Ekspansi Stadion Baru, Ciri Kemajuan Sepak Bola?

Oktober 4, 2012

Dimuat Tabloid BOLA, Kamis, 4 Oktober 2012 ||

Menapak tilas berdirinya salah satu stadion tertua di Indonesia: Stadion Sriwedari, yang kini berganti nama menjadi Stadion R. Maladi. Tahun 1932, di Surakarta, pada masa itu atlet sepak bola bumiputra hanya bisa bermain di lapangan Alun-alun Kidul.

Mendapati perlakuan yang dirasa tidak adil, maka R.M.T Wongsanegoro memberi usulan kepada Raja Surakarta untuk mendirikan Stadion yang dikhususkan menampung atlet bumiputra. Maka disulaplah kawasan Kebun Suwung (Kelurahan Sriwedari) menjadi areal Stadion Sriwedari. Konon, pembangunan stadion menghabiskan biaya 30000 gulden.

Pembangunan yang dilakukan oleh R.Ng.Tjondrodiprojo bersama sekitar 100 pekerja lainnya ini menurut sejarahnya berhasil rampung dalam kurun waktu tidak sampai setahun.

Seiring dengan progres olahraga dari waktu ke waktu. Keberadaan stadion di suatu daerah agaknya tidak hanya sarana mentah yang semata-mata digunakan masyarakat sekitar dalam berolahraga dan sebagai tempat digelarnya berbagai event nasional maupun internasional saja, akan tetapi perwujudan stadion memiliki afiliasi terhadap ikon/lambang dan kebanggan tersendiri yang dimiliki daerah.

Sejatinya stadion adalah saksi bisu kejayaan para alet yang berlaga. Stadion merupakan arena tarung yang dipenuhi sorak sorai nyayian dan dukungan dari para penonton. Stadion adalah lampiasan hasrat masyarakat pecinta olahraga.

Selama ini, dari apa-apa yang kita dapati, animo penonton memiliki tendensi pada ketidakseimbangan kelayakan infrastruktur. Tidak sedikit stadion di Indonesia yang masih memiliki kualitas di bawah standar; rumput yang tidak layak, tanah bergelombang, buruknya sistem drainase, lampu penerangan kurang memadai, tempat duduk yang rentan rusak dan masih banyak lagi.

Tak ayal pemerintah pusat serta daerah berupaya semaksimal mungkin menomorsatukan pembangunan pelbagai sarana dan prasarana keolahragaan. Sebab mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga adalah bagian integral dari upaya serius pemerintah guna menciptakan masyarakat yang sehat dan sportif.

Eksistensi stadion agaknya berhasil mendapat perhatian tersendiri dari beragam  pihak. Dibangunnya Stadion Utama Riau membawa peran konstruktif bagi dunia olahraga, khususnya persepakbolaan Indonesia. Selain Pekanbaru, beberapa kota di Indonesia sudah mulai berbenah dalam membangun kandang kebesaran mereka. Uniknya lagi, desain perencanaan stadion di tiap-tiap kota nampak beragam dan bervariasi. Hal ini berpotensi sebagai pengunjukan ciri dan diri masing-masing daerah.

Sebut saja  Stadion Utama Sepakbola (SUS) Gedebage milik Bandung yang diplot menjadi markas masa depan Persib Bandung. Stadion tipe A dengan kapasitas 38.000 kursi ini masih dalam tahap pembangunan dan diperkirakan akan selesai pada akhir tahun 2012.

Sejalan dengan itu, pemkot Balikpapan bersama Pemprov Kalimantan Timur tengah bekerja keras mewujudkan keinginan masyarakat Balikpapan untuk merealisasikan perampungan Stadion Batakan pada 2013 mendatang. Stadion yang diperkirakan menjadi barak masa depan Persiba Balikpapan ini direncanakan memiliki kapasitas 30.000 kursi.

Keberadaan stadion-stadion baru tersebut nantinya akan melengkapi stadion berstandar internasional yang sudah lebih dulu dimiliki Indonesia, seperti: Gelora Bung Karno di Jakarta, Jakabaring  di Palembang, Gelora Bung Tomo di Surabaya, serta Stadion Palaran di Samarinda.

Hal ini diharapkan menjadi pemacu dan pemicu daerah lain untuk turut andil memajukan sarana dan prasarana sepak bola. Karena sesungguhnya jika dibandingkan dengan negara tetangga, kondisi stadion kita masih jauh dibandingkan mereka.

Sementara hasrat masyarakat akan sepak bola yang ada di negeri ini sulit untuk dibendung. Menurut hemat saya, kemajuan sarana dan prasarana akan berpautan dengan memperhebat permainan punggawa di lapangan, membina pranata suporter, “meluruskan kembali” paradigma pengurus dalam mengurus.

[Dafriansyah Putra]

Mahasiswa Teknik Sipil

Universitas Andalas

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.