Ketika Nek Idah Memunggung

April 15, 2012

Dimuat Padang Ekspres Minggu, 15 April 2012 ||

Nek Idah memunggung, kemudian tersenyum. Matanya berpura-pura ikut dalam kesedihan orang-orang berkerudung hitam yang berkerumun di lapaknya. Ya, hanya kepura-puraan belaka. Karena sungguh di dalam hatinya, Nek Idah sedang mendendangkan genderang kebahagiaan.

Bagaimana tidak. Beberapa hari ini bunga rampai dagangannya laris manis. Berbondong orang membelinya untuk ditebar di atas makam, sebagai pertanda turut dalam belasungkawa.

Sejak jembatan itu rubuh tak tau sebab, yang mengakibatkan banyak korban tewas, sejak itu pula Nek Idah panen rejeki. Bunga rampainya tak lagi layu di hembus angin nakal, atau habis dicuri anak-anak untuk dijadikan mainan saat ia sedang terlelap menunggu orang datang.

Tak hanya bunga rampai, pun tanah miliknya bernasib serupa.
Pemerintah membantu para korban dengan memberikan berbidang tanah untuk dijadikan makam. Ini sangat membantu bagi keluarga korban. Terlebih di kota, sulit sekali menemukan areal kosong. Apalagi yang gratis.

Lekuk kota ditumbuhi cendawan bertulang baja. Untuk bermain bola saja para bocah mesti diam-diam menyusup, menembus pagar seng penutup daerah proyek. Penjuru areal dipagari setinggi-tingginya. Ada yang di mukanya tertulis: Tanah ini milik Haji Abidin. Akan dibangun ruko empat tingkat. Tapi hingga kini (hampir sembilan tahun sejak tulisan itu dipajang) tak pernah nampak segunung pasir ataupun sebukit kecil kerikil, pertanda akan dibangunnya ruko tersebut.

Senin kemarin warga heboh. Dikabarkan sebuah jembatan rubuh. Tak ada yang berani beropini, sekalipun para ahli konstruksi. Menurut ilmu yang sudah mendarah daging di sudut benak mereka, tak mungkin jembatan itu akan rubuh. Tiangnya saja sebesar entah. Belum lagi tulangan yang mustahil remuk. Namun, inilah peristiwanya. Profesor semakin botak menelaah tempat kejadian, menyimak patahan, mengkaji segala rumus mekanika.

Ada yang berkira jembatan itu dipijak bapak setan. Ada pula yang bilang tertabrak pesawat luar angkasa. Bahkan ada yang meyakini jin sungai sedang berang. Entahlah. Pastinya jembatan yang menjadi kebanggan kota kini telah menjembatani tubuh-tubuh malang menuju kediaman Tuhan.

***

Tampaknya, sore ini Nek Idah tak lagi berjalan kaki kembali ke gubuk mungilnya yang berjarak cukup jauh dari pamakaman. Kali ini, ia akan mencoba menumpangi angkot yang jarang sekali ia naiki. Sebab hasil usahanya sebatas lepas makan saja.

Begitulah Nek Idah, sehari-hari ia bekerja menjajalkan tumpukan bunga rampai di depan gerbang areal pekaman milik pemerintah. Sebenarnya, pemerintah membeli tanah itu dari Nek Idah. Tanah itu adalah warisan dari moyang Nek Idah yang merupakan penduduk asli. Seiring perkembangan zaman, kota pun turut maju. Daerah ini dulunya penuh ilalang dan semak perdu pelepas lelah bagi harimau loreng. Mendadak semua berubah. Bangunan didirikan tinggi mengejar awan. Mereka berjejer seperti tumpukan botol limun. Tak menyangka, tanah di sudut pelosok pun dicari orang. Seperti halnya tanah warisan Nek Idah.

Kalau menurutkan amanat, Nek Idah semestinya menjaga tanah itu. Sebab tanah itu adalah pusaka yang nantinya akan diwariskan kepada anak cucu. Kepada siapa waris dialamatkan? Jangankan anak, suami saja Nek Idah tak memiliki.

Nek Idah akhirnya takluk pada sekebat uang yang diberikan orang-orang berbaju hijau lumut yang datang kala itu ke gubuknya. Mereka tidak membayar sepenuhnya. Akan tetapi dihitung perbidang sebanyak ‘penghuni baru’ menetap. Lama-kelamaan menggeser, kian luas. Alhasil, sebidang demi sebidang tanah itu tak lagi menjadi milik Nek Idah. Entahlah, mungkin karena itu pula Nek Idah hingga kini tak memiliki laki. Mungkin saja arwah leluhur telah mengutuknya sejadi-jadi.

Pernah Nek Idah dicinta seseorang ketika muda dulu. Hampir saja mereka melanjutkan kejenjang pernikahan. Namun malang menimpa hidup Nek Idah, lelakinya  mati mendadak.

Setelah kejadian itu, Nek Idah enggan menatap lelaki. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Banyak orang yang beranggapan Nek Idah sudah terminum tuak cinta dari lelaki itu. Apalagi kalau bukan ‘persembahan’ dari  orang pintar yang tentunya dimintai lekaki itu untuk mendapatkan hati Nek Idah. Sungguh di zamannya dulu, Nek Idah laksana sekuntum mawar yang dikelilingi serangga jalang.

***

Hari demi hari semakin banyak korban diketemukan. Regu penyelamat cukup kesulitan melancarkan aksinya. Medan yang sangat berat karena arus sungai menggila menuruti alur tahunan. Mobil-mobil tengkurap. Adapula motor yang terjepit reruntuhan. Tampak jejeran helm mengapung di permukaan ditinggalkan kepala yang entah kemana. Patahan jembatan semakin menderam.

Bolak-balik ambulance merengek. Menggotong tubuh-tubuh pucat penuh luka.
Di rumah sakit. Orang-orang menangis. Air mata laku. Semua meratap mendapati sanak mereka yang dirundung malang.

Kebanyakan dari mereka sepakat pada budi baik pemerintah, selain memberikan dana bantuan juga menyediakan tanah pemakaman. Tampaknya saku Nek Idah akan semakin sempit saja didiami lembaran kertas merah. Toh, semakin banyak yang mati, semakin bergeser patok tanah, barang tentu semakin banyak pendapatan Nek Idah.

Ditengah duka yang dirasakan keluarga korban, di saat itu pula Nek Idah sibuk mengalikan angka-angka yang berkeliaran dalam kepalanya. Sembari memunggung, kemudian  tersenyum.

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.