Bayang-bayang Anggung

September 2, 2012

Dimuat Singgalang Minggu, 2 September 2012 ||

Anggung duduk bersehadap meja kayunya, tepat di bawah temaram lampu togok yang mulai lindap menyisakan beberapa tetes lagi minyak tanah. Kedua sikunya bertelekan di bibir meja. Ia sedang menulis surat. Pangkal pena dawat hitamnya ia patuk-patukan di atas meja. Sehingga, di malam yang berbasah diguyur rinai setitik-titik itu, hanya ada suara tuk-tuk pena selain suara jam lonceng tua yang belum lama berdentang dua kali.

“Amak, Anggung tak tahu harus berkisah apa pada Da Guran. Pikiran Anggung tiba-tiba saja buntu.” Ia bekap kepalanya dengan kedua belah tangan yang masih lembab—entah karena keringat atau sekaan air mata yang barusan ia lap dengan telapak tangannya.

“Tulis saja cintamu.” Perempuan tua bertudung kepala merah tedas itu pergi keluar bilik dengan senyum simpul—seperti ada maksud terselubung yang ditujukan kepada Anggung, anaknya. Raut muka Anggung berubah. Sementara Amak sudah hilang dari kamar.

Setelah memastikan di dalam kamar tiada lagi siapa-siapa, maka Anggung secepatnya mematahkan pena dawat hitam yang sedari tadi memaut di tangannya. Trak!

Kedua matanya kembali mencucurkan butir-butir berbening kemilau. Ia sedu-sedan seraya membekap mulut, semampunya mengekang suara tangis, takut kedengaran Amak.

Ia mafhum. Amak sudah tua benar, mendekati tujuhpuluh tahun, usia yang tak banyak orang mampu berhaluan sedemikian jauh. Ia takut Amak kembali terbaring, seperti waktu lampau.

Kala itu, Sawir datang ke rumah. Taklah hujan, tak pun panas, tiba-tiba si bujang kaya raya itu melamarnya terang-terangan. Alangkah linglung hati Anggung mendengarkan kata-kata cinta yang kelebihan dari muncung Sawir. Berani-beraninya Sawir tanpa ba-bi-bu, sekilat saja merodokkan cincin berikat emas perlambang kebatan cinta kepada gadis yang hanya sebatas ia kenal, tak lebih. Boleh dipastikan, Anggung sepandai mungkin memperhalus kata untuk menolak.

Alamak, si bujang kaya itu tak beroleh. Ia unjukkan lading dari balik punggungnya. Senjata itu ia lenggok-lenggokkan semirip kitiran kapal. Menangis merataplah Amak melihat batang leher anak gadisnya telah lekat benar dengan senjata yang sungguh-sungguh tajam itu. Namun, mujur saja Anggung mampu menyisi. Dan ia lari cepat-cepat ke balik semak-semak paling belakang rumahnya. Sedangkan Amak sudah pingsan dibuatnya.

Si gila, Sawir, teramat lepas kendali. Ia bersilaju dengan Anggung. Anggung kian tersesak, bersebab sebatang beringin besar menghadang langkahnya. Tak sampai lima langkah, Sawir kian bersiap di depannya. Mata lelaki itu membelalang laksana harimau lapar bersirobok mangsa. Terlebih napasnya, kedengaran terburu. Hap! tiba-tiba bayangan hitam sekelebat mendekati Sawir lalu membawa tubuh lelaki itu terbang ke selatan, searah aliran Batang Suliti. Sejak saat itu Sawir tak kembali lagi. Entah di mana ia berada. Dan, tentang bayangan hitam itu, hingga saat ini masih menjadi misteri.

Sejak itu, Amak takut sendiri manakala ada lelaki yang mengetuk pintu. Amak teramat cemas hal serupa tingkah Sawir terulang kembali.

Sungguh, jika tidak karena Amak, Anggung tak niat mengalamatkan kata “cinta” kepada Guran. Bagaimana mungkin ia menaruh rasa kasih teruntuk orang yang belum ia kenal. Janganlah sifat, parasnya saja tak sekali nampak. Anggung hanya paham cerita. Cerita yang disampaikan Amak ketika mengiris bawang di dapur. Cerita yang diselip-selipkan Amak saat sedang mengerik punggungnya tatkala masuk angin. Cerita yang acapkali disebut-sebut Amak apabila ada lelaki gagah berselisih lalu di pematang sawah.

Kalau dibayang-bayangkan, Guran teramat sempurna. Tak ada cacat yang diungkap Amak. Anggung mengangguk-angguk saja ketika Amak menderet kelebihan lelaki yang bernama Guran itu.

Amak sering berkata, “Lelaki itu orang seberang. Segeralah menikah dan kau harus sesegera mungkin menyeberang kemudian menetap di sana.” Entah apa maksud Amak bersikeras menyuruh anaknya pergi dan tinggal di seberang. Sementara terlepas dari siapa Guran, bagi Anggung, setelah menikah kelak taklah tega hatinya meninggalkan Amak yang ringkih tinggal sendiri di kampung. Namun, Amak tetap tegas menyuruh anaknya pergi ke seberang.

Anggung harus segera pergi menuju rumah Pak Muaro, lelaki itu adalah seorang (lebih tepatnya satu-satunya) pegawai negeri asal kampung ini yang bekerja di kabupaten. Bersebab keluarganya menetap di kampung, maka ia terpaksa—lebih pasnya: dipaksa— untuk pulang-balik. Untunglah, kereta lereng yang rajin ia lap di pagi dan malam hari itu sangat membantunya. Sungguh, apabila kendaraan itu rusak, maka akan rusak pula barang pecah-belah di rumahnya.

Bagaimana lagi, anaknya ada sembilan, semua butuh makan. Parahnya lagi, Pik Du, istrinya, rajin betul menggelimangkan bedak. Perempuan yang diperbinikan dengan jalan kawin paksa itu benar-benar mengikuti ragam ragaan televisi. Setiap ada bedak baru, ia keruan membeli-beli. Akan tetapi mukanya sampai kini tak nampak berubah, malah semakin banyak ditumbuhi jerawat nasi. Semakin getol berbedak, semakin tekunlah ia memicit bisul kecil-kecil itu sampai keluar benda putih seperti butiran beras.

Anggung mengeluarkan secarik sampul surat merah hati dari sakunya. Pak Muaro sudah mafhum. Mereka sudah lama bekerjasama perihal korespondensi—bersebab kantor pos hanya ada di kabupaten. Terlebih jika bulan muda tiba, ada-ada saja surat yang dibawa Pak Muaro teruntuknya. Kadang dari Pudun, kakak tertuanya yang kini bekerja di kandang kuda. Atau dari Khuji, adik dibawahnya yang tak tahu apa kerjanya. Jika ditanyai perihal itu, ia selalu berkata, “Ambo bekerja dan tak usahlah kalian tahu apa kerjanya.” Awalnya Amak takut Khuji bekerja yang tidak-tidak, akan tetapi ketakutan Amak terobati setelah Uni Er membocorkan rahasia besar Khuji. Awalnya Amak juga Anggung seperti tak percaya mendengarnya. Bagaimana mungkin Khuji, lelaki yang dikenal sebagai pekerja keras—sehingga otot dan lekuk perutnya tumbuh indah dan subur—ternyata bekerja menjadi tukang asuh bayi di kota.

***

Roman Anggung senantiasa redup. Dagunya berlipat-lipat. Keningnya berkerut-kerut. Jiwanya mengejawantah ke mana-mana. Sebelum Amak datang mendekatinya, ia secepatnya merubah raut macam sediakala.

“Apa yang kau pikirkan oi gadih?”

“Tak ada Mak.”

“Sudah, jangan dusta, dosalah. Sebut saja pada Amak. Mana tahu Amakmu ini dapat bantu.”

“Anggung hanya kurang enak badan, Mak.”

“Oh, istirahatlah dulu. Amak buatkan teh ya?”

“Tak usah Mak.”

Meskipun Anggung menolak, Amak tak pedulikan itu. Perempuan tua itu secepat mungkin (walaupun masih nampak teramat lambat) berjalan ke dapur, mengambil toples gula dan teh yang cukup tinggi dari jangkauan. Tangan rentanya ia ansur-ansur menyeret toples itu. Namun, jangkauan tak tepat. Toples jatuh. Tumpah ruah segala isi di dalamnya. Kian mengernyitlah jidat Anggung dibikinnya.

“Amak! apa yang Amak kerjakan. Sudah Anggung bilang tadi, tak usah buatkan teh!” hardik Anggung sekuat-kuat suaranya.

Suasanya mendadak hening. Air mata meluncur lambat di wajah kisut Amak. Anggung merasa lain. Ia tak sadar apa yang diucapkannya. Entahlah, apa karena suasana hatinya yang tak tentram sehingga membuatnya bersikap demikian.

“Ma…maafkan Anggung Amak. Anggung tak sadar.”

“Tak apa nak, Amak paham sikapmu. Kau tak mungkin bersikap kasar pada Amak jika tak ada sesuatu kau pendam benar di hati.”

“Tentang Da Guran. Anggung sungguh teramat berat hati, Mak.”

“Jangan, Nak. Kau harus mau menuruti pinta Amak. Segeralah menikah dan kau harus sesegera mungkin menyeberang kemudian menetap di sana. Ini semua demi keselamatanmu, Nak.”

Anggung kian tak paham maksud pembicaraan Amak.

***

“Masa kemarau telah tiba.”

“Jangan sebut-sebut kerinduanmu datang meminta hujan?”

“Kerinduan itu memang tiada ujung.”

“Aku tahu. Akan tetapi tak perlu kau terus-terus bersikap demikian. Anakmu sudah besar. Ia menginginkan cinta yang sewajarnya. Bebaskan belenggu itu!”

“Lantas, apa aku harus memberikan ujung-ujung kematian kepadanya biar ia merasakan apa yang kausebut cinta sewajarrnya itu?”

“Tak perlu, dan jangan sekali-kali kau lakuan itu! Jika itu terjadi, niscaya kematian benar yang akan membunuhmu.”

“Jadi, maumu?”

“Sudahlah, lepaskan belenggu itu!”

“Tapi kutukan itu?”

“Kubur saja. Ini kulakukan demi anak kita!”

Anggung menyingkap tirai bilik Amak. Ancang-ancangnya hendak mengambil sisir yang tadi tertinggal tatkala Amak menolongnya menganyak rambut. Namun, apa yang disaksikannya benar-benar membuatnya tak percaya. Ia berkali-kali menggosok-gosok kelopak matanya. Alamak, ia langsung yakin, apa yang dilihatnya tak ubahnya bayangan hitam yang pernah menyeret tubuh si Sawir tatkala mengejarnya dulu, dan bayangan itu acapkali datang dalam ketidaksadarannya.

Anggung terkesiap menghadapi apa yang ia saksikan. Bayangan itu termata-mata, kian seram. Matanya kemung. Jari-jari tangannya berkuku belah, hitam. Moncongnya panjang, bergigi asu, tajam-tajam. Alis matanya panjang lagi meruncing ke atas. Hidungnya petet. Seburuk-buruk bentuk diwujudkannya.

“Sudahlah! Biarkan anak kita terus merentas jalannya. Jangan. Jangan lakukan itu! Jangan!” Amak meracau meratap-ratap, ketika bayangan itu perlahan-lahan, semakin, dan sangat dekat pada tubuh Anggung yang batu.

***

Pak Muaro kian binggung. Hendak kemana surat balasan dari Guran, lelaki seberang itu, akan diantarkannya. Sebelum ia putuskan mencampakkan surat teruntuk Anggung itu ke aliran Batang Suliti yang mengalir tenang, persis di mana jasad Anggung terakhir kali terlihat.

Muaralabuh, 2012

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.