Cagar Budaya dalam Bingkai Karya Sinematik

Desember 31, 2017

Dimuat Padang Ekspres, 31 Desember 2017 ||

Apatis pada lingkungan adalah sebuah celaka besar bagi para pegiat film. Pada hakikatnya film yang bermutu bukan semata pada penguasaan sinematografi yang andal, memiliki kru yang solid dan profesional pada segala sisi teknis produksi, penyajian struktur penulisan skenario yang apik, namun roh sebuah karya film tidak akan pernah lepas dari seberapa peka penyajian saripati moral yang terkandung dari setiap rekaman gerak di depan kamera. Sehingga menikmati dan menghayati karya film bukan selepas memandang rangkaian plot, scene, serta treatment, akan tetapi nilai dan sarat pesan hendaklah yang membekas pada jiwa penonton. Tentu saja, segalanya bermuasal dari logline dan statement sebagai cikal bakal terpantiknya ide cerita.

Kebudayaan sebagai gagasan dan latar dalam penggarapan film menjadi peluang sekaligus tantangan tersendiri bagi para penggiat film. Potensi sumber daya budaya dalam bentuk tinggalan budaya benda (tangible) maupun tinggalan budaya tak benda (intagible) selama ini belum sepenuhnya menjadi dasar pikir dalam penggarapan ide film. Sementara, film sebagai representasi kenyataan hendaknya dapat mengetengahkan isu-isu sosial maupun budaya yang berada di sekitar. Sebab, sejatinya film tidak semata menjadi rentetan gambar bergerak, bukan pula sekadar tampilan imitasi kehidupan. Namun film menjadi media kontemplasi dalam mengenal diri, pun menjadi interpretasi kesadaran dan pemaknaan penonton terhadap lingkungan sekitar. Mengutip nasihat sesepuh dunia film Indonesia, Slamet Rahardjo, kala Workshop Perfilman Regional Sumatera di Medan, medio 2017 silam. Satu pesan beliau kepada para sineas muda: “Kenali sekeliling, kenali siapa di kiri, di kanan, di atas, di bawah, di depan, dan di belakangmu. Kamu tidak akan mampu berkesenian jika berpikir tentang diri sendiri. Orang film dilarang malas!”

Tinggalan Cagar Budaya sebagai sebuah artefak dari kebudayaan masa silam yang dilingkupi bermacam nilai dan cerita yang melatarbelakanginya sejatinya dapat menjadi kelebihan tersendiri yang dapat didayagunakan dan dimanfaatkan dalam sejumlah aktivitas. Pelibatan peran masyarakat dalam berbagai kegiatan tidak lantas menjadi pasif dalam mengelola suatu objek Cagar Budaya. Dalam pada itu, perlu ditekankan, pendayagunaan Cagar Budaya semestinya akan bermuara pada sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat dengan tetap mempertahankan kelestariannya, sebagaimana tujuan Pemanfaatan yang tercantum dalam Undang-undang No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Benda, Bangunan, Situs, Struktur, maupun Kawasan Cagar Budaya menjadi perwujudan karya adiluhung pencapaian manusia dalam membangun peradaban. Ditilik dari latar historis, Cagar Budaya sarat akan kekuatan cerita dan sejarah yang melatarbelakanginya. Sedangkan dari sisi kerupaan, Cagar Budaya hadir dalam pelbagai bentuk wujud artistik yang tumbuh dari kesadaran ekspresif dari masa ke masa. Pengimplementasian dalam ruang lingkup seni merupakan salah satu bentuk pemanfaatan Cagar Budaya pada bidang kebudayaan. Mengacu pada Pedoman Pemanfaatan Cagar Budaya Nasional dan Dunia (Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, 2013) aktivitas yang dapat dilakukan pada objek Cagar Budaya meliputi: seni pertunjukan (drama, tari, musik, karawitan, wayang), seni rupa, seni kriya, audio visual, fotografi, pameran, pagelaran, media cetak, elektronik dan termasuk di dalamnya adalah seni film.

Adapun ketentuan teknis pemanfaatan Cagar Budaya terkait film adalah sebagai berikut. Untuk Benda Cagar Budaya, pemanfaatan harus: pertama, mendapatkan izin dari pemilik; kedua, harus tetap menghormati nilai-nilai yang terkandung di dalam Cagar Budaya dan dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kelestarian Cagar Budaya; ketiga, pengambilan gambar Benda Cagar Budaya harus tetap menghormati norma-norma yang terkandung dalam Cagar Budaya dan masyarakat pendukungnya; keempat, pemanfaatan Benda Cagar Budaya yang berada di museum untuk kepentingan kebudayaan, diatur dalam peraturan tersendiri; kelima, mampu meningkatkan dan mempertahankan nilai-niai kearifan lokal; keenam, sarana dan prasarana penunjang yang digunakan (tata panggung, lampu, tenda, generator, dan sebagainya) harus dikonsultasikan dengan Unit Pelaksana Teknis Pusat Bidang Kebudayaan dan UPT Dinas terkait; keenam, pemanfaatan untuk kepentingan seni dapat dilakuan di semua zona, sesuai dengan kapasitas daya tampung yang tidak membahayakan keletarian Cagar Budaya; ketujuh, pemanfaatan hanya dilaksanakan di zona penyangga, pengembangan dan/atau zona penunjang.

Sedangkan yang bersentuhan langsung dengan Bangunan, Struktur, Situs dan Kawasan Cagar Budaya mesti mempertimbangkan: pertama, dalam pengambilan gambar atau film harus tetap menghormati norma-norma yang ada pada Cagar Budaya dan masyarakat pendukungnya; kedua, harus turut mempromosikan Cagar Budaya dan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap pelestariannya; ketiga, mampu meningkatkan pembelajaran tentang warisan budaya yang bersifat kebendaan (tangible) dan nilai-niai yang terkandung di dalamnya (intagible).

Melalui film, kayanya nilai-nilai arkeologis, historis dari keberadaan suatu objek Cagar Budaya dapat dijelaskan langsung melalui proses perekaman, dirangkum segala informasi dan kemudian ditampilkan dalam bentuk tayangan. Upaya ini tentu akan menjadi cara penyampaian informasi yang lebih menarik meskipun tidak mengunjungi objek secara langsung, dengan sasaran khalayak yang lebih luas. Tentunya segala kegiatan tersebut harus tetap menghormati norma-norma yang terkandung dalam Cagar Budaya dan masyarakat pendukungnya.

Jika ditilik pada kondisi kekinian, keberadaan film tidak hanya digandrungi kalangan pecinta seni peran semata, namun film telah memiliki pangsa umum yang lebih luas dan kaya penonton. Kehadiran film telah menjadi perbincangan dan perhatian dari segala lapisan dan usia. Keajaiban visual seakan menjadi stimulus tersendiri bagi masyarakat modern saat ini. Sugeng Riyanto dalam tulisannya Film Pengetahuan Arkeologi: Kerangka dan Garis Besar yang termaktub dalam buku Arkeologi untuk Publik menuliskan: “Dalam ‘perang’ informasi di era digital, bombardir teks (written words) sudah tidak mempan lagi dalam menjangkau luasnya publik yang semakin akrab dengan informasi grafis yang begitu kreatif dan imajinatif”.

Lebih lanjut, Peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta ini menyampaikan bahwa era digital secara stereotip identik dengan kecepatan, estetika, ringkas-padat, serta mudah utk ditawarkan. Maka untuk menjangkau kebutuhan publik dalam menerima informasi dan pengetahuan terkait hasil penelitian arkeologi dalam dilakukan dengan pendekatan arkeologi visual dalam bentuk pembuatan Film Pengetahuan Arkeologi. Film tersebut merupakan satu bentuk kemasan yang “memanjakan” dari hasil pengumpulan, pemilahan, diskusi dan penentuan cerita, informasi serta pengetahuan apa saja yang patut disampaikan ke masyarakat.

Untuk memupuk kecintaan akan Cagar Budaya pada generasi pelanjut bangsa, memang perlu dilakukan pula pendekatan-pendekatan yang bersifat persuasif. Sebab pada dasarnya, kesadaran akan serta-merta terlahir dengan terlebih dahulu melalui proses penghayatan setelah adanya pemahaman dan pemaknaan dari dalam diri seseorang. Adapun guna mengejawantahkan bentuk kesadaran tersebut, satu di antaranya dengan memberikan pengertian dan pengenalan akan kondisi tinggalan budaya benda di sekitar. Penggarapan film dengan pendekatan Cagar Budaya menjadi salah satu langkah jitu dalam merangkul pundak kaum muda untuk bersama-sama menyadari arti penting tinggalan masa silam.

Indonesia sejatinya memang amat kaya dalam hal kebudayaan. Nusantara adalah sebuah peradaban besar yang lahir dari detak-jejak kehidupan manusia Indonesia dari masa ke masa. Negeri ini bernyawa lantaran kekhasan-kekhasan nilai budaya maupun tinggalan benda dari setiap periodesasi perjalanan sejarah. Sehingga bukan tanpa alasan bahwa kekayaan budayalah yang menjadikan Indonesia tampil sebagai bangsa yang kaya dan semestinya mampu menjadi inspirasi dalam berkarya. Terutama bagi para sineas muda.

===

*Dafriansyah Putra. Alumnus Teknik Sipil Universitas Andalas. Kini mengabdi di Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau. Penikmat film. Pernah menjadi Penulis Skenario Terbaik 2 dalam Workshop Perfilman Regional Sumatera di Medan, diadakan Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2017.

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.