Pohon Mangga Kakek

Januari 15, 2012

Dimuat Singgalang Minggu, 15 Januari 2012 ||

“Celaka! Hampir saja aku kembali diperlakukan macam macan peliharaannya. Seenak perut saja dia mempermainkan aku seperti itu. Memang pikirnya aku tak punya hati!”

Seorang bocah berlari tergopoh-gopoh dengan birama nafas tak tentu. Peluh deras membasahi keningnya yang lebar, kemudian menetes menuju kaus hitam bergaris biru langit yang ia kenakan. Langkahnya terhenti tepat di belakang semak perdu. Daun yang lebar tanpa celah membuatnya merasakan kenyamanan super ketat, serasa berada di balik tameng baja yang tak akan mampu diterobos apa pun dan siapa pun.

Kepalanya ia tundukkan sedapat mungkin, barang tak sehelaipun rambut hitamnya akan tampak menjumbai. Ia tekuk leher dan kedua tangannya ia lipat seperti orang sedang sembahyang. Begitupun bibir ditutup serapat-rapatnya agar mengurangi suara desahan nafas yang semakin jelas, seirama degup jantung yang kian menggebu. Kedua bola matanya yang ganda membelalak hitam sempurna membentuk bulatan rimbang yang memandang tajam, dari balik celah kecil selubang jarum itu ia tetap siaga memantau keadaan sekeliling. Angin membelai sejuk membuat keringatnya perlahan terusir.

“Gawat! Sejauh ini sudah aku berlari, masih juga ia coba kejar… akhh!”

Tiba-tiba seorang lelaki tua berambut putih merata mendekatinya, dengan sebuah ikat pinggang tebal kecokelatan di dalam genggaman tangan kanannya.

“Hei, mau coba-coba sembunyi kau bocah! Apa kau pikir aku tak akan tau dimana tempat persembunyianmu! Bau busuk tubuhmu tak akan mampu membohongi indera penciumanku.”

“Ampun Kek, aku mengaku salah. Aku berjanji tak akan mengulanginya lagi,”

Tak ada ampunan bagi lelaki tua itu. Ia cengkeram erat kerah baju si bocah yang meringkuk tak berdaya, lalu mendaratkan beberapa kali lecutan ikat pinggang cokelatnya kepada tubuh kecil yang mematung dihadapannya. Apalah daya hanya rintihan kecil penahan perih yang terdengar mengacaukan merdunya simponi senandung pagi yang tengah dikomposisikan oleh gerombolan pipit kecil.

***

Sepuluh hari yang lalu kakek itu meninggal dunia. Ramai sudah orang berdatangan menunjukkan rasa simpatik dan belasungkawa. Tak sedikit berjejer karangan bunga bertulisan besar di halaman rumahnya. Bendera hitam itu masih tetap mengibar kecil menyimbolkan duka, sesekali bergoyang dibuai angin.

Ah, kematiannya tak diduga. Pagi hari itu, tubuhnya masih segar bugar, suaranya masih sebesar biasa, roman mukanya tetap dingin seadanya, begitulah, seakan Tuhan menakdirkannya lahir ke dunia dengan cetakan muka yang salah, penuh kerut di sekitar dahi dan pipi serta terpajang bibir yang haram menciptakan senyum. Tak akan sekalipun kau temui ia tersenyum, sampai orang selapau diam-diam pernah mengadakan sayembara konyol: barangsiapa yang mampu membuat kakek itu tersenyum, setiap pagi selama empat belas hari berturut-turut, sarapan kopi dan sebuah pinukuik akan diberikan cuma-cuma oleh sang pemilik lapau yang sekaligus menjadi otak dari eksekusi gila itu. Alhasil, terbukti tak seorangpun mampu menaklukkan keganasan muka masam kakek tua itu.

Entah mengapa, sehari sebelum kematiannya banyak masyarakat sekitar yang melihat kakek itu tersenyum begitu indahnya—sebab tak ada pembanding sebelum-sebelumnya. Raut mukanya merona seperti sedang berseri-seri, tanpa sebab ia nampak riang. Sontak, seisi lapau kemudian berdebat tentang kejadian langka yang baru saja mereka temukan. Akan tetapi, sebelum sempat mereka menemukan jawaban atas apa yang mereka dapati, berselang seperempat siang kemudian kabar duka menggaung bertalu-talu menghentak seisi lapau. Kakek itu telah mati. Seakan tak percaya, namun begitulah kenyataannya.

***

Sepuluh hari sudah kakek itu meninggal dunia namun tak ada yang tau pasti sebab kematiannya. Yang pasti, banyak warga mengaku pernah melihat kakek di pasar jumat sebelum ajal menjemputnya. Tentunya berujung kata kepada keanehan sifatnya yang mereka dapati.

Bocah itu kini tampak bebas berbuat semaunya, sebab tiada lagi perintang langkahnya. Sebanyak apapun mangga ia curi takkan ada yang memarahinya. Sekeras apapun suara radio butut ia putar, tak akan ada lagi tetangga tua yang mendatangi untuk menyepak radio itu. Ia merasa bebas sebebas-bebasnya. Tak akan ia dapati lagi lecutan ikat pinggang setebal empu kaki yang biasa menjadi senjata andalan sang kakek tua.

Setiap kali pulang sekolah, bocah itu selalu melewati jalan pemakaman dekat masjid, padahal ia dan kawan-kawannya biasa jalan memotong ke arah bibir sungai agar lebih cepat sampai menuju rumah. Namun, akhir-akhir ini—bertepatan setelah matinya kakek tetangganya—bocah itu memilih berpisah dari teman-temannya dan memilih melewati jalan lain yang nyata lebih jauh. Entah apa yang ada dalam kepala si bocah, rela ia menjinjing sepasang sepatunya sepanjang jalan menuju rumah sebab medan yang dilewatinya adalah bencah, jangankan hujan lebat, rinai saja akan membuat tungkai kumuh terkena percik lumuran tanah.

Hingga kemudian teman-temannya penasaran akan sikapnya. Mereka memutuskan untuk diam-diam membuntuti temannya yang telah membuat tanda tanya besar nanti setelah pulang sekolah.

***

Di muka pemakaman mesjid tepatnya di hadapan sebuah tanah makam yang masih merah, teman-temannya mendapati bocah itu melempar sebuah kerikil sebesar kacang tanah ke arah makam, kemudian bocah itu pergi melanjutkan perjalanan. Entah apa pula tujuannya. Tak hanya hari ini, keesokan harinya mereka terus menguntit perjalanan si bocah, lagi-lagi mereka juga mendapati hal yang serupa dengan kemarin. Hampir seminggu mereka menjadi mata-mata, namun sama saja hasil yang mereka dapatkan.

Setelah genap seminggu memata-matai, kemudian mereka membentuk rapat tertutup layaknya agen rahasia yang kemudian menghasilkan kesepakatan untuk ‘membongkar’ sikap seorang teman mereka yang mendadak aneh.

Keesokan harinya sebelum si bocah melakukan aksinya—melempar kerikil ke arah makam—tiba-tiba tiga tubuh menyergap mendadak tepat dihadapannya.

“Hep, sedang apa kau disini? Apa yang kau lakukan? Mengapa beberapa hari ini kau tak mau pulang bersama kami, malahan kau mau memilih jalan ini yang jelas-jelas lebih jauh?” tanya seorang anak laki-laki berlagak galak layaknya polisi menginterogasi perampok yang kedapatan mencuri.

“Ssstttt… diam…,”

Belum sempat ia melanjutkan penjelasan, lagi-lagi para polisi kecil itu menyalakkan jejeran pertanyaan beruntun.

“Dan mengapa setiap hari kau melemparkan kerikil ke arah makam kakek itu?”

Kembali belum sempat ia mecoba menjawabnya. Tiba-tiba saja sebuah gemuruh beriringan dengan petir menyambar keras.

Duarrr…!!!

Alang kepalang mereka terpontang panting berlari kaget ketakutan. Hingga terkumpulah mereka yang lari berhamburan akibat petir mahadahsyat tadi pada sebuah pondok kecil di tepian sawah.

Bocah itu mencoba menenangkan rekan-rekannya yang sedari tadi memasang muka curiga.

“Ssttt… apa ku bilang, kalian jangan berisik!”

Ia arahkan telunjuk ke dekat bibir seolah memberi isyarat kepada teman-temannya agar diam. Seketika semua mengikuti. Hingga kemudian suasana mendadak hening, tak ada lagi petir menyambar, pun tak ada geger gemuruh.

“Mengapa kalian disini?” bocah itu mencoba memulai permbicaraan

“Jujur, kami curiga terhadap sikapmu selama ini. Sebenarnya ada apa di balik semua ini?” dengan nafas satu dua sisa lari terbirit akibat terkejut tadi, seorang dari mereka mencoba bertanya.

“Ceritanya panjang. Aku akan menceritakannya kepada kalian, asal kalian janji takkan menceritakannya kepada siapapun,” tampak air muka bocah itu menunjukan rupa serius. Seperti akan membongkar sebuah rahasia besar saja mereka. Semua tak sabar ingin mendengarkan, telinga mereka tegakkan setegaknya.

“Aku telah membunuh kakek itu.”

Dengan yakin bocah itu berkata, nada bicaranya tegas dan tepat. Matanya tegar menyiratkan kekuatan. Seketika semua terperanga mendengar pernyataan itu, tiada mengira sebelumnya, salah seorang teman mereka yang biasa rajin membuat keusilan kini telah berubah menjadi pembunuh kecil. Mulut mereka sedikit terbuka mencengang, tubuh mereka beku seketika. Sepersekian detik saja, sebelum si bocah melanjutkan penjelasan.

“Aku kesal dengan ulah kakek itu, ia seperti mempunyai dendam kesumat denganku. Apa saja yang kulakukan dimatanya salah.”

“Salah bagaimana?” seorang dari mereka, anak lelaki hitam dengan dagu berlipat-lipat mencoba bertanya.

“Pernah, ketika aku melewati depan rumahnya, ia marah sejadi-jadinya kepadaku sebab ia merasa ketakutan akan raib buah mangganya, padahal mangga itu begitu lebatnya, berapa kali dipetikpun pasti akan tumbuh kembali. Sudah kucoba elok memintanya barang sebuah, namun bukannya mangga yang kudapat, malah caci maki keluar dari mulutnya. Lebih baik kuambil saja diam-diam tanpa sepengatahuannya, hanya sebuah, pasti takkan ketahuan, pikirku. Namun keesokan harinya ia tahu buah mangganya hilang sebiji, dan aku baru tahu kalau setiap pagi ia akan selalu menghitung jumlah mangga yang tergantung di pohon.”

Panjang lebar bocah itu membagi kisah kepada teman-temannya yang sedari tadi sabar menyimak setiap ucapannya.

“Lantas, mengapa setiap hari kau melewati tempat ini dan melempari makam kakek itu dengan kerikil?” teman yang lain melempar tanya.

“Aku ingin membangunkannya, dengan membuat ia kesal, sebab jasadnya aku ganggu. Biar ia hidup lagi dan memarahi ku sejadi-jadinya kembali di bumi. Aku rela ia melecutku lagi dengan ikat pinggangnya. Aku takut ia bercerita panjang lebar kepada Tuhan tentang keusilanku.”

***

Pada suatu senja, sesosok mahluk bertubuh besar dengan jubah putih dan dua buah sayap lebar mengepak, datang menghampirinya. Menggigil geraham bocah itu melihat rupa itu perlahan turun dari langit.

“Hai bocah, aku mendapat kabar dari malaikat penjaga kalau kau telah membunuh seorang kakek, apa itu benar?”

“I… i… iya be.. nar,” ragu-ragu bocah itu menjawab.

“Ampunilah dosanya Tuhan. Menurut kabar, kau pun sering mencuri mangga milik kakek itu semasa ia hidup?”

“I… i… iya be… nar,”

Peluh semakin deras menetes sekujur tubuhnya. Gemetar ia menjawab tiap pertanyaan dari makhluk raksasa di hadapannya. Dalam pikirnya, apa kakek telah menceritakan kepada seisi jagad akhirat? Hatinya kalut sejadinya.

“Ampunilah dosanya Tuhan. Bisakah kau tunjukkan dimana letak pohon mangga itu?”

“I… i… iya bi…sa.”

Tubuh kecil itu kini berada dalam genggaman erat balutan telapak tangan mahluk besar. Dibawanya terbang menuju arah yang ditunjukan si bocah.

“Ini pohon mangga milik kakek,” katanya sembari telunjuknya mengarah tepat kepada sebuah batang besar di hadapan mereka.

Laksana garuda yang hendak mendarat, sayap mahluk itu menutup pelan, tubuhnya menukik, kakinya yang besar seketika menapaki muka tanah. Diletakannya tubuh kecil yang semenjak tadi berada dalam genggamannya.

“Terimakasih bocah atas petunjukmu. Aku kesini diperintahkan Tuhan untuk mengambil biji mangga ini yang rencananya akan ditanam di pekarangan surga berdekatan dengan jejeran pohon-pohon kuldi.”

Tanpa kata perpisahan, mahluk itupun seketika menghilang lenyap dari hadapan bocah kecil yang kian terpaku mendapati kejadian yang baru saja ia alami. Tiba-tiba ia teringat kepada senyuman kakek sesaat sebelum kematiannya, begitupun ikat pinggangnya.

 Padang, 4 September 2011

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.