Potensi Keterancaman Pemanfaatan Tinggalan Batu dan Solusinya

Maret 4, 2018

Dimuat Padang Ekspres, 4 Maret 2018 ||

Pemanfaatan tinggalan berbahan batu dalam bentuk pelaksanaan aktivitas di lingkup objek secara tidak langsung akan rentan memengaruhi keterawatan objek secara fisis. Tindak pemanfaatan harus diiringi dengan upaya-upaya pelestarian, khususnya lebih intensif pada langkah-langkah perawatan dan pemeliharan. Mengingat, secara pembentuk material, objek berbahan batu umumnya akan mudah dilekati lumut kerak, pertumbuhan jamur dan juga pembiakan alga. Hal tersebut lambat laun akan membuat permukaan batu menimbulkan warna baru yang menutupi warna lama. Bahkan bukan tak mungkin lama-kelamaan akan membuat permukaan atau malah kedalaman batu akan keropos. Terlebih jika dalam kondisi lembab. Adapun upaya pelestarian Cagar Budaya berbahan batu guna menghambat, mencegah dan mengatasi faktor perusak yang berasal dari luar maupun dari dalam objek tersebut ialah dengan melakukan konservasi secara teratur. Konservasi akan didahului dengan studi konservasi yang mengkaji lebih kepada metode, penggunaan bahan konservasi, serta teknis penanganan objek yang akan diterapkan.

 Pendokumentasian menjadi salah satu langkah penting untuk dilaksanakan sebagai upaya penggambaran kondisi eksisting tinggalan batu dalam bentuk data piktorial dan data detail teknis. Cepat atau lambat, pengaruh lingkungan baik dari aktivitas pemanfaatan yang melibatkan objek secara langsung maupun faktor-faktor lingkungan lainnya, tentunya akan berpengaruh pada intensitas dan proses pelapukan batu secara fisis.

Pada dasarnya, upaya pelestarian apapun jenis dan bentuk Cagar Budaya semestinya harus senantiasa didukung dengan kegiatan pendokumentasian sebelum dilakukan kegiatan yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan keasliannya. Kemudian data-data yang terdokumentasi kelak akan menjadi data baku yang akan menjadi rujukan manakala dilakukan upaya pemeliharaan, pemugaran ataupun pengembangan nantinya. Bentuk pendokumentasian pada tinggalan batu antara lain dapat dilakukan dengan perekaman data dan pendokumentasian 3D menggunakan aplikasi 3D Laser Scanning Photogrammetry. Metode pendokumentasian ini akan menghasilkan gambar Point Clous pada semua sisi, Asbuilt Drawing 2D dan Virtual Tour 3D. Selain itu, metode pendokumentasian dapat dilakukan dalam bentuk perekaman orthophoto melalui pesawat drone untuk mendapatkan gambaran kawasan secara spasial. Selain itu pendokumentasian piktorial dapat dilakukan langsung pada masing-masing objek.

Mengutip pemikiran Truman Simanjuntak, dalam tulisannya Arkeologi dan Pembangunan Karakter Bangsa yang termaktub di buku Arkeologi untuk Publik: “Keseluruhan nilai-nilai budaya menjadi bagian dan karakter Indonesia sekarang. Karakter itu akan semakin kaya lagi jika dilengkapi dengan nilai-nilai kehidupan masa lampau yang belum teridentifikasi dan nilai-nilai inovasi serta serapan budaya modern. Dengan mempraktikkan kesemuanya dalam kehidupan berbangsa, Indonesia niscaya tampil sebagai bangsa yang betul-betul berkepribadian khas, yang membedakan dari bangsa-bangsa lain di dunia.“

Indonesia sejatinya memang amat kaya dalam hal kebudayaan. Nusantara adalah sebuah peradaban besar yang lahir dari detak-jejak kehidupan manusia Indonesia dari masa ke masa. Negeri ini bernyawa lantaran kekhasan-kekhasan nilai budaya maupun tinggalan benda dari setiap periodesasi perjalanan sejarah. Sehingga bukan tanpa alasan bahwa kekayaan budayalah yang menjadikan Indonesia tampil sebagai bangsa yang betul-betul berkepribadian khas mengutip kata Truman.

Perkembangan cipta, rasa dan karsa manusia dari masa ke masa telah mengubah mekanisme manusia dalam menjalankan hidup. Ide-ide penciptaan atas wujud benda di masa lalu tidak sekadar menjadi invensi penciptaan bentuk alat sebagai piranti dalam menunjang aktivitas kehidupan. Dari nilai pemanfaatan benda pun serta merta turut memengaruhi perkembangan manusia dalam berkebudayaan. Boleh dikatakan benda hadir sebagai kekayaan akal dalam memanfaatkan kesediaan alam sekaligus untuk menaklukkan alam. Akan tetapi memaknai benda bukan semata dari bentuk rupawi yang dapat dilihat belaka. Munculnya naluri penciptaan yang bermutu, daya yang cerdas, kehendak jiwa yang mendorong manusia bereksperimen saat itu telah menjadi perwujudan empiris dalam proses menciptakan benda sebagai sebuah karya rupa yang sederhana namun kompleks, wajar namun estetis, primitif namun jenius, obsolet namun kontemporer. Pemikiran, sebagai sebuah kunci gagasan awal tercipta, adalah sebuah mahakarya yang telah, sedang dan akan selalu berevolusi secara berkesinambungan dalam membentuk maupun memanfaatan sebuah karya rupa yang selamanya akan tetap bernama benda. Benar kiranya, dari masa lalu kita mengenal hari ini, dan dari hari ini kelak menumbuh inspirasi dan inovasi untuk masa depan.

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.