Celana Dalam Jahit Perca

November 12, 2012

Tayang di okezone.com, 12 November 2012 ||

AKU tak habis pikir, apa yang terjadi padanya senantiasa tak akan lepas dari kepentingan orang-orang di sekitarnya.

Mereka begitu menginginkan baju kurung, basterop, bajang, belah bakung, seroja, pesak sebelah, kepok, kemeja buntung, jas katak, kelepak, kain panjang, telekung, handuk, kutang, lebih-lebih yang satu itu: celana dalam jahit perca miliknya, seorang ibu tua, penjahit ulung, Pertiwi sebutan orang.

Kau tentu tak tega melihat tubuh ringkih itu terus diberondong pelor bukan? Usah terperanjak akan apa yang kubilang barusan. Sungguh, aku tidak salah. Dari bisikan yang kudengar, mereka tak sembunyi-sembunyi lagi berniat ingin membunuhnya. Jika ia mati, tak akan ada lagi perlawanan, barang tentu dengan mudah mereka mengambil celana dalam itu, sekalipun sedang ia kenakkan.

Sebenarnya ia tak akan gamang menderita bersebab hal demikian. Dahulu kala, ia telah puas merasakan penderitaan, semenjak suaminya datang di kehidupannya, lalu mati 67 tahun yang lampau. Ada yang bilang lelaki itu bunuh diri lantaran malu tak punya kelamin, namun banyak yang percaya ia tewas dibunuh, sebab pada bangkainya diketemukan sebilah bambu runcing mengakar di buncit perutnya.

Karena aku mencintai ibu tua itu maka aku akan menjawab rahasia besar tentang celana dalam yang jadi rebutan. Sungguh, aku akan membeberkan rahasia besar itu kepadamu. Bersyukurlah hari ini kau berkesempatan membuka lembaran ini. Kalau tidak, tentu kau tidak akan tahu dan kau akan terus merasa sok tahu selama-lamanya. Hehe, maaf apabila aku terlampau egois, ya semua ini karena aku tahu.

***
Satu per satu kubukakan pintu kendaraan mewah yang silih berganti mendarat di halaman Istana. Kulemparkan senyum kepada setiap mereka yang turun. Karena senyum itulah aku dapat menjadi pelayan di Istana ini.

“Selamat datang bapak. Selamat datang ibu,” sapaku seramah mungkin. Siang ini majikanku menggelar perhelatan besar. Ia mengundang manusia-manusia yang dianggap sebagai pembesar Istana.

Majikanku adalah manusia paling dari segala paling. Ia memiliki yang tidak dimiliki sesiapa pun jua. Ia merasakan yang tidak dirasakan semua orang. Ia bukan jin, bukan rasul, bukan pula malaikat atau sebangsa iblis, apalagi dedemit. Dia adalah manusia: bermata, berhidung, bertelinga, tak ubahnya seperti kau dan aku. Hanya yang membedakannya: celana dalam. Ya, celana dalam yang selalu dikenakannya, celana dalam yang ia perlihatkan kepada siapa saja.

Orang-orang lekas menyalaminya dengan sedikit menekur. Tidak dengannya. Majikanku tanpa sepersekian milimeter pun beroleh hal serupa. Dia tetap berdiri setegak batang surian, punggungnya lurus sempurna, bahkan dagunya yang tumpul itu sengaja ia angkat, sedikit saja.

Seorang ibu tua hadir di antara kerumunan tamu. Di kerumunan orang ramai ibu itu mendekati tubuh bagian belakang majikanku. Ia lantas mengeluarkan sebuah gunting berkilau dari sakunya. Ketika majikanku asyik menyalami orang-orang, ia lekas menyobek celana dalam: barang berharga milik majikanku itu. Entah apa tujuannya. Sekonyong-konyong, majikanku marah besar mendapati celana dalamnya disobek.

Untung baru seujung saja yang terkerat. Suara gunting yang beradu pastilah akan kedengaran, sekalipun ia melambatkan lajunya. Toh, kalau tidak kedengaran bukan menggunting namanya.

Majikanku memanggil rekan-rekanku yang berbadan besar, mereka biasa memukul orang-orang yang menggaduh majikanku, bahkan membunuh. Habislah orang itu dihajar. Ibu tua itu diseret paksa keluar pagar oleh mereka. Badannya yang ringkih itu babak belur.

“Bu, apa perlu kendaraannya saya keluarkan?” tanyaku menghampirinya yang tergopoh-gopoh berjalan ke arah seberang sana, barangkali ia ingin merasakan kesejukan udara untuk mengeringkan lukanya. Sedangkan kendaraannya; sepeda ontel, masih ada di pelataran parkir, di antara jejeran kendaraan-kendaraan mewah.
“Tak perlu. Ambil buatmu saja!”
“Loh, kok…”
“Iya, ambil saja. Terserah mau kau pakai atau kau jual” Sambarnya lagi. Sementara punggungnya semakin jauh berjalan meninggalkan halaman Istana yang maha luas.

“Apa maksud Ibu?”
“Dek, ini kesempatanmu!” Urat leher perempuan itu timbul. Aku tercekat tak tentu hendak dikata.

Ibu tua itu kemudian mengajakku duduk di rimbun sebatang pohon yang cukup rindang. Pancaran mentari tak kami hiraukan. “Kamu tahu kenapa aku melakukan tindakan tadi atas celana dalam majikanmu?” Tanyanya membuka percakapan, tentunya dengan suasana yang sedikit berbeda. “Barangkali Ibu iri dengan kekayaan majikanku, terlebih celana dalamnya yang paling berharga itu,” jawabku sekenanya.

“Huh, orang memang kebanyakan berpikiran demikian. Mereka pasti akan menjawab persis seperti jawabanmu,” jelasnya lagi. Ibu itu mengambil sebuah kerikil di dekat dudukan kami.

“Dek, coba kau lempar kerikil ini ke arah sana!” ia naikkan telunjuknya tepat ke arah Istana. “Pecahkan kaca itu sampai berkeping-keping!” ujarnya lagi dengan nada sedikit naik. Aku gemetar mendengarnya. Mana mungkin aku berani melakukannya, bisa-bisa aku dipecat. Kemungkinan terburuk: aku akan dihabisi rekan-rekanku yang berbadan besar lalu dipenjarakan.

“Ti… tidak Bu, aku tak berani…,” tolakku gemetar.
“Seandainya aku berikan dua pilihan, mana yang akan kau pilih: kau akan melemparkan kerikil ini ke kaca sana saat majikanmu tidak ada di rumah atau kau akan melempar kerikil ini saat majikanmu tengah tertidur pulas? Kau harus memilih antara keduanya!”

Pertanyaannya membuatku bingung luar biasa. Apa maksud ibu tua ini? Kutatap matanya yang kuyu. Keriput di sekitaran pipinya membuat ia nampak lusuh, sementara di bibirnya ada senyum yang indah menggantung. Senyum yang menyembunyikan jawaban besar. Jawaban dari pertanyaan yang membuatku mencoba berpikir melebihi kemampuanku.

“Aku memilih ketika majikanku tidak ada di rumah,” jawabku pasti. “Mengapa?” tanyanya lagi. Ah! dia menyerangku bertubi-tubi. Suara perempuan itu menjelma guruh, dan aku adalah si pekak, tatapannya adalah kilat, dan aku si buta.

“Supaya tidak ketahuan bahwa aku pelakunya,” jawabku sekenanya saja. Dia tersenyum. Pandangannya yang sedari tadi ke arahku, kini ia palingkan ke jalanan yang berada di hadapan kami.

“Dek, itulah yang namanya kesempatan. Tadi, aku bersedia memberikan sepeda ontelku untukmu, seharusnya kau ambil saja. Maka itulah kesempatanmu mendapatkan sepeda,” sejenak ia menghela nafas. Aku semakin penasaran dengan penjelasannya selanjutnya. Apa lagi kata-kata yang hendak meluncur dari mulut betina ini.

“Aku kemudian memberikanmu sebutir kerikil, itulah kesempatanmu untuk memecahkan kaca.” Ia pegang pundakku. Aku masih terperanga mendapati jawabannya barusan.
Suara riuh tepuk tangan dari dalam ruangan terdengar sayup sampai ke tempat kami duduk.

“Jadi, sikap ibu tadi mencoba merusak celana dalam majikanku, apakah itu juga kesempatan?” tanyaku mengira-ngira.
“Tepat!” Ia kemudian berdiri. Senyumnya kian berseri.

“Aku adalah seorang ahli jahit di keluarga Istana. Aku mendadak kaya karena buah tanganku. Hidupku bahagia. Segala yang ada di dunia ini dapat aku miliki. Namun, akhir-akhir ini aku merasa menjadi penjahit paling tolol. Ada satu yang tak pernah aku pikirkan selama ini, bagaimana mungkin aku tak sadar, jahitan  indah yang kubuat dengan segala rasa dan karsa, yang bagiku itu adalah bentuk terindah dari sekian banyak karya-karyaku, ternyata hanya untuk dipertontonkan.”

“Ah, dipertontonkan? Maksudnya celana dalam itukah?” ujarku keheranan.
“Benar. Aku telah berusaha memikirkan lekuk jahitan itu lebih dari separuh masa hidupku. Aku bangga saat majikanmu mempercayai jahitan itu untuk dilekatkan di celana dalamnya. Aku yakin saat itu adalah kesempatanku untuk mengabdi kepadanya, kepada Istana. Namun, ia telah lupa diri. Hingga tanpa malu ia mempertontonkan celana dalam itu di hadapan siapa saja. Tanpa mengenakan pelapis lain. Ia nekat telanjang. Malunya sudah musnah.”

Dari dalam istana, aku melihat sesosok tubuh gagah cepat berlari menuju dudukan kami. Orang itu, orang yang membuatku hidup, orang yang memiliki kuasa penuh atas kehidupanku.

“Tolong buatkan saya sebuah celana dalam lagi. Cepat!” ujar majikanku kepada ibu tua.
Tak menanggap. Ibu itu diam. Lama. Kemudian ia ambil sebilah belati dari balik bajunya. Segera ia menggerakan tangannya menebas dari atas. Bagian depan celana dalam majikanku sobek, ada darah yang menyembur deras.

***
Malam setelah matinya majikanku, dengan sisa-sisa perca, perempuan tua itu mencoba menjahit kembali celana dalam berwarna merah putih itu. Ia menyuruhku mencuri sepotong benang dari saku-saku sipir yang tertidur pulas. Tapi aku tak mau.

Padang, 17 Agustus 2012

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.