Daun-daun Menerpa Wajah

Mei 4, 2014

Dimuat Padang Ekspres, Minggu, 4 Mei 2014 ||

Daun-daun itu luruh seperti sekawanan bidadari menukik dari surgaloka. Mataku seakan tak ingin berkedip memandanginya. Dalam tengadahku yang panjang, daun-daun tua dan kerontang seperti berebut menyentuhku dan beberapa singgah di wajahku, wajah utuh kegembiraan, lalu membaur bersama guguran lain.

Kebahagiaan ternyata benar-benar ada. Ia bersembunyi di balik hal-hal sederhana. Bukan di dalam rumah bertingkat dengan segala nuansa kepongahan. Bukan di segunung uang dan tumpakan harta. Bukan pula dalam linangan puji-puja penghormatan. Sekali lagi kukatakan, kebahagiaan bermukim di balik hal-hal sederhana. Seperti aku dan daun-daun bercorak kuning pucat dan kecokelatan yang ringkai ini. Sebagaimana aku dan saat-saat yang kelak kudambakan berulang dan berulang terjadi.

Ada yang mendorong pintu pagar. Seketika timbul suara yang ngilu terasa di gigi. Diikuti deruman mesin mobil, sekali waktu keras dan selepas kemudian reda bagai bisu. Tak lama berselang, roda pagar yang tinggi lagi rapat itu kembali mengilukan gigi, pertanda besi angkuh itu sudah kembali tertutup rapat seperti sediakala.

Ah, sial! Mengapa aku tak sadar kepada waktu. Ini sudah terlalu lama. Semestinya aku ingat ini waktu untuk ibu pulang. Dan sebentar lagi, ibu… ibu akan menjadi mawar… mawar beracun… mawar yang dilindungi duri-duri. Di tumpakan daunnya akan muncul kuku-kuku yang lekas mencakar mukaku. Batangnya akan melayang lalu melecuti tubuhku. Serabutnya melilitiku. Mahkotanya akan tanggal helai demi helai, menyumpal liang hidungku hingga aku kesulitan bernafas. Tapi ibu… ibu tetaplah mawar.

Belum sepenuhnya aku membayangkan keseraman demi keseraman, ibu telah terlanjur memasuki rumah. Tubuhku masih membeku ketika ibu melongokkan kepala ke jendela. Sebentar tatapan matanya dingin dan terasa menikam menuju lorong gelap di kedalaman mataku. Sebelum kemudian tatapan itu beralih kepada daun-daun yang lunglai dan menelungkup tak berdaya.

“Bersihkan dengan mulutmu!” hardik ibu. Intonasi suara yang kurasa tak ada beda dengan hari-hari lampau. Dan tentunya dengan kalimat yang selalu sama. Ibu menarik kepalanya dari jendela. Tirai kelabu yang mempelok jendela itu terhuyung dibuai angin.

Sudah biasa bagiku dipaksa memunguti daun-daun itu dengan mulut, untuk kemudian dimasukkan ke tong sampah. Tenang saja, kebahagiaan tadi sementara akan sirna. Ya, hanya untuk sementara. Percayalah. Sebab esok aku akan melakukan hal yang sama lagi.

Begitu menyenangkan bermain-main dengan jatuhan yang orang-orang katakan daun-daun—bagiku, mereka adalah bidadari-bidadari bersayap halus yang mau menemaniku, bahkan lebih dari itu, mereka berkenan menari dengan jiwaku. Kami juga suka bernyanyi: jatuhlah daun di tanah, jatuhlah daun di pedalaman hati.

Entahlah. Mengapa aku begitu mencintai daun-daun yang berguguran. Aku merasa begitu gembira saat menyaksikan puluhan daun-daun itu serempak berjatuhan—ah bukan, lebih tepatnya, aku merontokkan mereka dengan kesengajaan; dengan mengguncang-guncang batangnya, atau jika cara itu tak berhasil paling tidak dengan berdoa supaya angin cepat-cepat datang. Aku menikmati suasana itu dengan mengepakkan tangan sembari berputar-putar dalam mata yang terpejam. Aku membayangkan sesuatu. Entah apa. Tak jelas bentuknya, tak paham aku pada warnanya. Yang kulihat hanya keindahan. Indah yang terasa bukan dari mata, tapi mekar dari perasaan. Ada ketentraman, ketenangan—ah, bahkan lebih daripadanya. Terkadang hadir seperti sosok manusia, atau mungkin Tuhan? Entahlah.

***

Ibu tak suka aku senantiasa berlama-lama di bawah pohon di samping rumah. Ibu katakan aku anak bodoh—meski ini bukan kali pertama ibu mengatakan hal itu. Maka dalam waktu dekat ibu berinisiatif akan menebang pohon itu, agar aku tak lagi membuang-buang waktu dengan kegiatan—baginya tentu—tak berguna. Jelas itu dilakukan supaya pekerjaan rumah yang ibu tugaskan kepadaku tidak lagi terbengkalai.

Benar saja, dua hari setelah itu, aku melihat Pak Parjo datang membawa tiga orang berbadan kekar. Dengan beragam perkakas tajam dan mesin-mesin yang kelihatan kokoh, mereka bergotong-royong membunuh bidadari-bidadariku.

“Maaf Nes, Bapak sebetulnya nggak tega. Tapi kalau ibu yang sudah nyuruh, Agnes kan tau sendiri, artinya apapun itu kudu dikerjakan, ” ujar Pak Parjo untuk kesekian kalinya berusaha meminta maaf, setelah melihat aku terduduk menangis tak henti di dekat mereka bekerja.

Perlahan tangkai-tangkai dipatahkan. Rerantingan dipotong inci demi inci. Lambat laun dahan berderak kemudian jatuh menghantam tanah. Dum! Hingga yang tersisa hanyalah sebuah batang dan akar yang menguatkannya. Aku menutup mata tak sanggup melihat apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Meskipun begitu, suara mesin dan suara dum yanglebih keras seakan saling bersahutan dan itu kudengar dengan jelas. Bisa saja aku berlari menjauh, akan tetapi aku merasa tak tega dan berjanji akan tetap berada di dekat pohon itu, apapun yang terjadi.

Sampai matahari hampir terbenam, ibu belum juga datang. Pak Parjo pulang setelah memastikan seluruh sisa pekerjaannya sudah dimuat ke dalam mulut truk untuk kemudian di buang entah ke mana.  Aku masih terpaku di bekas pohon itu tumbuh. Membayangkan daunnya, ranting dan juga batangnya, seakan-akan kembali hadir. Membayangkan bidadari-bidadari yang senantiasa bermain bersamaku.

***

Sekali ini ibu pulang terlalu larut. Hampir pukul sembilan. Dan kali ini ibu pulang dengan membawa seseorang yang asing bagiku: seorang lelaki yang kurasa sedikit lebih tua dari ibu atau bahkan sepantaran.

Aku masih berada di tepian jendela, terpekur memadangi bekas pohon yang kini telah lenyap, ketika ibu memanggilku ke dalam kamarnya. Lekas kusingkap tirai penutup kamar ibu. Aku terkejut melihat lelaki itu ternyata ibu bawa ke dalam kamarnya.

Sebentar ibu tersenyum kepadaku. Jujur, sekali ini aku melihat senyum ibu sebegitu indahnya. Aku bahagia memiliki ibu yang cantik.

“Ini dia. Gadis manis yang kutemukan di dalam buah yang luruh. Kusiram ia dan kupupuki hingga ia seperti apa yang kau saksikan sekarang. Hanya memang seperti remaja sewajarnya, ia tak begitu banyak bicara.”

Kepala ibu jatuh di bahu lelaki di sebelahnya. Dan tubuh yang menopang itu membalasnya dengan elusan kecil pada ubun-ubun ibu. Ibu menyuruhku menyalami lelaki itu. Ibu katakan bahwa ia adalah ayahku. Ayah. Ini kali pertama aku melihat sosok ayah. Biasanya, dari apa yang ibu katakan setiap kali bila aku bertanya tentang ayah, ayahku adalah rumput teki di tepian sumur. Dan ketika aku bertanya lebih jauh, ibu memarahiku, sehingga aku tak berani meluapkan keingintahuanku selain daripada mengira-ngira di dalam renung.

Bagai acuh kepadaku, ayah—maaf, aku agak tergagap menyebut kata asing itu—lebih memberikan perhatian kepada ubun-ubun ibu. Dielusnya hingga ujung rambut itu tergerai, lalu kembali ke ubun-ubun dan meluncur seperti ada kesenangan dalam telapak tangannya. Begitu mesra ibu dan… maaf aku lupa… ayah, ya, ayah.

“Sepertinya dia butuh waktu lebih untuk mengenal dirinya,” lelaki itu berbisik kepada ibu. Bahkan menurutku itu bisikan yang disengaja sedikit dikeraskan. Biar aku bisa mendengarkan.

“Kau yakin?” Ibu memandangnya dengan memasang raut tidak percaya, atau aku melihat lebih kepada air muka kebahagiaan.

Ayah bergerak tegas. Pada bibirnya yang sedikit tebal itu muncul sebuah senyum. Seperti paham, ibu beranjak ke luar kamar dan menutup pintu. Tidak… Ibu bahkan menguncikanku dari luar.

Ayah mendekat. Aku tak mengerti apa yang akan terjadi. Detik-menit terlewati begitu lambat. Nyaris terasa berhenti. Bagai hampa. Ruang terasa lompong dengan dominasi warga pekat. Betapa pengap. Ayah semakin mendekat. Tidak mungkin, lelaki itu tiba-tiba menjelma batang pohon di samping rumah. Batang pohon yang senantiasa menjanjikan keteduhan kala kuberada di sandarannya. Batang itu telah mati. Ditebang Pak Parjo, ah bukan, ditebang ibu. Tapi… tapi… mengapa batang itu kembali hadir. Ia melilitiku. Batang itu seperti menjalar ke punggung, menuju paha, kerampang, mengait betis, mengebat punggung, kembali ke kepala untuk mengelus-elus ubun-ubunku seperti perlakuannya pada ibu.

***

Fajar menebar, menerobos kisi-kisi kamar ibu. Dengan cahaya samar aku menoleh ke sebuah cermin lebar di sebelah lemari. Aku masih dapat menyaksikan batang pohon itu dari dalam cermin. Tegak bagai menjulang. Namun, aku… aku tak ada! Aku lenyap! Aku ke mana? Cermin penipu! Ah tidak… aku tidak ke mana-mana. Aku dapat merasakan aku. Aku, ini. Ini aku. Aku kembali menoleh. Di dalam cermin, aku melihat daun-daun yang berguguran.

Padang, 2014

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.