung pada saat ini (perwujudan internalisasi: upaya mencerap dari realitas objek yang telah diciptakan; budaya menciptakan manusia) seakan-akan merasa berada di dalam masa lalu bersewaktu pada saat bangunan dimanfaatkan sebagaimana mulanya (perwujudan eksternalisasi: pencurahan diri melalui aktivitas; manusia menciptakan tinggalan kebudayaan).

Pengembangan dan pemanfaatan objek Cagar Budaya berbasis pelestarian mustahil akan dapat bergulir tanpa adanya dukungan penuh dari pelbagai pihak. Perlu kiranya dilakukan pendekatan dan penekanan fungsi sekaligus peran dari masing-masing lintas sektoral dalam bentuk sinergitas pemikiran, kesamaan konsep dan visi yang akan dicapai. Bahkan peran utama ada pada masyarakat, khususnya yang berada di sekitar keletakan objek. Sebab pada dasarnya, tinggalan Cagar Budaya adalah milik masyarakat. Nilai-nilai dari tinggalan tersebut, tak dapat disangkal, adalah bukti nyata atas serangkaian perjalanan panjang dengan pelbagai pola dan proses pembentuk hari ini yang dilahirkan oleh masyarakat pada masa tersebut. Sehingga, menjadi sebuah kemutlakan bahwa Cagar Budaya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat pada khususnya, maupun wilayah sekitar pada umumnya. Untuk itu, pelestarian terhadap objek Cagar Budaya bukan hanya menjadi sebuah keniscayaan yang dikekang oleh aturan-aturan semata, namun upaya pelestarian terhadap tinggalan masa silam tersebut semestinya terlahir dalam diri siapa saja. Mempertahankan fisik Cagar Budaya dan nilai-nilainya hendaknya menjadi kesadaran manusia yang sejatinya hidup dari dan di atas landasan kebudayaan.

(Dafriansyah Putra, Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat, wilayah kerja Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau)

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.