Mbok Nyeret

Maret 4, 2012

Dimuat Singgalang Minggu, 4 Maret 2012 ||

“Jangan kau datangi lagi tempat ini. Kau bukan kudidik untuk menjadi pendekar cengeng,”

“Tapi Mbah, aku ingin lebih memantapkan ilmu kanuraganku.”

Tak ada jawaban dari betina tua itu. Wajahnya yang tua makin tampak tua saja. Ditambah lagi kerut masygul di jidat yang dia bikin sendiri. Jijik aku melihatnya. Seperti dia saja guru paling hebat di dunia persilatan. Apa dia pikir aku akan terus memohon kepadanya. Cuih…!!!

Siang ini panas benar. Matahari telanjang setelanjangnya, menampakkan kemolekan tubuhnya yang aduhai. Tak sanggup aku menatapnya lama. Barang lima detik saja, mata ini mengerjap-ngerjap lelah kemudian berair seperti kemasukan pasir. Tak akan sakit hatiku seperti saat ini apabila wanita tua itu mau menurunkan ilmu kanuragannya sejak dulu. Ya, sebuah ilmu pamungkas, jurus terakhir dari “sebelas pukulan pemecah nadi”. Apabila aku menguasainya, sempurnalah sudah ilmu kedigdayaanku. Namun betina tua itu tak jua mau menurunkannya. Entah apa pula yang ada dalam pikirannya. Padahal aku adalah murid satu-satunya, dan sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Apa dia tega melihatku mati menjadi korban si Telapak Hitam selanjutnya? Padahal, pada malam dua belas bulan purnama nanti, aku akan menghadapi pendekar yang sudah banyak membunuh jagoan golongan putih itu.

Hampir dua puluh tahun aku menghabiskan hari-hariku disini. Mengabdi bersama perempuan itu. Semenjak orang tuaku menitipkan—lebih tepatnya memberikan—aku untuknya. Kata Mbah, kelahiranku di dunia ini sesungguhnya menjadi ketakutan bagi penduduk kampung; malapetaka. Sebab aku adalah buah dari hubungan gelap ibuku yang seorang gundik. Entah siapa bapakku. Sampai kini tak kudapati jawabannya. Bahkan aku tak pernah mengenal roman ibuku. Seperti apa batang hidungnya, bentuk matanya, dan rupa bibirnya.

Yang kutau hanya cerita dan namanya saja. Nama yang biasa disebut betina tua ketika memarahiku. “Dasar kau anak Mbok Nyeret!” seperti itulah dia mengataiku ketika kedapatan menyembunyikan tongkat kayu miliknya, hingga berhari-hari ia tak keluar rumah sebab tak ada penopang langkah kakinya yang tinggal sebelah. Dulu, saat bertarung dengan Datuk Janggut Sehelai, tungkainya habis dilibas pedang pusaka.

“Sudah sana pergi!” hardik betina tua kepadaku yang tengah asyik memainkan suara bilah-bilah bambu. Seolah menulikan telinga dari perkataannya, aku terus membunyikan belahan betung itu, memainkan suwe ora jamu.

“Hei! Segera tinggalkan gubuk ini atau tongkatku yang akan mengusirmu!” Belum sempat aku menjawab, sebuah pukulan keras menghantam bokongku. Kakinya yang sebelah itu telah menendang keras bokongku. Akh!!! Tubuhku tersangkut di pohon mangga muka gubuk. Sepasang pipit yang tengah mesra kini terbang setinggi-tingginya. Sepertinya kehadiranku telah mengagetkan cumbuan mereka. Untung saja, jika tidak tersangkut dahan, tendangannya akan tepat mengarah mengantarkanku ke aliran sungai disana. Tak dapat kubayangkan jika kepala ini membentur batu-batu raksasa yang membatu di sepanjang aliran sungai. Aduh, ngeri.

***

“Tolooong…tolooong…!!!” dari arah selatan terdengar seperti orang berteriak. Teriakan itu semakin dekat saja kudengar. Semakin jelas dan dapat kupastikan itu suara perempuan. Kini tak hanya teriakan, juga derap langkah yang kudengar. Dari balik kelokan sesosok tubuh tiba-tiba menabrakku.

“Tolong… tolong aku…,” wanita itu menarik-narik tanganku. Pandangannya memelas. Ketukan nafasnya berserakan. Sesekali ia betulkan letak pakaiannnya yang tak tentu bentuk.

Wuuussshhh…..

Menyusul. Seorang lelaki kini berada tepat didepanku. Bulatan matanya hitam sempurna. Mukanya seram, seseram tangkai golok berkepala naga yang menyelip di depan perut buncitnya. Suara anjing melolong panjangm tambah ramai suasana belantara.

“Lepaskan dia atau kau mati!” Telunjuk lelaki ini terlaru liar, seenaknya saja ia mengarahkannya tepat ke mukamu, yang kiri pula.

“Sudahlah Mas, tinggalkan saja aku….” ujar wanita yang sedari tadi berada di belakang punggungku, kepada lelaki itu. Aku tak mengerti apa maksud perkataannya. Dan akupun tak kenal siapa mereka.

“Diam!!!” bentakkannya menggelegar, menggetarkan pucuk batinku.

“Tolong aku…,” bisikan kecil terdengar dari belakang. Tak tau harus berbuat apa. Meski tak tentu duduk persoalannya, kucoba memihak kepada wanita itu. Sebab keadaan wanita itu kini terancam. Terlebih sebagai seorang manusia aku tak tega melihat wanita diperlakukan kasar, sekasar hardikannya tadi.

“Bajingan kau, menghardik wanita seperti anjing peliharaan!”

“Ya, dia memang anjing peliharaanku. Pemuasku..” perkataannya membuat tubuhku tak bergeming. Laju darah seakan mati, dimatikan oleh kata-kata. Ah bodoh, mengapa aku teringat kepada Mbok Nyeret. Tidak lain adalah ibuku. Ibu lahiriahku. Ibu yang selalu diceritakan betina tua ketika aku bertanya: siapa aku?

Saaap…!!! Lelaki itu melompat tiga langkah mendekatiku. Buyarlah ruang bayang yang seketika tercipta. Gerakannya ligat mencoba meraih tubuh wanita dibelakangku. Hampir saja berhasil ia cengkeram. Namun terhalang kuda-kuda kokoh yang kubentuk. Berkali-kali pukulan dan tendangan ia lancarkan. Dengan sigap tubuhku berhasil menghindar. Serangannya tak pernah gentar. Kini ia coba bermain dengan senjata. Goloknya berputar seperti baling-baling kapal. Matanya makin tajam menatapku, setajam golok di dalam genggamannya.

Sit…sit… golok itu mengeluarkan bunyi

“Sepertinya darahmu akan mampu mengobati haus golokku. Terimalah ini.” Hiaattt…! Digerakkannya benda itu ke arahku. Sejengkal saja aku berhasil mengelak, kalau tidak habislah tubuh ini tercabik-cabik. Bahkan untuk kedua kalinya ia layangkan kembali. Lagi-lagi mampu ku jauhi. Dan ini yang ketiga kali. Haap…!!! Kuraih batang tangannya, lewat sebuah pukulan, badan gempalnya kini bersetubuh dengan tanah. Tengkurap. Tahi sapi menempel di mukanya.

Emosinya kian memuncak. Jelas tampak dari raut mukanya yang semakin masam memandangku. Kali ini lebih seram dari dari tangkai golok itu. Ngeri aku menatapnya.

Sekarang pandangan matanya penuh memandangku. Tak seperti tadi, lebih ia arahkan kepada wanita dibelakangku. Tak ada sedikitpun gentar bagiku. Terlebih pukulan-pukulannya tak berisi. Tiada lagi senjata andalan. Saat jatuh tadi, golok yang digenggamannya ikut terlepas dan melenting jauh ke arah tengah hutan.

“Hahaha…sekarang kau mau apa lagi keparat buncit?! Apa kau mau ikut terbang bersama golokmu?!” Senang aku memanasinya. Mukanya semakin buruk saja. Sesekali kumenoleh ke belakang, memastikan posisi wanita itu aman. Kulihat wajah cantiknya semakin pucat pasi.

“Keparat..!!” berlari ia ke arahku. Tangannya membentuk bongkahan tinju sebesar kepala anak bayi.

Hiaattt..!!

Bulatan sempurna itu mengarah tepat ke bagian atas tubuhku. Dengan sigap kucengkeram pergelangan tangannya. Kemudian kuputar. Tubuhnya pun kini terkunci. Tak dapat ia bergerak barang sedikitpun. Untuk memutar kepala saja takkan mampu dilakukan. Jeritannya menjadi-jadi. Kesakitan ia mendapati sekujur uratnya kaku.

“Ampun…ampuun..” wajahnya berubah mendadak. Tak ada lagi keganasan pada rupanya. Kini ia memelas minta dilepaskan. Tak ada ampun bagiku sebelum keparat ini terpingkal-pingkal menahan geli akibat gelitikan bulu ayam pada ketiaknya. Setelah puasku memperolok, kubebaskan sesukanya. Nampak lipatan perutnya naik turun, berlari kencang ketakutan.

Sebagai permainan terakhir, kulempar sebuah kerikil ke arah tubuh yang menjauh itu. Buukk… bidikanku tepat menghantam bokong besarnya. Kini ia sibuk sendiri membetulkan celananya yang kedodoran.

***

“Mengapa laki-laki itu mengejarmu?” kuhampiri wanita yang sedari tadi memasang muka takut di belakangku.

“Dia… dia minta dilayani,” ragu-ragu ia sebelum menjawab

“Maksudmu?” pernyataannya mengundangku menelusurinya lebih dalam.

Setelah mengambil nafas panjang ia mulai bercerita

“Aku adalah seorang gundik. Pikiran jernihku tertutup rapat oleh keadaan. Ya, keadaanlah yang memaksa,” kubiarkan ia bercerita melepas segala rasa. Kuperhatikan matanya perlahan mulai basah. “Setelah Ayah meninggal. Ibulah yang mengurusi keluarga. Upah menjadi buruh masak dapur istana kerajaan tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Untuk mencukupinya, ibu terpaksa berhutang dengan seorang saudagar. Lama kelamaan, ibu tak sanggup membayar hutang yang setiap harinya berbunga. Suatu hari saudagar itu meminta jika hutang tidak dilunasi ia akan membunuh ibuku. Tak sanggup aku kehilangan ibu. Tanpa pikir panjang aku rela menyerahkan diri ini kepadanya, asal semua hutang terlunasi.”

“Siapa saudagar itu?” tanyaku penasaran

“Laki-laki yang kau hadapi tadi.” Nada suaranya datar namun pasti. Aku terperanjat mendengarnya. Ternyata bajingan yang kuhadapi tadi selaknat itu. Ia terus melanjutkan cerita. Sesekali punggung tangannya menyapu air mata yang menetes di tepi pipinya.

“Empat puluh tahun sudah aku menjadi peliharaannya”

“Empat puluh tahun?” Kuulangi perkataannya. Aku tak mengerti pembicaraannya barusan.

“Memang menurut pandangan mata telanjang, aku tampak seperti wanita muda. Saudagar itu dulu membawaku ke Bukit Baradukduk untuk menemui Empu Mata Ijo. Dengan meminum air dari keris pusakanya maka siapa saja yang melihatku akan nampak seperti usia belasan. Padahal….” sejenak ia menghentikan pembicaraannya

“Padahal apa?” tanyaku lagi.

“Padahal usiaku telah mendekati kepala enam”

“Apa!” betapa terkejut aku mendengarnya. Tak kusangka wanita yang duduk disampingku adalah seorang tua yang usianya kira-kira sepantaran dengan ibuku.

“Ya, saudagar itu menginginkaku agar tampak terus muda”

“Lantas, mengapa kau menghindari saudagar itu. Padahal selama ini kau selalu bersamanya?”

“Aku tak kuat lagi menahan siksanya. Aku sudah tua. Sebelum Sang Gusti mencabut nyawaku, aku ingin menikmati sisa hidup bersama anakku. Aku rindu dengan anakku. Aku ingin menemuinya di lereng Merapi, ditempat itu dulu aku titipkan ia kepada seorang nenek.”

Mendengar tiap kata yang lahir dari mulutnya, seakan firasat ini berbisik. Dan terus berbisik.

“Siapa namamu?”

“Mbok Nyeret.”

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.