Melihat Perpaduan Tiga Budaya di Masjid Rao-rao

Juli 7, 2016

Tayang di NET TV, 7 Juli 2016 ||

Tayang di NET TV, 7 Juli 2016 ||

Masjid Raya Rao-rao merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia yang masih kokoh  berdiri hingga saat ini. Masjid ini terletak di Nagari Rao-rao, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, persis di jalan lintas Batusangkar – Bukittinggi. Jika dilihat dengan saksama, Masjid dengan luas 16 x 16 meter ini memiliki keunikan gaya arsitektur yang memadukan langgam rupa bangunan yang kental dengan corak arsitektural dari tiga bangsa (eklektisisme): Melayu (Minangkabau), Eropa (Italia dan Belanda), dan Timur Tengah (Persia).

Citra khas Minangkabau terwujud pada atap masjid yang membentuk tumpang empat dan pada puncak masjid membentuk gonjong yang mengarah pada empat penjuru mata angin. Sentuhan khas Eropa jelas nampak dari megahnya tiang-tiang masjid serta desain keramik di lantai masjid yang begitu unik. Pada bagian luar di antara tiang terdapat pola lengkung yang kental dengan sentuhan arsitektur Hindia Belanda. Nuansa khas Timur Tengah (Persia) kentara pada kekayaan rupa ornamen penghias dinding bagian luar maupun pembentuk pagar teras masjid.

Dalam sejarah pembangunan Masjid Raya Rao-Rao, dilakukannya pencarian lokasi yang tepat untuk didirikan masjid pada tahun 1892. Kemudian dilakukan pembangunan masjid dan selesai 1916. Pertama kali dibangun dari masjid adalah tiang di dalam bangunan. Tiang di masjid ini disebut Soko Guru terdiri dari empat buah yang gagah, keempat tiang tersebut menunjukkan jumlah Niniak Mamak yang ada di Nagari Rao-rao yaitu Chaniago, Bendang Mandailing, Koto Piliang, dan Petapang Koto Ampek.

Selesainya pembangunan masjid 1916 belum sepenuhnya sempurna, karena lantai masjid belum di marmer.  Belum terwujudnya lantai marmer karena terkendala masalah dana, sehingga para pemuka nagari datang ke Malaysia untuk mencari sumbangan dana pemasangan marmer lantai yang akhirnya disanggupi. Lantai marmer pemesanannya di Eropa, tepatnya dari Italia. Marmer yang dipesan merupakan marmer tipe nomor dua dari tiga tipe yaitu tipe nomor satu, dua, dan tiga. Dipesannya marmer tipe dua karena berkaitan dengan masalah dana, dimana dana yang ada tidak cukup untuk memesan marmer tipe satu. Proses pengiriman dilakukan langsung dari Italia dengan menggunakan kapal yang kemudian sempat singgah di Malaysia (Selat Malaka). Dari Malaysia dilanjutkan menuju Padang (Pelabuhan Teluk Bayur) yang dilanjutkan dengan Kereta Api menuju Piladang (Payakumbuh). Dari Piladang dilanjutkan menggunakan pedati  menuju ke Rao-Rao.

Jendela pada Masjid Rao-Rao berjumlah 13. Jumlah jendela tersebut memiliki makna perwujudan 13 rukun sholat. Selain jendela, terdapat enam buah pintu, enam pintu itu memiliki perwujudan enam  penciptaan masa alam.

Tahun 1932 selesainya pembuatan mihrab. Mihrab di Masjid Rao-Rao cukup unik dimana terdapat ornamen berupa pecahan-pecahan kaca yang merupakan pecahan kaca dari keramik kepunyaan keluarga Haji Mutahhib yang pecah saat gempa 1926. Keunikan lain dari mihrab terdapat dua tiang yang berbeda bentuk, tiang tersebut melambangkan destar penghulu dan tiang satunya melambangkan sorban alim ulama. Makna dari kedua tiang tersebut menunjukkan keselarasan antara ajaran adat dengan ajaran agama yang disampaikan oleh khotib di dalam mimbar

Selain untuk sholat, masjid ini digunakan untuk kemaslahatan umat, pembinaan generasi muda, dan pendidikan. Di samping masjid terdapat sekolah yang masih dalam area masjid, sekolah tersebut berdiri sejak pertengahan tahun 1920-an diprakarsai Haji Pakiah Salih dengan temannya Haji Ja’far Abdullah dan juga bantuan beberapa ulama nagari. Sekolah tersebut dikenal dengan Diniyyah dan sekolah ini masih eksis sampai 1981.

Tahun 1925, masjid ini bahkan pernah dikunjungi oleh Syekh Abdul Karim Amrullah, ayahanda Buya Hamka. Kedatangan Syekh Abdul Karim Amrullah mengadakan tabligh akbar dalam rangka peringatan 10 tahun berdiri Masjid Raya Rao-Rao. Masjid Raya Rao-Rao tidak hanya dikunjungi dari dalam negeri tetapi juga luar negri.

Masjid Rao-Rao termasuk dalam salah satu situs Cagar Budaya di Kabupaten Tanah Datar. Sudah selayaknya, dengan ditetapkan sebagai Cagar Budaya, maka masjid ini dapat tetap bertahan. Peran serta pelbagai pihak, utamanya masyarakat dalam upaya pelestarian akan serta merta memperjang usia masjid secara fisik, pun mempertahankan nilai-nilai sejarah, arsitektur, dan keagamaan untuk dapat dirasakan hingga generasi penerus kelak.

Sumber: wawancara bersama Mahfuz Idris Dt. Rajo Nan Paik, pengurus masjid

Tim Kreatif:

Dafriansyah PutraGilang AdityaHarry Iskandar Wijaya (Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat)

Behind the Scene

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.