Meniti Jalan Menjumpa Sang Pujaan

Juli 16, 2020

Secarik kupasan ringan selepas menonton film Kamulah Satu-satunya (2007)

Sumber gambar: https://mubi.com/id/films/kamulah-satu-satunya

Perihal Pengagum dan Kekaguman

Hasrat untuk berjumpa dengan idola sejatinya tak akan mampu dibendung dengan apapun, termasuk oleh kenyataan. Sekiranya jarak terbentang, akan diupayakan jalan untuk menempuh. Seandainya rintang menghalang, akan dikerahkan segenap daya untuk menerjang. Agaknya demikian kodrat sang pengagum terhadap sosok yang dikagumi.

Apapun akan dilakukan, sebab di dalam bayangan hanya ada wajah sang pujaan, karena di relung hati semata terisi oleh sosok panutan. Jika ditanyakan mengapa? Tentu tak lain jawab terlontar: “demi idola”. Meski apa yang dilakukan terkadang tergolong tak biasa, bahkan cenderung gila. Begitulah senyatanya—sekali lagi izinkan saya menulis—“demi idola”.

Setiap kita tentu memiliki sosok idola. Mulai dari orang-orang yang berada di sekitar kita, bahkan sosok yang tak pernah bertemu muka, sebatas di layar kaca, atau lantaran karya yang dihasilkannya mampu menggugah rasa.

Lantas, seberapa kadar kita mencintai sang idola? Boleh jadi semata memuji, sekadar memuja, merasa sikapnya dapat dipanuti, bahkan kehadirannya disadari atau tanpa disadari malah telah memengaruhi diri dalam berperilaku.

Beragam polah tingkah para pecinta, puncaknya: menjurus obsesi. Walhasil akan sah disandingkan titel “maniak” bagi siapa saja yang telah menakhtakan idola di atas segalanya. Bahkan, tak akan sangsi lagi untuk berkata: “Kamulah Satu-satunya”.

Persis dengan judul film garapan Hanung Bramantyo di 2007, karya sinematik yang ditulis trio: Raditya, Key Mangunsong dan Hanung Bramantyo ini berhasil mendaulat siapa pun penonton selama 109 menit akan menjelma sosok Baladewa, penggemar grup musik Dewa 19.

Premis cerita dengan goal jelas: seorang baladewa yang ingin bertemu dengan personel band pujaannya, dengan apik diwakili oleh karakter seorang gadis dari kampung pesisir, Bayah, Banten. Adalah Indah, yang dengan pelbagai cara berusaha memijakkan kaki di tanah Jakarta, berkorban dan melewati berbagai halangan, demi bertemu band yang digawangi Ahmad Dhani ini.

Perjuangan Indah, bagi saya, menjadi representasi sosok yang tidak sekadar mendedikasikan diri pada idola dengan sekadar memajang poster serta mengoleksi kaset pita di kamarnya semata, namun betapa segala upaya yang lahir dari dalam diri Indah telah mengejawantah sebagai manisfestasi rasa cinta. Hal itu nyata diunjukan dengan kesungguhan. Gagal memenangkan sayembara, lantas berusaha merayu si pemenang kupon. Tidak direstui Abah ke Jakarta, malah ia diam-diam memilih kabur. Begitu pun setiba di ibukota, tak satu-dua aral melintang, senantiasa dihadapi dengan pasti.

Ikhtiar Menjalani, Nasib Menyurati

Teringat petuah lama, “suratan sabut terapung, kodrat batu tenggelam, ikhtiar kelak menjalani, nasib pasti menyurati”. Segala sudah digariskan, telah pula menjadi ketetapan. Perjuangan Indah yang sarat halangan demi rintangan, pada akhirnya akan menjadi prakasara yang membentuk kebaruan paradigma bagi diri Indah; kiranya keluarga ada di atas segalanya.

Hanung pun tak segan menyelipkan balutan jenaka pada sejumlah adegan. Puncak kelucuan yang membuat karya ini akan senantiasa membekas agaknya sengaja disimpan di akhir, semata tiga detik yang sekaligus menjadi penutup layar cerita. Ketika Indah melihat lembaran potret dirinya yang terkapar tak sadarkan diri, namun ternyata dikelilingi personel Dewa 19 yang senantiasa ia impikan. Indah girang, tak tampak miris, manakala menatap potret itu. Layaknya kemenangan yang menjadi pelampiasan atas segala perjuangan.

Agaknya Hanung seperti hendak menyiratkan kedalaman makna: jika kau sudah berusaha sekuat daya upaya, jangan kaget kelak kau akan menerima hadiah yang terkadang tidak pernah dikira sebelumnya, akan datang dari mana, dan akan tiba dalam bentuk apa.

Bagi saya, film ini betapa tidak sebatas menjadi tayangan yang dirajut dari adegan ke adegan apik dan jujur semata–Hanung tampaknya mencoba menyuguhkan realitas kota apa adanya, bahkan pengambilan sejumlah gambar tanpa menggunakan tripod. Lebih dari pada itu, “Kamulah Satu-satunya” mampu membuat saya berkontemplasi kepada yang “satu-satunya”, bahwa manusia yang mengidolakan manusia saja akan berkenan melakukan apapun demi sosok sang inspirasi, semestinya kepada yang “satu-satunya” pun kita harus berbuat dan melebihi dari sekadar mengejar, pun sedapat mungkin tatap Dia dengan kesungguhan. Buktikan dengan perbuatan.

Apa pasal mengagumi tapi tak pernah saling bertatapan mata? Maka temuilah dengan berbagai cara, sebab begitulah seni mencinta. Maka datangilah dengan segenap kesungguhan, sebab begitulah wujud sejati pengorbanan.

14 People reacted on this

  1. Ternyata terinspirasi dari Film ya min ?
    Memang sih untuk bertemu dengan sang pujaan mempunyai Nilai rasa yang berkesan, apalagi kalau benar-benar ketemu langsung secara 4 mata.
    Btw mimin pernah mengalami ya ? hehehe…

  2. Jangan sampai menjalani hidup dengan rasa sesal. Sebab, semua pengorbanan patut dilakukan demi sang pujaan. Ntah itu untuk zat yang satu satunya maupun makhluk yang satu satunya

  3. Kamulah satu-satunya, saya rasa juga mengingatkan saya mengenai Tuhan. Penyaji sastra mungkin bisa merepresentasikan menjadi ulasan sebaik ini, salut mas.
    Jadi pengen nonton filmnya juga…

  4. Saya salah satu penggemar lagu Dewa sampai saat ini. Bahkan saya menyimpan beberapa album di laptop saya.hhe

    Saya mengidolakan Dewa karena arrasement musiknya, dan lagunya yang mistik..

  5. Saya jadi ingat dulu suka banget sama One Direction. Nabung sampai kekumpul dua juta, masa SMA dan itu pasti penuh perjuangan. Pas mereka mau konser di Indonesia, Zayn ke luar dong,,,, alhasil sakit hati dan uang tabungan kubuat keperluan masuk kuliah, enggak jadi liat konser.

  6. Republik cinta.
    Dulu seneng banget dengerinnya, bahkan tiap hari di setel di tape.. dan kalo dengerin radio pasti lagu dewa19 yg di request..hehe

  7. Pilihan katanya bagus banget kak.. Ceritanya juga mudah dipahami.. Terus berkreasi yaa.. Bakatnya dikembangkan teruss.. Semoga besok bisa jadi penulis terkenal atau mungkin besok bisa buat novel

  8. Tadinya mau ulas film ini juga via YT, tapi ga sempat.

    So far, film ini bisa mengajarkan kita saat punya idola tak harus mendewakan fanatik seperti apa yang dilakukan oleh Nirina. Toh, akhirnya dia bertemu saat dalam kondisi pingsan saja.

  9. Jujur, bagi aku sendiri memiliki seorang idola punya banyak sisi positifnya, tidak hanya mengagumi tetapi juga bisa meneladani sikapnya. Tapi kalau saya si bukan tipe yang fanatik sama idola, ya cuma sekadar mengagumi dari jauh

  10. Saya sendiri malah tidak punya idola, di film kamu lah satu-satunya sosok baladewa ini menurut saya sangat keren dia sampai merantau ke Jakarta untuk bertemu sang idola

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.