Menanti Ketajaman Pribumi

Mei 13, 2014

Dimuat Tabloid BOLA, Selasa, 13 Mei 2014 ||

Kompetisi Liga Super Indonesia 2014 telah memasuki jeda paruh I. Masing-masing klub tentu sudah berupaya maksimal demi pencapaian target yang dipatok jauh-jauh hari.

Realitas di lapangan pun beragam. Beberapa klub sementara dapat bernapas lega dengan torehan angka tinggi, sedangkan kontestan lain dipaksa memutar otak guna mendongkrak posisi menuju empat derek teratas agar turut menjadi lakon dalam babak delapan besar.

Bahkan, klub yang sementara menempati papan bawah mesti gencar menilik amunisi-amunsi baru dalam upaya mengelak dari jurang degradasi.

Selepas menggelar laga pamungkas Kamis (8/5), ada sebuah fakta menarik tersaji di papan daftar pencetak gol. Pada daftar lima pencetak gol teratas, dominasi nyaris dipegang penuh oleh nama-nama pemain ekspatriat.

Pada posisi puncak bercokol nama Emmanuel Kenmogne. Pemain asing Persebaya ini sukses membukukan sembilan gol, diikuti Ilija Spasojevic dengan tujuh kali mencabik jala lawan.

Berikutnya, enam biji gol dikemas oleh James Koko, Alberto Goncalves, dan satu-satunya nama pribumi, Syamsul Arif. Beruntung pada pertandingan pamungkas, hattrick yang dilesakkannya ke gawang Gresik United membuat nama Syamsul Arif menyelinap dalam gengsi para pendulang gol.

Pada deretan lima gol masing-masing mencatatkan nama: Gustavo Lopes, Djibril Coulibaly, Esteban Viscarra, Kenji Adachihara, Herman Dzumafo, serta duo naturalisasi, Cristian Gonzales dan Greg Nwokolo.

Ke mana nama-nama pemain lokal? Tak dapat dimungkiri, tujuan akhir dari sebuah pertandingan sepak bola adalah menentukan pemenang, sedangkan kemenangan ditandai dari keunggulan jumlah gol.

Sudah tentu setiap tim mutlak ingin mendulang angka pada setiap laga. Menempatkan pemain depan berkualitas adalah sebuah pilihan jitu dalam mengakhiri permainan dengan gol demi gol yang diharapkan.

Nilai Plus

Fenomenanya, tidak sedikit klub di Indonesia yang memberikan sepenuhnya peran tukang gedor kepada pemain-pemain bukan lokal, dengan asumsi memiliki nilai plus pada postur, tenaga maupun skill individu.

Mirisnya, permainan sebuah tim kerap mengandalkan dan amat bergantung kepada para penyerang asing. Bahkan, ada tim yang memasang sekaligus dua penyerang asing sebagai starter.

Kerakusan, atau bahkan dapat dikatakan nafsu, berburu kemenangan serta merta membuat penyerang lokal tidak lagi kebagian podium.

Menjadi sebuah ironi manakala kita menyaksikan sosok pribumi kerap diposisikan sebagai “pelayan” atau bahkan ditepikan dari list pemain utama. Padahal, belum tentu kemampuan striker asing lebih bagus daripada penyerang lokal.

Hal ini jelas berimplikasi langsung kepada komposisi punggawa di dalam tim nasional. Harus diakui, belakangan timnas kita minim penyerang haus gol. Sulit menemukan pemain bertipikal “predator”.

Pilihan jatuh kepada bintang naturalisasi. Kapabilitas mereka diharapkan dapat memanggul asa bangsa.

Mekanisme semacam ini kelak akan menjadi konsekuensi bagi perkembangan para penyerang muda. Minimnya jatah jam terbang jelas akan membuat kesempatan bagi sosok potensial untuk mengasah kemampuan tak lagi tersedia. Bahkan, amat disayangkan jika nama mereka akan redup seiring bergulirnya waktu.

Tahun ini, PSSI telah memangkas kuota pemain asing, dari sebelumnya lima, kini menyisakan empat. Syarat lain, hanya tiga pemain diizinkan turun pada saat pertandingan. Tentu regulasi ini cukup membawa angin segar bagi pemain-pemain lokal untuk unjuk gigi.

Kita berharap banyak pada idealisme klub sebagai “kawah candradimuka” dalam menempa ketangguhan pemain serta menciptakan tuah pada kaki-kaki pribumi. Sungguh, sudah lama kita tidak melihat sosok penyerang lokal yang rajin memborong gol.

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.