Cagar Budaya; Refleksi Ruang Wisata Berwawasan Lingkungan

April 24, 2020

Pemanfaatan Candi Muara Takus, Kampar-Riau

Aktivitas manusia yang berkaitan langsung dengan lingkungan kerap dicap memberi dampak negatif; dari tindakan vandalisme hingga upaya destruktif, secara sembunyi-sembunyi hingga terang-terangan, oleh diri sendiri hingga sehimpunan orang, dengan ujung jari hingga mesin-mesin canggih, segalanya tak lebih dikuasai tendensi dan ambisi tertentu. Tak dinyana, indikasi semacam ini tentunya akan meresahkan, sementara kelangsungan lingkungan hidup sudah selayaknya mesti terus dijaga dan dilestarikan demi kehidupan generasi selanjutnya. Seakan menjadi kesangsian tersendiri, apakah manusia mulai enggan mengenali dan memaknai lingkungan?

Pada hakikatnya, lingkungan tidak semata hadir dalam suatu bentuk kasat mata, sebagai bentangan khazanah alam yang kemudian dimanfaatkan untuk pelbagai pendukung aktivitas manusia dalam kehidupan. Namun, lebih dari itu, lingkungan adalah manifestasi manusia dalam memaknai alam, melalui pola-tingkah berkehidupan yang kelak menjadi kebiasaan. Lebih jauh, keberadaan lingkungan akan menjadi ruang kontemplatif manusia dalam memaknai dirinya sendiri; melalui keintiman interaksi dengan nilai-nilai yang terdapat pada komponen pembentuk lingkungan tersebut.

Rafael Raga Maran dalam bukunya Manusia dan Kebudayaan secara implisit menyatakan kesadaran estetis merepresentasikan suatu realitas tertinggi yang bersifat eternal atau abadi, sempurna dan utuh. Oleh karena itu, perhatian akan terserap oleh suatu proses yang mendalam dalam memaknai dan menghayati keindahan sekitardalam pemaknaan lingkungan secara harfiah maupun kontemplatif.

Cagar Budaya dan Ruang Wisata

Tinggalan Cagar Budaya menjadi salah satu ruang yang mampu menghadirkan dan membangkitkan kesadaran estetis, meminjam istilah Rafael Raga. Peninggalan dalam bentuk artefak masa lalu secara langsung berkaitan dengan lingkungan dalam perspektif objekโ€”yang membentuk dan yang dibentuk olehโ€”manusia.

Cagar Budaya menjadi perwujudan karya adiluhung pencapaian manusia dalam membangun peradaban. Ditilik dari latar historis, Cagar Budaya sarat akan kekuatan cerita dan sejarah yang melatarbelakanginya. Sedangkan dari sisi kerupaan, Cagar Budaya hadir dalam pelbagai bentuk wujud artistik yang tumbuh dari kesadaran ekspresif dari masa ke masa. Melalui tinggalan-tinggalan Cagar Budaya tersebutlah jiwa kita masyuk dibimbing menuju lorong-lorong kontemplasi. Kita dibawa menjemput ingatan, mempelajari nilai-nilai penting sejarah bangsa, dan seakan dihadapkan pada sebentang cermin; menakar sampai dimana rasa cinta kita pada budaya leluhur. Maka tak ayal jika suatu lingkungan yang memiliki Cagar Budaya, dengan mengunjunginya akan menjadi satu pijakan yang mampu membangun kontemplasi dalam mengenal diri dan lingkungan.

Interaksi antara manusia dengan lingkungan dapat ditemukan pada ruang lingkup pariwisata. Suatu objek wisata tentunya kerap didatangi pengunjung yang bukan dari domain lingkungan tersebut berada. Manusia dengan sosio-kultur yang beragam akan secara langsung mencoba beradaptasi dengan lingkungan keberadaannya. Pada saat itulah manusia akan melibatkan kesadaran di dalam dirinya dalam memaknai lingkungan sekitar.

Pemanfaatan objek Cagar Budaya untuk kepentingan pariwisata diterapkan dengan pendekatan pada wisata sejarah dan wisata budaya. Kekhasan yang dimiliki objek Cagar Budaya secara umum dengan mengutamakan keunikan, kelangkaan, bersifat terbatas dan tidak dapat terbarui, dilengkapi pula ciri khusus pada masing-masing objek dalam bentuk latar belakang sejarah, pemikiran yang melandasi terbentuknya suatu objek, teknik pembuatan, dsb, serta-merta akan menjadi penarik niat para pendatang untuk menyertakan objek Cagar Budaya di dalam daftar perjalanan mereka.

Ditilik dari konsep pengembangan kepariwisataan, Oka A Yoeti dalam bukunya Pengantar  Pariwisata, sederhananya membagi tiga hal yang mesti dilakukan untuk menjadikan suatu objek meninggalkan kesan bagi para pendatang: 1) something to see, 2) something to do, 3)something to buy. Jika diadopsi konsep tersebut dengan menjadikan Cagar Budaya sebagai objeknya, maka boleh dikatakan Cagar Budaya mutlak memenuhi point pertama, something to see. Keberadaan tinggalan Cagar Budaya yang kebanyakan insitu (berada di tempat asalnya) akan menimbulkan kesan tersendiri bagi pengunjung. Roh dari Cagar Budaya tersebut seakan lebih mudah merasuk saat pengunjung berada langsung di lingkungan yang menjadi tempat terjadinya objek. Imajinasi pengunjung seakan terbawa hanyut ke dalam ruang masa lalu saat objek Cagar Budaya tersebut memiliki peran pada masanya.

Tawaran akan kepuasan dari ekspresi fisik objek Cagar Budaya sekaligus pengetahuan yang dapat memperkaya informasi akan budaya dari gagasan dan konsep yang melatarbelakanginya, akan menjadi karakter yang tidak dimiliki objek-objek wisata lainnya. Entah itu arsitektur bangunan yang khas, latar belakang dibuatnya prasastinya, keunikan pada bentukan relief, dsb. Tentunya, segala akan berkesan jika didukung keberadaan lingkungan yang nyaman dan asri.

Untuk memupuk kesadaran dan kecintaan akan lingkungan wisata perlu dilakukan pendekatan-pendekatan yang bersifat persuasif. Sebab pada dasarnya, kesadaran akan serta-merta terlahir dengan terlebih dahulu melalui proses penghayatan setelah adanya pemahaman dan pemaknaan dari dalam diri seseorang. Adapun guna mengejawantahkan bentuk kesadaran akan pentingnya kelestarian lingkungan, satu di antaranya dengan menampilkan bentuk keasrian lingkungan yang senantiasa terawat dan terjaga dengan baik. Hal tersebut juga dijelaskan dalam Undang-undang No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya pada Pasal 1 poin 27 bahwa pemeliharaan adalah upaya menjaga dan merawat agar kondisi Cagar Budaya tetap lestari. Kemudian lebih ditekankan pada Pasal 75 ayat 1, bahwa setiap orang wajib memelihara Cagar Budaya yang dimiliki dan/atau dikuasainya

Juru Pelihara sebagai Garda Sadar Lingkungan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan dengan perpanjangan tangan Unit Pelayanan Teknis pada daerah-daerah wilayah kerja di bawah Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), dalam upaya melestarikan Cagar Budaya termasuk pemeliharaan lingkungan, telah menerapkan beberapa kebijakan dan inovasi dalam memelihara situs dan lingkungan objek Cagar Budaya.

Lumrah ditemukan, indikasi-indikasi yang berpotensi akan mengintervensi lingkungan situs biasa dipengaruhi: tekanan pembangunan, tekanan lingkungan, dampak bencana alam serta pengaruh kunjungan. Fenomenanya, meskipun nilai penting-nilai penting yang dimiliki suatu objek Cagar Budaya yang telah ditetapkan secara yuridis akan serta-merta ditamengi Undang-undang No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, namun keaslian dan kelestarian lingkungan objek, baik itu berupa situs maupun kawasan, dalam suatu ruang lingkup deliniasi yang telah terbagi dalam beberapa zonasi, mesti lestari dan senantiasa terpelihara pada fisik objek dan lingkungan.

Untuk itu, pemeliharaan objek dan lingkungan secara implementatif lapangan menjadi tugas juru pelihara. Juru pelihara merupakan salah satu tenaga kerja bidang Cagar Budaya yang berada langsung di lapangan dan mempunyai tugas memelihara, menjaga keamanan dan keselamatan Cagar Budaya agar tidak hilang, hancur, rusak atau musnah. Juru pelihara menjadi perpanjangan tangan dalam mengelola objek-objek Cagar Budaya yang tersebar hingga pelosok wilayah. Tugas juru pelihara secara teknis antara lain, terkait objek: melakukan pemeliharaan preventif dengan teknis mekanis kering, mekanis basah, pembersihan situs, pemeliharaan di taman dan sarana prasarana. Terhadap lingkungan dan taman juru pelihara akan melakukan: pembersihan situs, pemotongan rumput, pemotongan pohon yang berpotensi menutupi atau menimpa objek  dan lingkungan penanaman tanaman hias, penyiraman dan pemupukan tanaman hiasa, hingga pembentukan pola taman.

Selain merawat dan memelihara secara berkala, juru pelihara pada situs Cagar Budaya juga dituntut untuk senantiasa menjaga keamanan dan memberi perlindungan lingkungan situs dari indikasi pengerusakan oleh alam maupun manusia. Tanggung jawab juru pelihara juga dibebankan pada situs-situs lain yang berada di wilayahnya, jika terdapat situs lain yang berdekatan namun tidak memiliki juru pelihara. Selain bersentuhan langsung dengan lingkungan situs, juru pelihara pada objek-objek Cagar Budaya juga mesti piawai dalam memandu dan memberi penjelasan kepada pengunjung terkait objek yang dikelola. Upaya ini serta-merta akan mampu menjadi media informatif bagi pengunjung untuk senantiasa menjaga keasrian lingkungan objek Cagar Budaya saat berada di lokasi.

Peran juru pelihara juga tidak semata sehari-hari berkutat dengan kebersihan objek. Juru pelihara atas izin kantor BPCB juga diperkenankan melakukan koordinasi dan kerja sama dengan instansi setempat maupun masyarakat dalam upaya meningkatkan pelestarian objek Cagar Budaya. Hal ini menjadi peluang tersendiri dalam menyebarkan paradigma bersama dalam membangun objek Cagar Budaya sebagai wisata yang memiliki upaya pengendalian dalam menjaga lingkungan sekitar. Begitu pun koordinasi dapat diterapkan pada komunitas Cagar Budaya, LSM pelestari, kelompok keagamaan yang secara langsung menjadikan objek sebagai living monument, serta lembaga-lembaga pendidikan utamanya sekolah-sekolah di sekitar objek sebagai kawah candradimuka penempaan yang mampu menghasilkan generasi muda yang cinta budaya sekaligus sadar akan terjaganya lingkungan. Sehingga, selain peninggalan Cagar Budaya dapat tetap lestari secara fisik lingkungan, peran aktif juru pelihara juga akan mampu menambah pengetahuan masyarakat dan juga pengunjung.

Kinerja juru pelihara juga secara berkala akan dilakukan monitoring dan evaluasi. Dengan adanya kontrol yang dilakukan, ada peringatan dan penghargaan pada setiap juru pelihara didasari oleh parameter-parameter tertentu. Hal ini menjadi bentuk keseriusan dalam mengimplementasi paradigma Cagar Budaya sebagai satu bentuk objek wisata yang sadar lingkungan.

Objek Cagar Budaya adalah salah satu refleksi pengelolaan yang menaruh perhatian penting pada kesadaran lingkungan. Tentunya, hal ini hendaknya dapat menjadi referensi dalam mengelola dan membangun paradigma dalam mengelola objek wisata bukan Cagar Budaya lainnya, dengan tetap mempertahankan semangat sadar lingkungan. Sehingga, lestarinya lingkungan akan berdampak pada masyarakat yang sehat dan sejahtera

43 People reacted on this

  1. sangat bermanfaat informasinya, semoga sukses selalu ya gan. Salam dari blogger pemula

  2. Desa wisata itu masuk cagar budaya juga kah? Saya pernah berkunjung di Bali yang lingkungannya masih tradisional. Banyak memperkenalkan kegiatan konvensional, bahasa daerah, dan sikap gotong royong.

  3. Entah kenapa ya gan jujur dari saya sendiri itu kadang masih kurang tertarik gitu dengan wisata cagar budaya. Kira2 gimana ya gan cara agar situs2 cagar budaya itu bisa lebih terlihat menarik dimata orang macam saya gini? Kan gak mungkin juga mau menyadarkan tentang lingkungan tapi orang pun kurang berminat kesana

  4. Dulu Cagar budaya hanya tidak begitu tertarik oleh warga asli yang menetap disana, tapi kenapa warga asing antusias dengan cagar budaya disini, sepertinya ada sesuatu yang spesial dan berharga dengan cagar budaya.
    Seharusnya warga asli dan pemerintah lebih perhatikan cagar budaya yang ada disini, karena bisa saja tersimpan sesuatu rahasia yang membawa perubahan yang baik.

  5. 1) something to see, 2) something to do, 3)something to buy. Aha, dapet ilmu baru lagi disertai penjelasan yang menarik, makasih banyak. btw cagar budaya akan mengingatkan kejayaan nenek moyang kita dan bisa memupuk rasa percaya diri akan identitas diri, semoga dengan begitu manusia Indonesia akan terpacu untuk sadar bahwa Indonesia adalah negara yang besar dengan kebudayaan yang tinggi

  6. Di daerah rumah saya (beda kecamatan, tapi lumayan deket) ada kawasan candi kecil yg bisa dibilang cagar budaya, sayangnya di sana kurang terawat oleh warga dan pemerintah setempat. Sayang bgt pdhl bisa untuk sarana pembelajaran juga

  7. Berasa baca esai ilmiah untuk lomba, duh keren euy. Kalo ngomongin pemeliharaan cagar budaya saat ini, tentu masih banyak yang menjadi PR. Salah satunya mengenai kebersihan lingkunga. Ya gimana mau bersih kalo pengunjung saja tidak mau berkerja sama dengan petugas/juru pelihara cagar budayanya.

    Tentu kembali lagi pada kesadaran masing2 individu hehe

  8. Cagar budaya sering kali hanya dimaknai sebagai objek wisata. Tanpa melihat pemaknaan yang mendalam. Edukasi ini sangat penting. Jika kita belajar kepada nenek Moyang terdahulu. Mereka sangat mengerhargai alam. Upaya yang dilahirkan tidak adanya ekploitasi alam atas nama ego pribadi seperti sekarang.

    So, Artikelnya sangat bermanfaat

  9. Cagar budaya selain bisa jadi objek wisata sekaligus untuk melestarikan sejarah agar masyarakat dan generasi muda pada tau..

    iotomagz

  10. Saya juga masih heran banget sama orang” yang suka merusak cagar alam gitu.. Udah ada undang” buat yang ngerusak gitu ga sih? Masih greget sama oknum” yang ngerusak gitu..

  11. Saya juga masih heran banget sama orang” yang suka merusak cagar alam gitu.. Udah ada undang” buat yang ngerusak gitu ga sih?

  12. Memanfaatkan cagar budaya menjadi destinasi wisata, baik destinasi wisata sejatah maupun budaya akan memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarat sekitar cagar budaya tersebut. Roda perekonomian daerah tersebut akan tumbuh dan berputar..

  13. Bagus sekali min artikel tentang cagar alam, dan Aktivitas manusia yang berkaitan langsung dengan lingkungan kerap dicap memberi dampak negatif.
    True

  14. Baca artikel yang lengkap dan berkualitas ini jadi ingat pelajaran waktu aku kuliah. Aku anak Manajemen pariwisata jadi dapat mata kuliah Pengantar Pariwisata, buku wajibnya ya buku karya Oka A Yoeti yang dijadikan referensi di sini.
    Aku baru tahu jika Juru Pelihara begitu penting keberadaannya dan bertugas sebagai sebagai Garda Sadar Lingkungan. Terima kasih untuk sharing wawasan yang bermanfaat ini, Kak

  15. Salah satu wisata favorit saya adalah cagar budaya, Mas. karena selain bisa melihat peninggalan zaman dulu yang sangat berharga, saya juga bisa belajar sejarah dibaliknya.
    Hanya memang sayang, kesadaran masih kurang, terutama anak muda. Seringnya banyak corat-coretan atau bahkan mereka mengambil sesuatu yang dianggap keramat. jadi memang kewajiban kita semua untuk menjaga cagar budaya yang ada.

  16. Dari sekian banyak artikel cagar budaya yang saya baca, artikel ini yang paling mengulas lebih jelas.

    Cagar budaya didaerah saya kadang gk keurus mas, dibiarkan begitu saja. Abis tempatnya beda-beda dan berjauhan. Padahal bernilai tinggi sebenarnya, cma rata-rata ketutup lumut.

  17. Cagar budaya padahal banyak banget potensinya mas.
    Di kota Medan sendiri, ada beberapa cagar budaya yang tidak terawat. Sangat disayangkan sebenarnya. Seandainya dirawat dengan baik, bisa menjadi tempat wisata sekaligus edukasi buat anak sekolah.

  18. Cagar budaya penting untuk dirawat, selain bs sebagai destinasi wisata daerah juga bermuatan pendidikan untuk generasi penerus agar paham sejarah budaya bangsanya

  19. Akhir2 ini Antusiasme generasi milenial terhadap cagar budaya perlahan meningkat krna adanya medsos..nah tugas pengelola cagar budaya membuat destinasi tsb menarik diknjungi siapapun tanpa melihat usia generasi

  20. Lestarinya lingkungan akan berdampak pada masyarakat yang sehat dan sejahtera. Aih setuju banget sama statement ini. Udah jadi kewajiban kita untuk terus melestarikan lingkungan, toh bakal berdampak juga pada kesejahteraan anak cucu kelak.

  21. Beberapa cagar budaya di daerahku, sedikit pengunjung. Itupun pengunjung dari sekolah-sekolah atau perguruan tinggi. Barangkali butuh suntikan sehingga masyarakat antusias dengan cagar budaya ya kak. Cagar Budaya sepertinya wajib jadi objek wisata , supaya lebih survive dan terawat.

  22. salah satu cagar budaya memang sangat di nikmati oleh orang lain agar bisa belajar dan bisa sebagai refleksi ruang wisata berwawasan lingkungan.

  23. Wisata di tempat cagar budaya sangat mengedukasi dalam history sejarah dari cagar budaya tersebut. Dan menjadikan cagar budaya tetap terpelihara.

  24. Well… Meski tidak seindah mendatangi pantai yang sedang menyetel sunset, atau datang ke puncak gunung yang sedang menayangkan sunset. Gue sangat mendukung gerakan pergi ke Cagar Budaya… Karena dari cagar budaya itu, gue belajar bahwaa orang-orang terdahulu keren-keren juga.

  25. Cagar budaya di kota saya sebelumnya ngga keurus. Tapi alhamdulillah sekarang jadi lebih diperhatikan, selain itu juga dijadikan setor pariwisata. Meskipun ada plus minusnya sihh yaa

  26. Menjaga kebersihan, kenyamanan dan keamanan cagar budaya itu pr kita semua. Menurutku bukan semata tempat wisata membuang penat, tapi bak buku sejarah yang terbentang. Banyak histori yang tersembunyi tanpa kita ketahui.

  27. Wisata cagar budaya biasanya nggak terlalu ramai dikunjungi. Berbeda dengan tempat wisata kekinian. Tapi menurut saya, biar saja nggak terlalau ramai, tapi ada generasi muda yang diajak dan dikenalkan orang tuanya pada harta tak ternilai yang harus mereka jaga. Kalau tak dikenalkan mana mungkin mereka mau menjaganya kelak ketika mereka dewasa

  28. Saya termasuk yg suka ke tpt wisata cagar budaya. Walaupun dibanding dgn wisata kekinian jumlah pengunjungnya sedikit ya. Dengan wisata cagar budaya ga cuma dapat serunya tp edukasinya juga

  29. Wisata ke cagar budaya tuh, mengingatkan kita pada sejarah, ya. Udah lama juga enggak wisata budaya nih. Jadi kangen. Terkadang juga takjub sih sama pemeliharaannya. Kalau enggak hati-hati bisa runtuh, ya. Apalagi semacam candi atau arca gitu. Makasih sharingnya.

  30. Cagar budaya memang menarik to see, sebaiknya akses untuk mencapainya juga diutamakan agar mudah terjangkau ya. Sarana edukasi untuk anak anak dan mengenang masa lalu yang fantastik.

  31. Mending langsung jadi tempat wisata, jadi semua orang tahu kalau ada cagar budaya disana beserta benda-benda peninggalannya. Sepengetahuan saya, cagar budaya yang tak segera jadi tempat wisata malah tidak terawat dan benda-benda yang ada didalamnya ada di tangan orang-orang yang sok jadi kolektor.

  32. jadi inget klo ke jogja pasti berkunjung ke salah satu cagar budayanya dari sekian banyaknya cagar budaya disana, terakhir ke candi ijo, bisa liat sunset disana krna emang letaknya di ketinggian,, thx mbak sharingnya

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.