Artefak Batu: Manifestasi Daya Guna dan Ekspresi Karya Rupa

September 17, 2017

Dimuat Padang Ekspres, 17 September 2017 ||

Perkembangan artefak berbahan batu pesat terjadi pada periodesasi prasejarah. Pada masa inilah manusia berada pada fase menemukan material alam menjadi kebudayaan. Dari ketersediaan bahan, manusia mampu berdaya upaya menciptakan wujud benda yang tak semata memiliki bentuk dan fungsi. Lebih dari itu, terdapat nilai adiluhung pencapaian manusia dalam membangun peradaban.

Manusia tidak sekadar berusaha mempertahankan hidup, akan tetapi telah tumbuh kesadaran ekspresif. Terjadi loncatan besar dalam penciptaan wujud artistik yang melibatkan pemikiran, pengolahan dan pengerjaan. Aktivitas untuk hidup dan mempertahankan hidup serta merta menuntut akal manusia untuk terampil dan mampu menemukan bantuan apa saja di sekitar sebagai alat bantu dalam pelbagai aktivitas: meramu, berburu, pelaksaan ritual-ritual tertentu, hingga menjadikan wujud benda itu sendiri sebagai pengejawantahan roh yang kemudian lahir dan cukup lama bertahan sebagai kepercayaan animisme. Hadirnya wujud benda sebagai artefak memang berawal dari reka bentuk dan sistematika kerja yang sederhana—ditilik dari kemutakhiran masa kini.

Naluri pemenuhan kebutuhan makanan memaksa manusia pada masa prasejarah untuk berburu sebagai salah satu cara memperoleh sumber makanan. Ketika berburu tentu saja membutuhkan alat yang mampu membinasakan mangsa. Cikal bakal alat pemburu berasal dari bentukan yang sederhana dalam wujud senjata yang mudah digenggam dan dibawa berpindah-pindah, mengingat kehidupan kala itu berkelompok dan nomaden. Hingga muncul berbagai bentuk alat berburu, seperti kapak batu, martil batu, dan alat pemukul lainnya. Pemilihan bahan batu, selain karena mudah didapat juga lebih keras dan kuat dibandingkan bahan kayu ataupun tulang yang mudah lebur dan hancur. Selain untuk senjata berburu makanan, alat-alat batu tersebut juga berperan pada saat meramu, memotong, melumat maupun mencukil makanan-makanan yang berasal dari dalam tanah. Jika sumber makanan dirasa habis, kelompok manusia tersebut kemudian akan berpindah ke tempat lain, utamanya pada daerah sungai atau telaga, karena hewan dan tumbuhan biasanya banyak di tempat yang ada sumber airnya. Pada saat perpindahan hunian, mereka akan tetap membawa alat-alat berburu. Berasal dari fungsi awal sebagai alat bantu berburu, meramu dan mengumpulkan makanan, peralatan perburuan kemudian berkembang secara teknik pembuatan, metoda pemakaian, maupun tujuan pemakaian. Tercipta berbagai bentuk alat buruan praktis, seperti kapak perimbas, kapak penetak, kapak genggam, yang pemakaiannya pada umumnya dilakukan dengan diayunkan.

Hingga cara hidup yang berpindah-pindah mulai ditinggalkan dan berganti dengan kehidupan yang menetap pada suatu daerah baru yang dirasa masih subur dan menyimpan sumber daya makanan. Manusia mulai membangun rumah. Manusia tidak lagi bertumpu pada kesediaan alam, namun lebih memikirkan persediaan makanan. Manusia mulai bercocok tanam, berbudi daya tanaman pangan dan mengembangbiakkan hewan ternak. Seiring dengan itu, teknik penciptaan alat batu turut mengalami perubahan dan penyesuaian dengan kebutuhan manusia. Alat-alat yang dihasilkan lebih berfungsi sebagai penunjang kegiatan pertanian dan pengolahan bercocok tanam. Evolusi bentuk perkakas jelas terlihat pada mata batu yang sudah mulai diasah dan digosok hingga mengkilap.

Keberlangsungan penggunaan alat dengan bahan batu ini terus berlanjut hingga masa meramu  makanan dengan penciptaan alat batuan untuk menumbuk, dikenal dengan batu lesung atau batu lumpang. Balu lesung berupa bejana batu yang berlekuk di bagian tengahnya. Batu lesung ada yang diletakkan di ladang atau sawah untuk mengupas kulit padi atau menumbuk umbi-umbian. Di Sumatera Barat, keberadaan batu lesung identik dengan lokasi hunian. Setiap rumah gadang di Minangkabau memiliki satu atau lebih batu lesung dengan ragam ukuran.

Lebih lanjut, tinggalan dalam bentuk artefak bebatuan lebih berwujud kepada peninggalan dalam bentuk dan ukuran yang besar, dikenal juga dengan sebutan peninggalan megalitik. Pada masa berkembangnya kebudayaan megalitik, manusia percaya bahwa selain pohon besar, hewan-hewan tertentu, juga pada wujud sebuah batu besar sesungguhnya terdapat ruh yang bersarang di dalamnya. Wujud batu-batu besar dianggap sebagai perantara yang mampu menjembatani manusia dan roh nenek moyang, antara yang hidup dan yang tiada, antara dunia dengan alam baka. Ruh orang yang meninggal dipercaya akan berpengaruh terhadap kesuburan alam, kesejahteraan dan ketenteraman di antara manusia yang ditinggalkannya. Jika ada manusia yang meninggal akan dibuatkan berbagai bentuk bangunan batu yang menjulang. Selain sebagai tanda kubur juga menjadi bentuk pengharapan yang besar pada mereka yang masih hidup, agar beroleh berkah. Keyakinan akan hal-hal berbau magi jelas terasa dan lama bertahan pada masa batu besar ini.

Hingga kemudian peradaban terus menemu identitasnya sendiri. Manusia mulai mengenal aksara. Dalam pada itu, sebagai bukti eksistensi, penguasaan suatu wilayah, atau memberikan suatu petunjuk, manusia mencoba meninggalkan pesan berupa tulisan pada batu yang kemudian dikenal dengan batu prasasti. Biasanya pada prasasti juga akan tersurat penanggalan, nama dan alasan prasasti itu dibuat. Tulisan pada tubuh batu dibuat dengan cara diukir atau dipahat cukup dalam sehingga aksara prasasti jelas dan awet. Adapun jenis batu yang digunakan biasa berbahan batu kapur, pualam atau basalt.

Perkembangan cipta, rasa dan karsa manusia dari masa ke masa telah mengubah mekanisme manusia dalam menjalankan hidup. Ide-ide penciptaan atas wujud benda di masa lalu tidak sekadar menjadi invensi penciptaan bentuk alat sebagai piranti dalam menunjang aktivitas kehidupan. Dari nilai pemanfaatan benda pun serta merta turut memengaruhi perkembangan manusia dalam berkebudayaan. Boleh dikatakan benda hadir sebagai kekayaan akal dalam memanfaatkan kesediaan alam sekaligus untuk menaklukkan alam. Akan tetapi memaknai benda bukan semata dari bentuk rupawi yang dapat dilihat belaka. Munculnya naluri penciptaan yang bermutu, daya yang cerdas, kehendak jiwa yang mendorong manusia bereksperimen saat itu telah menjadi perwujudan empiris dalam proses menciptakan benda sebagai sebuah karya rupa yang sederhana namun kompleks, wajar namun estetis, primitif namun jenius, obsolet namun kontemporer.

Pemikiran, sebagai sebuah kunci gagasan awal tercipta, adalah sebuah mahakarya yang telah, sedang dan akan selalu berevolusi secara berkesinambungan dalam membentuk maupun memanfaatan sebuah karya rupa yang selamanya akan tetap bernama benda. Benar kiranya, dari masa lalu kita mengenal hari ini, dan dari hari ini kelak menumbuh inspirasi dan inovasi untuk masa depan….

*Dafriansyah Putra, Staf Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat, wilayah kerja Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.