Anak Amak

April 22, 2012

Dimuat Singgalang Minggi, 22 April 2012 ||

Di anak tangga sebuah rumah kayu, seorang perempuan tua duduk berjuntai sembari memain-mainkan tangannya. Ia sedang memasang kancing baju pramuka SD anaknya. Dua buah kancing tanggal saat kemarin anak lelakinya berkelahi di rumah sekolah, di muka guru pula, ketika Pak Buyuang menerangkan pelajaran membaca. Ia bukannya menyimak lekuk “A” yang seperti segitiga samakaki atau mencoba menuliskan “I” serupa alif tak berbaris pada buku tulis isi delapan belasnya, akan tetapi ia memilih meremas kerah baju si Jhon, murid pindahan dari kota, sebagai pengganti ucapan selamat datang.

“Ini Amak… surat panggilan dari sekolah,”

Anak lelaki itu mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya. Amplop kacang. Di kampung sini, barang itu cukup mahal. Agaknya Pak Kepala akan kesal. Baru sebulan lampau ia beli amplop kacang itu sekotak dari oto cigak baruak pengangkut dagang yang tiga kali sebulan mendarat di tengah tanah lapang, dan kini tersisa hanya tujuh bahkan enam, sebab sobek sebuah. Hampir separuh digunakan untuk berkirim surat ke dinas, sedang sisanya untuk pemanggilan orang tua murid dan urusan lain-lain. Sepertinya anak lelaki itu menjadi kolektor amplop terbanyak saat ini. Dan mungkin saja setelah terkumpul nanti ia akan menjualnya kembali kepada Pak Kepala.

Tak ada gurat pada muka perempuan itu. Ia asyik menyimak lubang kecil penjahit, sedang tangan kanannya seksama mengarahkan kepala benang. Dengan segala pusat perhatian akhirnya tali halus yang dipintal dari kapas itu kini bersatu dengan nahkodanya. Kapal kecil itu akan siap timbul tenggelam di hamparan katun cina bergambarkan buah kepala bertunas.

“Katakan sama Pak Kepala, kurok di kuduk Amakmu sedang kambuh. Bila kena panas matahari akan semakin gatal. Amak tak bisa keluar rumah!” begitu kata perempuan itu tanpa memusatkan pandang kepada barang yang sedari tadi dipegang anaknya.

Semua sudah terbaca dalam pikirannya—tentang surat itu. Apa kalimat pembuka, dimana letak titik-koma, di sebelah mana nama dan tanda tangan, bentuk ukiran stempel, bahkan nomor induk kepegawaian Pak Kepala yang sepanjang tali beruk itu sudah hapal diluar kepala. Sebab tak sekali ini ia mendapatkan. Berulang-ulang. Itu ke itu juga isinya. Apalagi kalau bukan menyangkut kenakalan anak lelakinya.

Entah sudah berapa kali perempuan itu datang ke sekolah hanya untuk mendengarkan celoteh Pak Kepala tentang tingkah laku anaknya. Namun tidak buat kali ini. Sudah muak pula tampaknya. Tak tahu lagi kemana akan disurukkan itu muka. Berat sudah malu ia tahan. Apalagi Pak kepala dan sebagian besar guru-guru di sana adalah bekas muridnya. Ya, dulu ia seorang guru dan kepala sekolah di sini, di tempat anak lelakinya bersekolah kini.

Masih teringat olehnya. Dulu ia yang sibuk berkirim surat, memilin kuping murid, dan memaki orang tua si anak nakal yang datang memenuhi panggilan. Di ruang kantor ini, di tempat yang sama, kini giliran dirinya diperlakukan seperti itu. Tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Namun kini hanya ada sebuah nan berubah. Ketika sekolah itu ia yang “pegang”, belum terbeli olehnya yang namanya amplop kacang. Anggaran sekolah sebatas lepas makan. Bersyukurlah sekarang pemerintah mengratiskan sekolah dan melebihkan dana untuk pembangunan pendidikan dan proses pengajaran.

Wa’ang sudah makan?”

“Belum Mak,

“Tengoklah di dapur, Amak masak randang,”

“Randang? Tumben.”

“Pak Etek wa’ang nanti sore akan tiba,”

“Berarti, jadi Ambo pindah sekolah tu Mak?”

Perempuan itu diam, tak ada getaran ia cipta lewat pita suaranya. Ia terus menyilang-nyilangkan jahitan. Tangannya pindah-pindah seperti polisi sedang mengatur jalanan. Begitupun dengan anak lelakinya. Mendapati pertanyaan tak dijawab, ia bersegera menuju dapur. Aroma daging telah menggoda. Mukanya begitu bahagia. Betapa tidak, sebentar lagi ia akan mencicipi masakan paling lezat di atas bumi alias nomor satu di dunia.

Memang, jauh-jauh hari, perempuan itu telah berniat untuk menyekolahkan anak lelakinya di Jakarta. Biar disana tinggal bersama Pak Eteknya. Selain pendidikan disana dirasa lebih bagus, alasan utama “pemindahan” itu sebenarnya tak kuat lagi ia menanggung malu lantaran tingkah anak lelakinya. Sudah menjadi bahan gunjingan orang kampung. Bahkan kalau ada orang tua menceritakan kenakalan anaknya, orang yang mendengarnya pasti akan berkata: “Mana jauh lebih nakal dengan anak Biyai?” sungguh anak lelakinya adalah raja segala raja.

Setelah menikah dengan Datuak Lubuak. Hampir dua puluh tahun ia tak memiliki keturunan. Mengandung memang, tapi selalu saja keguguran. Tiga orang sudah anaknya mati di dalam. Seorang perempuan dan dua jantan. Namun, di usia yang tak muda itu ia masih terus berharap. Eh, akhirnya lahir juga. Tak tahulah ada angin apa, Tuhan mengijinkan mereka memiliki keturunan. Dulu, ketika ia mengandung, perutnya pernah dicubit Ujang Jawi, pemuda gila yang sering berkeliaran di pekan. Entahlah, mungkin karena itu pula kelakuan anaknya segila ini.

Betapa senangnya Datuak Lubuak ketika itu. Tak disangka-sangka akhirnya ia mendapatkan anak. Saking girangnya jantungnya berhenti mendadak. Dan ia pun mati, sesaat setelah anak lelaki itu keluar dari rahim ibunya. Apalah daya, mungkin itu pula nasib perempuan itu. Walaupun sebenarnya tidak adil. Bayangkan, di dunia hanya seorang anak yang di urus oleh ibu, sedangkan tiga orang anak diurus ayah di akhirat. Pembagian macam apa ini?

“Amak, Ambo pergi main ya?”

“Selepas ashar pulang!”

“Ya.”

Setelah menyantap makan siang dengan menu istimewa. Anak lelaki itupun bergegas melangkahkan kakinya ke tanah lapang. Teman-teman pasti sudah menunggu. Walau perangainya demikian, temannya banyak. Tiap kelokan ada. Bagaimana tidak mau orang berkawan, ia bisa dipergunakan. Akalnya banyak, lebih cerdik dari kancil, lebih licin dari belut.

Kali ini ia dan teman-teman memiki rencana besar: memakan ikan Lou Han yang ada di dalam rumah Ajo Anai, pengusaha sate yang kaya tapi pekak sebelah. Seorang dari mereka berkata bahwa daging ikan Lou Han jauh lebih enak dari rendang. Semua penasaran, terlebih anak lelaki itu. Setahunya rendanglah yang paling enak bahkan menjadi yang terlezat di dunia, pernah ia lihat dari siaran tivi hitam putih miliknya.

Bisakah kau tebak apa yang terjadi?

“Ajo… Ajo… Aku tadi melihat nngg…  sate Ajo kebakaran!” pada pertengahan kalimat, ia turunkan sedikit nada suaranya.

“Apa..!!!” Tiba-tiba saja Ajo Yuda terperanjat kaget mendengar apa yang dibicarakan anak itu. Menurut pendengaran lelaki itu “… kedai sate Ajo kebakaran”.  Ditambah lagi roman anak itu tampak serius memberitakan. Tangannya menujuk-nunjuk pula. Seolah memang tengah terjadi kebakaran besar.

“Hangus lagi !” tambah bocah itu.

“Haaa…!!!” Ajo melambung seirama denyut jantungnya.

Tanpa pikir panjang Ajo yang pekak sebelah itu bergegas menghidupkan mobil mengkilapnya dan melaju kencang menuju kedai miliknya yang cukup jauh dari rumah. Karena saking paniknya Ajo pun lupa mengunci pintu.

“Haa… misi sukses!!!” mereka bersorak gembira. Terlebih bagi anak lelaki itu. Dia sangat bangga telah membodohi orang kaya itu. Ini cerita buat anak cucu kelak, gumamnya dalam hati. Alhasil, ikan Lou Han di tengah rumah pengusaha sate itu pun raib. Dan kini binatang super mahal yang dipercaya punya hoki itu telah berada di atas kuali penggorengan. Kepalanya yang bengkak sebesar telur puyuh perlahan menyusut terkena minyak panas.

Setelah mencicipi, akhirnya penasaran mereka pun terobati. Ternyata berita Lou Han lebih lezat dari rendang itu adalah bohong besar. Bahkan dengan Ikan Patin saja, masih kalah enak.

Selepas ashar ia pun kembali ke rumah, menepati janjinya tadi kepada Amak. Dilihatnya Amak tak lagi asyik melanjutkan menjahit kancing baju pramuka, kini perempuan itu berada di tengah rumah, sedang sibuk menggeser kursi dan lemari. Anak itu teringat bahwa sebentar lagi akan ada tamu istimewa dari Jakarta. Pastilah Amak menyusun supaya ruangan nampak agak lapang. Rumah itu terlalu sempit. Coba hitung: Pak etek, isterinya, dan anak-anaknya. Anak pertamanya saja berbadan besar, ada mungkin tujuh puluh kilo. Namun anak kedua inilah yang paling besar, lebih besar dari abangnya. Tak ada yang sanggup mengira-ngirakan angka timbangan. Anak ketiga, keempat dan kelimanya tidaklah besar seperti saudara-saudaranya, akan tetapi serupa, ya mereka kembar tiga. Wanita semua. Cantik. Masih SMA.

Malam, pukul sembilan kurang dua menit, rombongan tiba. Anak Pak Etek yang berbadan besar itu sulit menaiki tangga kayu rumah. Bahkan sebuah anak tangga paling akhir retak, berderik, kemudian patah dibuatnya. Badannya berguling-guling ke bawah. Memang rumah itu adalah rumah kayu yang sudah ada sejak jaman Belanda. Tak ayal kayunya pun akan mudah lapuk, apalagi dinaiki gajah bunting.

Mereka begitu hangat bercengkerama. Pak Etek Zul dulu tinggal kampung ini. Demi melanjutkan “gaya hidup” orang sini yang suka merantau, akhirnya ia turut pergi ke Jakarta. Apalagi kerjanya kalau bukan berdagang. Meneruskan usaha orang-orang Minang terdahulu. Memang Tuhan sepertinya begitu sayang kepada orang Minang, tak sedikit perantau-perantau yang kemudian sukses walaupun hanya dengan modal maota. Begitupun bagi Pak Etek Zul.

Malam semakin larut, angin mula menggigit. Terlihat si gemuk kedinginan di halaman. Tak berani lagi ia bereksperimen menaiki tangga rumah lagi. Sepertinya ia trauma akibat jatuh tadi yang membuat tungkainya yang bengkak semakin bengkak. Ia pun lebih memilih tidur di dalam mobil untuk malam ini.

Seminggu sudah Pak Etek dan keluarganya di kampung. Esok subuh mereka berencana akan kembali ke perantauan.

“Bagaimana jadinya Mak, jadi Ambo pindah sekolah?”

Perempuan itu kembali diam, seperti beberapa waktu lalu. Ia memang tak sanggup lagi memelihara anak itu. Menyekolahkan anaknya ke Jakarta memang banyak faedahnya, selain kualitas pendidikan, juga setidaknya pikirannya akan sedikit lebih tenang terbebaskan dari perangai anak lelakinya. Namun, jujur dari dalam hatinya, ia tak ingin berpisah dengan anak semata wayangnya, anak yang hadir dalam keputusasaan hidupnya dulu. Anak adalah anugerah paling besar baginya. Begitupun bagi almarhum suaminya.

***

“Selamat tinggal Amak, dadah….”

Anak itu melambai-lambaikan jarinya. Jari yang pernah meremas kerah baju Si Jhon, jari yang sering memberikan amplop kacang kepada Amaknya, jari yang jalang lagi liar. Meski berat, akhirnya perempuan itu pun melepas kepergian anak satu-satunya.

Kini tak akan lagi ia terima amplop kacang, tak akan lagi ia sibuk berusuhan dengan Pak Kepala, tak akan lagi ia dengar gunjingan ibu-ibu berdaster panjang tentang anaknya. Ah, baginya kini ketenangan.

Belum sampai setengah hari, tersiar kabar bahwa mobil Pak Etek masuk jurang, semua mati kecuali bocah sontoloyo karya janin Amak, tubuhnya tersangkut dahan. Barang tentu anak itu akan kembali ke kampung dan kembali melewati hari-hari bersama Amak.

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.