Salju Hitam

Juli 15, 2012

Dimuat Singgalang Minggu, 15 Juli 2012 ||

Sungguh, pagi ini, aku merasakan dingin yang berlebihan. Mantel tebal dan kupluk berbulu domba agaknya tak mampu menghangatkan udara kota Milan yang kian menuju titik terendah. Aku merasa semakin damai saat berdiam diri di dalam kamar, sembari mendengarkan alunan Fur Elise-nya Beethoven dari pemutar kaset. Ah, pagi yang aneh.

Kamarku berada di lantai dua dengan dinding bercorak hijau maya-maya dan pintu yang bercat kuning persis si kembang harum Michelia Figo. Aku akan menyingkap jendela bila akan merasakan udara sejuk saat panas sedang menggarang. Akan tetapi tidak untuk hari ini, aku bisa mati bila melakukan itu. Sungguh!

Semenjak tadi, Bu Numi, orang tua angkatku di negara ini, terpaku di sudut ruangan. Matanya menatap, tapi kosong. Wajahnya beku. Tak ada senyum. Kedua alis mata yang menaungi atas kelopak mata sayunya pun turun tak bersemangat. Aku menaruh kecurigaan. Apa udara dingin membawa suasana hatinya ikut mendingin?

Bagiku, udara seperti ini adalah indah. Bagaimana tidak, di tanah kelahiranku, tidak pernah dan tidak akan pernah didapati suasana seperti ini. Di sana, nun di seberang benua, setiap hari tubuh selalu membutirkan peluh. Matahari enggan diajak kompromi. Hingga, salah satu harus mengalah. Tentunya kami menjadi si malangnya.

Sedangkan udara di kota ini memang benar-benar mengurung diri. Pantas saja orang di sini cerdas dan berwawasan luas. Mereka menghabiskan waktu pada musim dingin dengan membaca, membaca, kemudian membaca.

***

Kali ini aku melihat rembesan di kantung mata Bu Numi. Ia duduk di teras, di atas kursi rotan beralas bantalan empuk. Tangannya merajut sebentuk sulaman wol menjadi beraneka rupa.

Setiap hari, Bu Numi memang gemar merajut. Jika selesai memasak atau mengantar anak-anaknya ke sekolah, ia melakukan hal itu. Sendirian. Di mana saja.

Aku selalu memuji hasil sulamannya. Terlebih, sebuah yang usai kemudian dibingkai kaca dan dipajang di ruang keluarga: sebentuk hamparan pemandangan nan begitu indah; gunung, sawah, dan sepasang pipit yang sedang bertengger di atas dahan.

Ia dulu mengaku mendapatkan inspirasi dari sebuah potret yang pernah kuberikan kepadanya; gambaran hamparan sawah di sudut Batusangkar, Sumatera Barat, negeri asalku.

Bu Numi mendapati aku tengah memperhatikannya. Lantas ia segera menyeka air matanya dengan punggung tangan. Ia melempar senyum. Senyum yang hambar. Senyum yang tidak segembira hari-hari lampau.

“Sebaiknya kamu istirahat di kamar. Udara seperti ini akan membuat kulitmu memerah. Kamu belum terbiasa,”

“Aku perhatikan, Ibu sedikit muram. Apa Ibu sakit?”

“Oh, tentu tidak. Aku terlampau menimati udara seperti ini,”

“Maksudmu?”

Ia tidak membalas. Lama.

“Aku mencintai salju yang lembut,” ucapnya. Air mata meluncur di lereng pipinya.

***

Telah laki-laki itu reguk berbotol-botol anggur semenjak rembulan benar-benar gagah di singasananya. Jikalau aku datang tidak tepat pada waktunya, niscaya ia tidak akan kembali lagi kepada tempat tinggalnya. Sebab, orang-orang akan menghajarnya habis-habisan. Dan, tentunya ia tak akan diketemukan oleh keluarganya. Kalaupun diketemukan, pasti tubuhnya sudah menjadi jasad dan dikerubungi banyak lalat. Demikian pikiranku.

Bagaimana mungkin orang yang tengah hilang akal akan mampu mengendalikan kendaraan. Akibat ulahnya, empat mobil hancur, tujuh belas orang tewas: penumpang dan pejalan kaki. Tubuh-tubuh hancur tak tentu bentuk, memuncratkan segala organ badan. Di permukaan jalan, darah bersimbah menimbulkan aroma yang sangat busuk.

Malam yang gelap ditemani sayup nyanyian bar dan hujatan dari segala arah. Ia berlari ke balik Aruda. Daunnya yang mengeluarkan aroma tak sedap itu tidak sedikit pun ia tanggapi. Akan tetapi aku lebih sigap. Ia tak mampu mengelak.

Kudesak ia untuk segera menyerahkan diri ke pihak yang berwajib. Namun, sia-sia saja daya-upayaku. Seulah dengan menyuruh orang gila berhitung dengan urut, adalah hal yang paling mustahil dilakukan di muka bumi ini, bukan?

Kuseret saja tubuhnya yang sedikit tambun itu. Toh, ia tak mampu melawan. Keseimbangan badannya telah takluk oleh anggur yang kutaksir lebih sepuluh botol telah menginap di lambungnya. Bagaimana tidak, bau mulutnya itu sungguh membikin enek.

Di antara gang-gang sempit. Aku melihat, orang-orang memegang beraneka senjata, pastinya telah siap untuk menghantam lelaki ini. Badannya yang sempoyongan semakin memberatkan topangannya di lenganku. Akan tetapi, membiarkannya sama saja dengan mengundang keramaian di tengah kota. Tak terbayang bagaimana amarah orang-orang itu kepadanya. Pastilah lelaki ini akan dipukuli. Bisa saja ia mati. Ini kasus besar.

Kebetulan, pos polisi tak jauh dari sini.

Padahal, malam ini masih banyak yang harus kukerjakan. Sungguh, deadline berita sedang menumpuk. Ah, bagaimana kalau kujadikan saja orang ini bahan tulisanku. Kupikir itu ide yang lebih baik.

***

Aku masih menyimpan harapan supaya salju tidak beranjak hingga batas waktu tak terhingga; sampai aku benar-benar bosan melihat gumpalan putih itu tumbuh di atas atap, di permukaan tanah, di jalan, di mana saja.

Sebagai pengabdianku kepada orang tua angkat yang telah berkenan memberikan tempat tinggal yang segar dan lapang ini, aku sering memberikan sela-sela waktu luangku untuk membantu pekerjaan-pekerjaan rumah. Salah satu yang kutunggu adalah membersihkan pekarangan dari tumpukan salju. Aku belum pernah melakukannya. Kebetulan hari ini adalah akhir pekan yang sedikit luang.

Bersama kedua anak lelakinya, Thom dan Rich, aku semakin bersemangat megayunkan sekop. Sesekali mereka menimpuki tubuhku dengan gumpalan yang menyerupai bola. Tidak mau kalah, kubalas dengan bentuk yang lebih besar. Ia tersenyum. Kami bahagia.

Kulihat Bu Numi masih khusuk dengan rajutannya. Kali ini ia membuat sebentuk tulip didominasi wol berwarna oranye. Berkali-kali Thom, si gembul, mengajak ibunya untuk ikut bermain bersama kami. Akan tetapi perempuan itu hanya mengulum senyum, mimik menolak. Tidak dengan Rich, ia teramat sibuk memadat-madatkan salju membentuk boneka panda yang gembul, persis adiknya. Aku tertawa.

***

Rekan-rekan pewarta memberikanku pujian. Aku tak pernah membayangkan sedikitpun kejadiannya akan seperti ini. Terlebih pemimpinku. Berkali-kali beliau menepuk-nepuk pundakku dan mengoncang-goncang telapak tanganku tanpa bosan. Hari ini aku merasa menjadi pahlawan sekaligus orang yang paling beruntung. Hari yang penuh dengan warna-warna yang indah. Orang-orang memujiku layaknya seorang gladiator yang memenangi pertarungan.

Uang saku yang berkali-kali lipat dari gaji bulanan kali ini kuterima langsung dari atasanku. Tak tanggung-tanggung, ia menaikkan jabatanku menjadi redaksi bidang kriminal. Kedudukan yang selama ini hanya menjadi bayanganku saja. Warga pendatang yang baru bekerja tiga bulan mendadak memegang salah satu jabatan. Tentunya ini menjadi kebanggan tersendiri bagiku.

Lelaki malam itu telah membuat namaku tercatat dalam buku harian dewi fortuna. Tak pernah terpikir olehku dia sebegitu liar sampai-sampai menjadi penjudi besar yang paling dicari atas segala kasus yang dilakukannya akhir-akhir ini.

Demi pertaruhan yang lebih besar lagi, ia nekat melakukan pembobolan salah satu kediaman pejabat negara. Semenjak itu ia menjadi orang paling dicari di seluruh ranah Italia.

Namun, kekalahan yang begitu menyakitkan telah membuatnya takluk bersama berbotol-botol anggur yang membuatnya hilang kesadaran. Kemudian ia nekat berkendara.

Dan, malam itu, ia melakukan semuanya, yang sama sekali tak ada jeritan ia rasakan, tak ada darah yang ia lihat. Pengaruh minuman itu membuat jiwanya berada pada kondisi lain.

***

Dari sudut mataku, aku melihat Bu Numi acap kali menatapku tajam. Jika aku menoleh ke arahnya, sekejab ia rubah romannya seperti sediakala. Tentu, sembari kembali memainkan tangannya naik-turun meliuk-liukan wol oranye di hamparan kain putih berlubang banyak itu.

Ah, barangkali hanya firasat saja, pikirku menenangkan diri. Akan tetapi tidak sekali atau dua kali saja, kali ini aku benar-benar mendapati matanya seolah-olah ingin menerobos kedua bola mataku. Kami bersitatap sekian detik, sebelum Thom merengek meminta ibunya mengajarinya membentuk benteng dari gumpalan salju.

Ada apa dengan Bu Numi?

Lumayan. Setapak menuju arah pagar sudah tidak begitu tertimbun gumpalan salju lagi. Susunan pavin block mulai terlihat jelas. Tentu, Bu Numi tidak akan kesulitan lagi mengeluarkan kendaraannya. Begitupun denganku. Sepeda yang dihadiahi Bu Numi kepadaku benar-benar membantu pekerjaanku. Sepeda itu senantiasa kukayuh ke pendakian kantor begitupun sewaktu pergi meliput, ke mana saja.

Keluarga ini benar-benar menganggap aku sebagai salah satu anggota mereka. Aku merasakan kedekatan yang luar biasa. Kehangatan yang tak kalah kudapat saat bersama keluarga di kampung halaman. Padahal, aku baru beberapa waktu berada di sini.

Media lama tempatku bekerja memberiku kesempatan untuk tugas ke negara ini lantaran kerjaku dianggap bagus, dan lagi penguasaan bahasa Italiku cukup fasih.

“Anda kami berhentikan!” Ujar atasanku saat itu. Darahku berdesir, laju nafasku seketika terhenti. Tanpa angin apa tiba-tiba beliau memanggilku ke ruangannya lalu berkata demikian. Apa salahku? Pikiranku kalut. “Akan tetapi Anda kami rekomendasikan bekerja di sini,” lanjutnya lagi sembari mengeluarkan sebuah amplop segiempat cokelat yang di mukanya tertulis “La Grade”. Kuhela nafas panjang, lalu membuangnya boros. Peluhku menitik mengalahkan dinginnya ruangan yang ber-AC saat itu. Kerjasama kedua perusahaan itu telah membawaku menapaki negeri yang biasa kusaksikan dari layar kaca. Terlebih Giuseppe Meazza, stadion milik klub sepakbola ternama AC Milan dan Inter Milan itu kini benar-benar nyata membentang di hadapanku.

Thom dan Rich meneriakanku untuk secepatnya melepaskan sekop dan segera beranjak ke ruang makan. Saatnya makan siang.

“Ayo kemari, aroma lhandang sudah mengeruak,” ujar mereka meneriakiku dari pintu. Lucu kedengarannya, ketika anak itu menyebut makanan khas daerahku, Rendang, dengan lidah baratnya.

Beberapa hari yang lalu, Bu Numi begitu penasaran tentang bumbu-bumbu apa saja yang dipakai untuk membuat rendang. Ia mengaku pernah merasakannya di sebuah restoran Indonesia di pusat kota. Sayangnya ia mencicipi hanya sekali saja, sebab harga yang dijual terhadap makanan itu sungguh mahal, bahkan yang paling mahal dari deretan menu. Awalnya aku terperanga mendengarnya, ah, pandai benar orang kita mematok harga di sini.

Akan tetapi Bu Numi paham, harga makanan itu wajar saja sedemikian tinggi. “Adalah yang terenak di dunia, nomor satu terlezat. Delizioso!” serunya sembari menyapukan sekitaran bibir tebalnya dengan lidah yang ia keluarkan. Matanya mengerjap-ngerjap seolah-olah daging itu memang telah ia kunyah di dalam mulut.

Seketika ia tahu makanan itu berasal dari daerah asalku, serta merta ia merengek ingin segera tahu “rahasia” terhadap bumbu-bumbu rendang. Tentu dengan senang hati kubeberkan apa yang kuketahui—kebetulan sewaktu kecil dulu, Amak sering menyuruhku ke pasar tatkala beliau akan merendang. Barang tentu aku tahu semua rempah yang dibutuhkan, pun sedikit banyak cara meramunya. Bu Numi sangat senang, ligat ia catat segera apa yang kusebutkan.

Tak kusangka, hari ini bule itu telah mempraktikkannya.

“Bagaimana?” tanya Bu Numi sesaat setelah kucicipi segigit daging yang masih dalam kunyahanku.

“Sedikit asin, akan tetapi cukup lezat,”

Aku perhatikan ia tak menyentuh daging itu sedikipun. Padahal semua tentang makanan ini ia yang mengidam-idamkannya.

“Kenapa tidak di makan?” ujarku lagi.

Dia diam. Lama.

“Kau tahu mengapa aku mencintai salju?” tanyanya kemudian. Loh, apa hubungannya salju dengan daging yang kutanyai barusan.

“Tidak,” jawabku terperanga mendapati sesuatu yang terasa janggal, sambil terus menggigit daging yang lain.

Ia hadapkan mukanya ke luar jendela. Dengan cermat ditatapnya butir demi butir gumpalan salju yang jatuh dari angkasa.

“Salju membimbingku menelusuri hati. Salju mengajarkanku mencintai ketulusan. Salju adalah kenangan. Salju adalah mozaik memoria cinta.”

“Maksudmu?”

“Salju pernah mengirimkan seseorang pada kehidupanku. Kami hidup bahagia membina keluarga yang begitu indah. Sayangnya, mentari membuatnya hilang, menguap menjelma awan yang kadangkala hitam, gelap,” sekejab ia arahkan bulatan matanya yang besar itu tepat ke arahku.

“Malam telah menelannya! Melumatnya dalam kebekuan kisah. Pertaruhan itu. Ya, pertaruhan yang membuatnya semakin gila. Aku paham ia telah gila, gila pada angka-angka yang tak mampu diterka.

Dulu aku sempat mengeluh, kemudian mengusirnya keluar dari kehidupanku. Akan tetapi kemudian aku percaya, kelopak matanya pasti akan kembali terbuka, jika kekuatan cinta yang membukanya. Namun… kau telah memenjarakannya sebelum aku kembali menemukannya.”

“Apa yang Bu Numi maksud?”

“Tentang lelaki yang ada di surat kabar beberapa hari lalu!” Ucapnya. Selembar surat kabar ia keluarkan dari balik meja. Ah! Foto itu. Tulisan itu. Aku paham benar, itu foto dan tulisan yang membawaku ke posisi saat ini.

“Akhh…,” aku tercekat. Aku merasakan sesuatu tekanan yang begitu kuat dari sekitaran ulu hati. Mulutku tiba-tiba mengeluarkan darah. Ada apa dengan daging yang kumakan.

Lamat-lamat kudengar suara Thom dan Rich memanggil-manggil namaku. Perih kurasakan ke segala rusuk belulang. Pori-pori kulit mendadak mati rasa. Aku melihat semua benda yang ada di sekitarku tiba-tiba melayang, membayang. Nafasku sesak. Tubuhku serasa di awang-awang.

Dalam samar aku melihat Bu Numi menyeret kasar tubuhku keluar rumah, menuju halaman belakang. Kedua anaknya masih terus memanggil-manggil namaku, mengguncang-guncang tubuhku. Butiran-butiran salju yang jatuh tak dapat lagi kurasakan. Tubuhku mati rasa.

Bu Numi meninggalkanku sendirian. Thom dan Rich masih setia disisiku sebelum ibunya menendang paksa mereka agar masuk ke dalam rumah. Semakin lama suara mereka terdengar kian mengecil, lama-lama senyap.

Kini, aku merasa berada di tengah padang salju yang begitu luas. Segala yang kulihat adalah putih. Sebelum nafasku mengap, dan mataku kian menutup. Kelam. Hitam.

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.