Perangai Pintu

Desember 30, 2012

Dimuat Singgalang Minggu, 30 Desember 2012 ||

Pak Rampai kelimpungan. Sekalian jenis perkakas sudah dicobainya satu-satu buat mengupak pintu rumahnya.

Pintu itu, pintu kayu yang disingkap dan disahap saban hari. Pintu yang membuat Pak Rampai dan Bu Rampai dapat masuk ke rumah yang sedang elok lapangnya, dan dapat keluar untuk mengecap suasana ruang tanpa sudut yang lebih plong. Pintu yang jika digerakkan bunyi deritnya agak keras karena engselnya sudah lama tidak diberi minyak.

Berapa waktu lalu gagang pintu itu rusak. Entah mengapa, belum lama ini terbit niat Pak Rampai untuk menggantinya dengan gagang baru yang jika dipandang sekilas gagahnya bukan main. Gagang itu berona emas. Mengkilap. Lubang kuncinya tipis. Seperti gagang pintu rumah mewah saja.

Dulu, begitu lubang kunci yang lama rusak, Pak Rampai membikin selak dari kayu petak kecil yang dipakukan ke kusen. Jadi, jika mau mengunci pintu, tinggal putar saja santungnya. Begitu pula saat hendak membuka. Model macam ini rupanya ampuh juga buat menghadang maling masuk.

Sebetulnya, pintu itu hanya sekali-sekali saja dibuka karena ditokok tamu. Selain orang yang berniat mengantarkan sirih pengundang hajat buat keluarga Rampai, biasanya yang datang adalah orang yang sudah punya uang untuk membayar utang kepada Bu Rampai.

Bu Rampai itu kerap membungakan uang. Akan tetapi,semakin hari semakin banyak saja orang yang meminjam kepeng kepadanya. Bagaimana lagi, di kampung orang sama-sama hidup susah. Maka, agak sulit buat mencari tunggakan. Orang kaya ada memang, cuma jarang ada yang berkenan memberi pinjaman uang. Pintu mereka tinggi-tinggi.

Pak Rampai kian buncah. Terlebih bininya bertura-tura tak berketentuan.

“Dasar pikun!”

“Bapak bodoh!”

“Di mana otak Bapak?”

“Apa Bapak tak punya ini lagi!” (sembari menunjuk-nunjuk kepala sendiri)

Mendengar itu Pak Rampai hening. Hanya jidatnya mengernyit sikit. Lain dengan bininya. Di hati Bu Rampai ada kecamuk serupa benar letusan gunung. Ya, letusan gunung.

Gunung mau meletus! Demikian kutipan yang akhir-akhir ini marak diperbincangkan orang. Berita itu ada disiar di radio bahkan televisi nasional. Ada pula di halaman depan koran pagi.Pun para ahli belum lama ini mengatakan hal serupa. Ditambah lagi beragam tanda alam mulai nampak. Tanda-tanda itu sudah sangat hapal bagi orang yang turun-temurun mendiami kaki gunung dan tak disangsikan lagi kebenarannya.

Benar saja apa yang dikira, pagi ini gunung mulai mengeliat.

Pak Rampai masih khusyuk mencungkil-cungkil setentang gagang pintu. Ia berusaha meledosnya.Biar rusak, asal dapat keluar. Demikian batinnya bertutur.Tapi upayanya nihil.

“Aduh, duh, duh… Mati cepat kita, Pak!” Bu Rampai senewen sendiri membayangkan dirinya dan lakinya sudah luluh dilahap lahar.

Bagaimana tidak, semua orang di selingkung rumahnya sudah berhamburan dari tadi, sejak mobil bersirine meraung-raung dan menyuruh penduduk buat mengungsi secepatnya.

“Gunung meletus!” “Lari! Lari!” Begitu teriakan orang-orangdi dekat rumahnya. Sedangkan Bu Rampai dan Pak Rampaihanya mampu mendengar suara-suara itu dari dalam saja.Sebab, bagaimana mereka hendak beranjak dari rumah, pintu rumah terkunci. Kunci rumah hilang. Pak Rampai lupa dimana ia taruh kunci pintu itu. Parahnya lagi, hanya satu itu pintu buat keluar. Keluar lewat jendela,mustahil. Rumah itu tak berjendela. Dulu ada, dua buah jendela. Jendela berdaun. Namun, sejak Bu Rampai menikah dengan Pak Rampai,jendela itu dipugar menjadi dinding. Alasannya? Hanya Bu Rampai yang tahu.

Penduduk ramai-ramai naik oto truk, bak terbuka, motor, ada juga yang jalan kaki berbondong-bondong—sebagian dari yang jalan kaki itu sebenarnya punya kendaraan akan tetapi mereka tersara bara—, yang menghela kerbau dan kambing banyak pula. Ada lagi yang mengundang sayur-mayur,beras, televisi dan radio.

Penduduk yang mengungsi itu bersama-sama menyiah dari jangkau gunung.Mereka mengayomi diri dan keluarga ke daerah tetangga yang dirasa aman. Dari situ, mereka ramai-ramai melihat puncak gunung yang sedang murka.

Di daerah pengungsian itu,mereka mendapati penduduk setempat pada meraih alu. Tongkat yang biasa dipakai untuk menumbuk padi dan tepung di lesung itusedang dipegang dan diarahkan ke gunung yang sedang meletus. Penduduk setempat percaya, hal ini dilakukan supaya kepundan tidak mengarah ke kampung mereka dan akan terbang jauh ke kampung lain.

Biasanya pula,penduduk di sekitaran gunung itu pada gemar menudungi kepala dengan sebo dan berselempang kain sarung yang adakalanya dipakai sembahyang adakalanya dipakai tidur. Sungguh! Suhu di daerah sekitar gunung bisanya membikin geraham bergidik. Akan tetapi tidak untuksaat ini, panas tak tanggung-tanggung. Seperti langkan neraka, barangkali.

“Pak Rampai dan Bu Rampai tak ada!” laung seorang pengungsi yang tak lain adalah kepala kampung. Setelah dihitungnya satu-satu penduduk yang berkumpul, ia baru menyadari warganya kurang dua. Dan ia tahu saja dua orang itu adalah Pak Rampai dan Bu Rampai.

Pengungsi lain turut kacau dibuatnya.

“Ah,iya, di mana mereka?”

“Apa mereka tak niat mengungsi?”

“Mungkin saja.”

“Masa iya?”

“Kalaulah iya, salut kita, kuat betul imannya.”

“Tapi benar juga, kematian itu sebenarnya sudah bergaris.”

“Ya. Ke mana pun kita berada, kematian itu tak akan lari dari garis itu.”

“Lah, kalau begitu mengapa kau turut mengungsi?”

“Mmm…”

Di kisah yang lain:

Pak Rampai berulangkali menyeka peluh yang beranak di keningnya. Sudah sekuat tenaga iaberusaha membuka pintu,namun segala daya upayanya tak kunjung berhasil. Sedangkan Bu Rampaimasih saja mengata-ngatai suaminya sambil mondar-mandir tak jelas.

“Sudahlah Bu, jika ajal benar yang menjemput kita, inilah suratan bagi kita.”

“Ini karena kebodohan Bapak!”

“Kebodohan Bapak bagaimana?”

“Ya. Bapak asal saja menaruh kunci dan…,”

Terujunglah ucapan Bu Rampai dibuatnya saat ia melihat Pak Rampaiyang tiba-tiba tegak dan menghentikan usaha membuka pintu itu.

Pak Rampai melepas baju yang dikenakannya, lalu ia gantung di belakang pintu yang tidak berperasaan itu. Lantas Pak Rampaimenancapkan ekornya di atas kursi malas sembari memasang apipada hulu rokoknya. Bu Rampai semakin bingung mendapati perangailakinyadi situasi amat genting itu. Asap rokok yang diembus Pak Rampai semakin meninggi saja, seroman kepundan di gunung sana.

Kembali ke pengungsian:

Penduduk saling melempar ucapan di antara kecemasan yang berkeliaran.

“Ibu! Awan di gunung itu indah ya, seperti pohon beringin,” ujar seorang anak yang juga mengungsi. Sedangkan ibunya menahan tangis melihat lahar panas dan debu vulkanik yang disebut anaknya sebagai ‘awan’itu.

“Ini letusan paling dahsyat!”

“Untung saja kita dapat menyelamatkan diri tepat pada waktunya.”

“Jadi, bagaimana keadaan keluarga Rampai?”

“Entahlah, semoga mereka tak apa-apa. Akan tetapi sulit memastikan mereka akan selamat.”

“Hebat mereka punya iman.”

“Aku tak menyangka, Bu Rampai, lintah darat itu kini telah memiliki kekuatan iman yang teramat kokoh.”

“Laku seseorang tak dapat dikira, kawan.”

“Ya. Benar.”

“Ah!”

Mari tengok balik keadaan rumah:

Bu Rampai panik luar biasa. Mukanya beku sebeku-bekunya. Badannya gemetar segemetar-gemetarnya. Jantungnya serasa hendak tanggal saat itu jua. Nafasnya seperti nafas babi yang dikejar ribuan anjing peburu.

“Pak!Pak! Pak! Bagaimana ini Pak. Suara gemuruh itu makin jelas terdengar.” Bu Rampai mengguncang-guncang tubuh Pak Rampai yang tengah asyik dengan rokoknya .

Apa mau dikata, Pak Rampai sedang khusyuk bercengkerama bersama‘tuhan’ yang kata penyair Taufiq Ismail panjangnya 9 centimeter.

Padang, 2012

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.