Engku dan Kucing Pincang di Pertarakan

September 28, 2016

Dimuat HALUAN, Minggu, 28 September 2016 ||

Kuda putih berbuntut amboi itu, duhai, sekonyong-koyong meringik panjang, serentak sentakan temali dari seseorang dari atas pundaknya. Suara itu sontak membuat sekawanan gereja di tanah, tengah mematuk bebatuan entah, terperanjat dan lalu lepas landas menuju batang tenggerannya.

“Kenapa berhenti mendadak, Tuanku?” seseorang di lain kuda memandangi penunggang kuda putih itu dengan heran.

Tiada jawaban. Lama. Gaek di atas kuda itu seakan tidak mengacuhkan. Sang murid yang di sampingnya itu nampak mafhum, ia tak nyiyir dan lantas mengulang kembali perkataannya. Melainkan, dengan begitu takzim, ia amati setiap gerakan kecil dari mulut seseorang yang ia panggil Tuanku itu.

Kecuali selepas subuh atau tengah malam-malam tertentu, sesungguhnya amat jarang sang murid menyaksikkan langsung gurunya itu merapal mantera dalam pejaman mata lahir yang amat khusyuk. Dan lagi, pada situasi yang mendadak seperti ini: dalam pertengahan perjalanan. Ada apa sebenarnya?

“Selamatkan aku, aku tubuh, aku ruh, aku utuh, aku luruh, aku rapuh, dari kerak panas Jahanam!” Demikian lelaki tua itu berucap lantang, seraya kembali membuka mata.

Alih-alih memberi penjelasan, Tuanku lekas menarik kekang. Bukan melanjutkan perjalanan, tapi memutar haluan. Kembali ke arah pulang. Tuanku berdecik. Kuda meringik. Rasa penasaran makin bergelayut dalam diri sang murid. Sebuah tanda tanya seakan membetuk arca besar yang serta-merta menindihnya.

Namun, dalam kearifannya, ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Pemuda itu pun menarik tali kekang. “Hiee…”. Kuda melambung kencang, seperti kenyataan meninggalkan angan.

***

Tuanku tentu tak mungkin lupa, ini adalah purnama malam ke duabelas. Sembilan rekannya dari segala penjuru mata angin pastinya kini telah sampai. Di puncak Ngalau Tompok, di puncak kudus yang senantiasa menjadi latar bagi perkumpulan sepuluh Wali Bumi.

Tuanku tentu tak mungkin lupa, pada ikrar yang pernah dipatrikan antara para Dasawali tersebut. Kesempuranaan adalah keutuhan. Kurang esa, arti ketimpangan. Bukankah alam akan murka jika isinya tak lagi saling menyeimbangkan.

Tanpa kehadiran satu wali, tiadalah artinya kesembilan wali. Pemuda itu masih ingat gurunya pernah berucap demikian perihal kekuatan Dasawali.

“Sepuluh, sejumlah jari tangan. Sepuluh, sejumlah jari kaki. Dengan sepuluh kau akan mampu menggenggam. Dengan sepuluh pula kau akan dapat melangkah. Dan, sejatinya, sepuluh, kekuatan!”

Lantas apa yang akan terjadi nantinya jika Tuanku tidak datang. Adakah benar apa yang pernah didengarnya dari gurunya itu: sebelum genap kesepuluh Wali Bumi duduk melingkar pada kursi batu di puncak Ngalau Tompok, selama itu pula mereka akan tetap menanti dengan diam. Tanpa saling sapa, tanpa saling senyum. Hanya pandangan kosong sebagai perwujudan yang tampak kasat atas ketafakuran mereka menyelusuri ruang atma.

Sementara semesta meminta pertemuan semestinya segera diselenggara. Demi keselamatan ribuan wira di Lereng Gantiang. Mengingat, pasukan Harimau Ledeang dengan jurusnya yang mematikan telah berhasil melumpuhkan pertahanan wilayah. Maka, dengan berkumpulnya Dasawali Bumi, dalam sebuah kekuatan, kelak mereka diyakini mampu menggebuk balik pasukan Harimau Ledeang.

Kuda putih berbulu amboi milik tua berjanggut itu terus meninggalkan jejak di setapak rimba. Menyusul muridnya di belakangnya ikut melaju. Apa sebenarnya yang ada di pikiran Tuanku. Mengapa mesti kembali ke pertarakan sekarang juga? Adakah sesuatu yang lantas mendasari Tuanku untuk kembali? Sementara perjalanan menuju bukit Ngalau Tompok sejatinya tak sampai setengah hari lagi. Paling tidak, lepas dakian dua bukit lagi akan mulai tampak julangan trembesi yang menjadi khas Ngalau Tompok. Apa artinya perjalanan selama ini yang tidak sebentar telah ditempuh. Berbilang malam. Berganti panas dan hujan. Namun dengan perjalanan kembali ke pertarakan itu berarti segala berujung pada kesia-siaan.

Ah! akan tetapi, tampaknya kesia-siaan hanya pikiran bagi muridnya semata, tapi tidak bagi sang guru. Dengan lantangnya tua berjanggut itu terus berdecak. Kuda putihnya terus melompat. Dan ekornya itu, amboi melentik.

***

Langit perlahan legam. Gemuruh riuh rendah mulai terdengar. Seiring berikutnya, titik-titik air bersilaju menembus permukaan bumi. Dua ekor kuda masih lincah beriringan membelah setapak rimba raya. Dan bulu putih pada kuda di depan, sesekali menggelepakkan buntutnya yang mulai dibasahi hujan yang kian deras.

“Tuanku, hujan terlampau lebat. Kuda-kuda kita mulai kesulitan menembusnya. Ada baiknya kita cari dahan peneduh barang sejenak.” Berseru murid dari belakang. Satu tangannya melap muka yang sarat basah, sementara kanannya cekatan menahan tali kekang yang mulai liat, lantaran kuda mulai gelisah oleh siraman hujan yang makin basah.

Alih-alih menyerongkannya laju kuda ke sebuah gubuk yang kebetulan mereka lewati dan lantas berteduh di bawah jalinan daun rumbianya, lelaki tua itu malah terus melaju mesti kuda yang dikendarainya pun mulai kewalahan melawan hujan. Terpaksa, sang murid pun mengikuti keras hati gurunya.

Semakin perjalanan dilanjutkan, semakin hujat bertambah lebatnya. Kali ini diikuti lesatan kilat dan suara petir yang saling bersahutan. Bahkan berkali-kali petir terdengar begitu kerasnya oleh sang murid. Beberapa jenak dilihatnya cahaya berkelebat dan menembak lagi. Kali ini tepat ke puncak kelapa yang tak jauh dari ia melintas. Petir menyahut perkasa.

Pemuda itu merasa hujan ini bukanlah sifat alam sedianya. Bagaimana mungkin nyaris setiap lajang kuda berlari akan diikuti lesatan petir yang menghujam tepat pada puncak pohon apapun yang tidak begitu jauh dari bekas mereka melangkah. Apakah ini bentuk pengejawantahan rasa dari sembilan wali bumi yang telah lama menanti kedatangan Tuanku?

Muridnya melihat ke depan. Tuanku dengan pasti melaju. Seolah tak terjadi apa-apa pada setiap langkahannya. Entahlah, apakah air hujan akan lantas memantul dan tidak  membasahi tubuhnya.

Pemuda itu semakin meyakini ini bukanlah kewajaran. Ini adalah bentuk kegelisahan atau malah kemarahan yang benar-benar sedang dirasakan sembilan wali di puncak Ngalau Tompok. Bagaimana nasibnya para wira tanpa kekuatan Dasawali Bumi. Akahkan kejayaan perguruan di Lereng Gantiang itu kelak hanya menjadi catatan di tubuh peradaban.

Ah, bahkan beberapa detik yang lalu sang murid merasakan getaran serupa gempa cukup hebat yang membuat kudanya kehilangan keseimbangan dan bahkan nyaris terjatuh ke dalam jurang. Tapi, dilihatnya lagi ke depan gurunya dengan begitu tenang mengendalikan sang kuda sehingga kuda putih itu melaju dengan lenggokkan ekor yang—sialnya—semakin indah dipandang.

Seperti inikah rupa kuda yang kelak ditunggangi para penegak kebajikan manakala ia berada di nirwana kelak, manakala ia menyeberangi Titian Nan Lurus, sebagaimana yang diceritakan tetua-tetua kami? Entah.

***

Goa pertarakan mulai membentang. Sang murid melihat sekilas tak ada perubahan  dengan sebelum mereka tinggalkan. Yang jelas berbeda lebih pada daun-daun tua luruh yang lebih ramai berserakan di depan goa. Derap sepatu kuda melambat setiba di depan halaman. Tuanku segera melompat turun, begitu pun muridnya.

Perjalanan yang begitu letih bagi sang murid. Sebuah tanda tanya yang seakan membentuk arca besar itu makin menindihnya sepanjang perjalanan. Rasa penasaran akan sikap guru itulah yang telah benar-benar menguras tenaganya, dibandingkan daya yang habis saat menunggang, menghadapi hujan dan tabiat alam yang janggal.

Seturunnya dari kuda, tua berjanggut itu segera berlari. Ada apa sebenarnya dengan Tuanku? Muridnya pun dari belakang diam-diam mengikuti setiap langkahnya. Di depan mulut goa, dengan tenaga dalamnya Tuanku buru-buru menggeser batu besar yang menjadi pintu penutup bagi mulut goa. Seiring dengan dibukanya goa, dari dalam muncul suara menggema seperti ngeong. Suara yang betapa halusnya namun cerewet. Benar saja, sesaat kemudian seekor anak kucing pincang dan langsung menyundul-nyundulkan kepalanya dengan manja di kaki lelaki tua itu. Tuanku merunduk meraih kucing yang patah kaki itu dan lantas mengusap-usap kepalanya dengan berbelas kasih.

“Kini kau dapat bernapas bebas,” ujar tua berjanggut.

Di langit pertarakan, sang murid melihat gumpalan awan membentuk bayangan Lereng Gantiang yang berada jauh di sana. Lereng Gantiang seperti memerah. Seperti banjir merah. Banjir darah…

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.