Mulki Pecatur Cilik

Mei 6, 2012

Dimuat Padang Ekspres Minggu, 6 Mei 2012 ||

Siang yang begitu cerah. Mulki dan kawan-kawannya tengah dalam perjalanan pulang sekolah. Tiba-tiba saja langkah mereka terhenti di dekat persimpangan jalan. Pandangan mereka tertuju pada secarik kertas putih yang tertempel di tembok dekat simpang.

“Wah minggu depan ada pertandingan catur sekelurahan. Kamu harus ikut nih Mulki,” ujar Obi menyemangati Mulki.

“Tidak ah, percuma saja aku ikut, nanti juga bakalan kalah,” jawab Mulki pesimis.

“Ah, jangan begitu dong. Di sekolah saja kamu yang paling hebat, Pak Yas penjaga sekolah itu saja pernah kamu kalahkan. Sampai-sampai Pak Yas itu selalu mengelak ketika diajak bermain catur lagi,” kata Adit terus memberikan semangat kepada Mulki. “Takut dikalahin kamu tuh, hahahaa,” timpalnya lagi.

Namun Mulki tetap saja menolak untuk mengikuti ajakan Obi, teman sejatinya itu. Di sepanjang jalan, tak henti-hentinya Obi terus mencoba mengajak Mulki untuk mengikuti pertandingan itu, Obi sangat percaya bahwa Mulki pasti menang. Ia tak ragu akan kemampuan temannya itu.

Sesampainya di rumah, betapa terkejutnya Mulki setelah mendapat berita dari tetangga bahwa ibunya kembali sakit dan sekarang tengah dibawa ke rumah sakit.

Mulki tinggal bersama ibunya di sebuah rumah sangat kecil bersekatkan triplek. Atapnya banyak yang bocor. Begitulah nasib Mulki setelah ayahnya meninggal dunia. Tak ada lagi pencari nafkah bagi keluarga. Ibulah yang kini membiayai hidup dan sekolah Mulki. Walau begitu miskin kehidupannya, namun bagi Ibu Mulki sekolah tetap nomor satu. Mulki tidak boleh putus sekolah bahkan Ibunya rela mencari uang dengan menjadi tukang cuci agar pendidikan anaknya tetap berjalan.

Usia Ibu Mulki sudah tak lagi muda. Pekerjaannya yang berat itulah yang membuat kondisi kesehatan Ibu semakin menurun. Terbukti hari ini beliau kembali terbaring di rumah sakit. Sudah berapa kali Ibu Hanum, tetangga mulki, menanggung biaya pengobatan Ibu Mulki. Rasa iba, belas kasihan, serta sifat dermawan Ibu Hanum sungguh begitu besar. Walaupun ia kaya raya namun mau dan ikhlas mempedulikan sekitarnya.

Kali ini Mulki bertekad dalam dirinya untuk tidak mau lagi membebani Ibu Hanum karena Mulki merasa sudah besar dan harus menjadi anak yang bertanggungjawab.

Seketika terlintas di pikirannya: “Besokkan ada pertandingan catur, hadiah utamanya lima juta lagi. Ini mungkin jalan yang diberikan Tuhan untukku,” ujar Mulki dalam hati.

Dengan langkah penuh semangat Mulki memutuskan untuk mengikuti pertandingan catur tersebut. Segera ia berlari menuju tempat pendaftaran. Namun ternyata sesampainya disana ada sebuah kertas ditempel dengan tulisan: Pendaftaran ditutup.  Ah, betapa sedih hati Mulki. Harapannya yang besar seketika hancur.

Dengan langkah gontai ia berjalan pulang. Namun tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara memanggil namanya “Mulki….Mulki…,” Mulkipun menghentikan langkahnya seraya menoleh kesumber suara itu.

“Eh Pak Ahmad, ada apa Pak?” tanya Mulki kepada Pak Ahmad yang memanggil- manggil namanya.

“Ah tidak. Tadi bapak lihat kamu ke tempat pendaftaran lomba catur. Memangnya kamu mau ikut mendaftar?” tanya Pak Ahmad yang juga selaku panitia lomba.

“Iya pak, tadinya saya mau mendaftar. Eh rupanya sudah ditutup,” Mulki menjelaskan.

“Memang, pendaftarannya sudah bapak tutup. Tapi kalau kamu mau ikut masih bisa kok. Lagi pula pendaftaran itu sebenarnya masih sampai jam lima nanti, namun bapak memilih menutup lebih awal sebab bapak melihat sedikitnya peminat di kelurahan kita.”

“Jadi saya masih bisa mendaftar pak?” ujar Mulki tak percaya. Matanya berbiar-binar.

“Tentu saja. Bapak juga senang ada pecatur cilik ikut ambil bagian di perlombaan kali ini. Tapi kamu harus menang ya Mulki!” pinta Pak Ahmad, pun menyemangati.

Mulki pun kembali bersemangat dan bertekat memenangkan perlombaan.

***

Hari pertandingan tiba. Berkali-kali Mulki mengalahkan lawan-lawannya yang semuanya lebih tua darinya. Mereka terkejut melihat bakat Mulki yang luar biasa. Hingga di partai final, Mulky bertemu dengan Pak Jo, yang terkenal kuat dalam bertahan.

Mulki kesulitan menembus pertahan berantai andalan Pak Jo. Namun dengan kecerdikannya, Mulki sengaja mengorbankan bidak menteri untuk ditukar dengan pion. Bahagia Pak Jo meyakini itu adalah tindakan yang menguntungkan baginya; mendapatkan bidak menteri dengan sia-sia. Namun dengan sigap Mulki melancarkan serangan bertubi-tubi yang tak pernah terpikirkan oleh Pak Jo. Ternyata pengorbanan menteri tadi untuk mengelabui sisi pertahan Pak Jo.

Akhirnya, Mulki menang. Mulki menjadi juara. Hadiah uang kemudian digunakan untuk pengobatan Ibunya.

Seminggu kemudian seseorang datang ke rumah Mulki. Ternyata ia adalah pelatih catur. Mulki diminta bergabung bersama tim catur propinsi untuk mewakili di kejuaran catur antar propinsi. Tentu saja dengan senang hati Mulki menerimanya.

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.