Lomba Lari Musim Panas

Februari 16, 2014

Dimuat Padang Ekspres, Minggu, 16 Februari 2014 ||

Kucing Hitam kewalahan berlari. Tak mampu lagi ia mendahului kucing putih yang sudah semakin jauh. Terlebih pancaran matahari musim panas semakin membuat peserta semakin merasa letih. Beberapa meter lagi mencapai garis finish, Kucing Putih tetap berada di posisi terdepan, disusul Kucing Hitam pada posisi kedua.

Peluit ditiup oleh Pak Guru menandakan pertandingan usai. Dan lagi-lagi, pada seleksi kali ini pun Kucing Putih kembali meraih waktu tercepat. Maka Pak Guru menunjuk Kucing Putih menjadi wakil sekolah pada lomba lari musim panas yang akan diselenggarakan minggu depan. Sudah tiga tahun berturut-turut Kucing Putih selalu menjadi wakil sekolah.

“Selamat ya, kamu tepilih lagi,” ujar kucing-kucing lain menyelamati. Kucing Putih tersenyum menerima ucapan dari teman-temannya.

“Apa sih rahasianya sehingga kamu mampu mempertahankan prestasi?” tanya kucing lain penasaran.

“Mmmm… Tidak ada rahasia. Hanya saja aku selalu rajin berlatih dan tak kenal putus asa,” jelas Kucing Putih.

Di tengah sahabat-sahabatnya yang lain berkumpul mengelilingi Kucing Putih, Kucing Hitam datang mendekati Pak Guru. Ia terlihat kesal akibat kekalahan ini.

“Pak Guru, ini tidak adil. Kenapa selalu Kucing Putih yang terpilih?” gerutu Kucing Hitam seraya menendang jauh sebuah kerikil dari dekat kakinya. “Padahal seharusnya aku yang menjadi wakil sekolah. Dia kan sudah sering.”

“Kucing Hitam, Bapak belum bisa menunjuk kamu sebab Bapak memilih siapa yang terbaik dari hasil seleksi ini. Dan kali ini Kucing Putih tetap lebih baik dari yang lain,” terang Pak Guru. “Lagi pula, di kejuaran musim panas tahun lalu pun prestasi Kucing Putih tak mengecewakan sekolah.”

Pak Guru kemudian mengelus kepala Kucing Hitam. “Jika kamu rajin berlatih, dan pada seleksi tahun depan kamu membuktikannya dengan menjadi yang terbaik, tentu kamu akan menjadi wakil sekolah.” Pungkas Pak Guru.

Di dalam kelas, Kucing Hitam tampak masih kesal. Mukanya cemberut. Alis dan kumisnya tegak menukik. Tiba-tiba teman akrabnya, Kucing Belang dan Kucing Kuning, datang mendekati tempat duduknya.

“Kenapa kawanku, kamu kesal ya melihat Kucing Putih yang mewakili sekolah kita?” pancing Kucing Kuning memanas-manasi.

Kucing Hitam tak menjawab. Hanya raut wajahnya semakin menampakkan rasa sebal yang memuncak.

Seolah tahu cara buat menyenangkan hati Kucing Hitam, Kucing Belang lantas bersuara, “Tenang saja kawan, kami tahu bagaimana cara supaya kamu menjadi wakil sekolah kita.”

Sontak, mendengar itu, Kucing Hitam penasaran. “Bagaimana mungkin?”

Ketiga kucing itu pun saling merapat. Kucing Belang yang memiliki ide pun menjelaskan dengan rinci apa yang akan mereka lakukan. Suara mereka lunakkan takut terdengar kucing-kucing lain.

“Hahaha… Bagus sekali idemu. Aku setuju. Besok kita lakukan!” ujar Kucing Hitam girang.

***

Keesokan harinya, sepulang sekolah, ketiga kucing itu berkumpul di suatu tempat. Mereka terlihat sibuk menggali lubang yang cukup dalam. Setelah lubang digali, mereka tutupi permukaan lubang dengan rumput sehingga siapa pun tidak akan menyangka di situ ada lubang yang dalam.

Ternyata inilah rencana yang kemarin mereka susun, rencana untuk mencelakakan Kucing Putih dengan membuat lubang jebakan. Apabila Kucing Putih terperosok ke dalam lubang yang cukup dalam itu, tentu kakinya akan terkilir dan pastinya Kucing Putih tak akan mampu berlari lagi. Tentu saja Kucing Hitamlah yang bakal mewakili sekolah, karena ia berada dalam urutan kedua saat seleksi.

Dari jauh mereka amati Kucing Putih sedang berjalan mendekat. Mereka pun cepat melancarkan aksi. Kucing Hitam pura-pura meraung, ekornya seolah-olah terjepit pada batu. Sedang Kucing Kuning dan Kucing Belang segera berlari menghampiri Kucing Putih, meminta bantuan kepada Kucing Putih untuk mengangkat batu yang cukup besar itu.

Kucing Putih kaget melihat keadaan Kucing Hitam. Tanpa pikir panjang segera ia berlari menuju Kucing Hitam. Kucing Putih benar-benar ingin menolong sahabatnya, karena ia selalu ingat nasihat Pak Guru untuk selalu menolong teman yang sedang kesusahan.

Namun, saat ia hampir mendekat kepada Kucing Hitam, tiba-tiba tanah yang ia pijak runtuh seketika. Tubuh Kucing Putih terperosok ke dalam lubang. Ketika ia hendak meloncat keluar, kakinya terasa sakit dan sulit untuk digerakkan.

Melihat jebakan yang mereka buat berhasil, ketiga kucing itu pun tertawa terbahak-bahak.

***

Besok adalah hari yang ditunggu-tunggu. Perlombaan lari musim panas akan dilangsungkan. Tapi mendadak kabar didapati Pak Guru, bahwa Kucing Putih tak bisa mewakili sekolah karena kakinya terkilir. Pak Guru kaget mendengarnya.

“Oleh karena kondisi kaki Kucing Putih sedang sakit, sedangkan besok perlombaan akan dimulai, maka kamu yang akan mewakili sekolah dalam lomba lari musim panas kali ini,” kata Pak Guru kepada Kucing Hitam.

Tentu saja, mendengar itu, berdiri telinga Kucing Hitam. Hatinya riang bukan kepalang, tanpa ia merasa peduli pada keadaan dan kesedihan Kucing Putih akibat ulahnya.

Di perjalanan pulang sekolah, Kucing Hitam meluapkan kegembiraannya di hadapan Kucing Kuning dan Kucing Belang. Ia berlari-lari di sepanjang jalan, berjoget-joget dan meloncat-loncati pohon. Malangnya, saat ia akan meloncat dari suatu dahan ke dahan lain, loncatannya tak tepat. Dahan yang ia tuju sayup sebelum pijakannya. Sehingga, dari tempat yang tinggi itu tubuhnya terjun bebas ke tanah, persis seperti buah apel yang jatuh dari pohon.

Buk! Kucing Kuning dan Kucing Belang menjerit melihat kejadian itu.

Ketika diperiksa, kaki Kucing Hitam mengalami retak parah. Butuh waktu berbulan-bulan untuk menyembuhkannya.

Ia merasa bersalah kepada Kucing Putih. Dan ia merasa sakit yang menimpanya ini adalah akibat dari kejahilannya.

***

Setelah kejadian itu, Kucing Hitam bersama sahabatnya, Kucing Kuning dan Kucing Belang, mengakui kesalahan mereka yang sengaja telah mencelakai Kucing Putih dengan membuat lubang jebakan.

“Nah, anak-anak. Untuk menjadi yang terbaik harus ada latihan sungguh-sungguh. Serta kita juga harus menjunjung sikap sportivitas. Jika kalah, kita harus bersedia mengakui keunggulan lawan. Jadikanlah itu cambuk supaya kita semakin giat berlatih, agar gelak menjadi pemenang. Bukan dengan melakukan kecurangan untuk meraih kemenangan.” Pak Guru memberi nasehat.

Dengan muka terunduk Kucing Hitam menghampiri Kucing Putih.

“Maafkan aku Kucing Putih. Aku berjanji tidak akan berbuat curang lagi,” ucap Kucing Hitam penuh penyesalan.

Kucing Hitam mengulurkan tangannya. Tentu saja Kucing Putih menyambut uluran itu dan memaafkan.

“Jadi siapa yang akan menjadi wakil sekolah untuk perlombaan besok?” tanya kucing lainnya.

Kucing Hitam dan Kucing Putih saling berpandangan kemudian tersenyum seakan-akan tahu mereka telah memiliki jawaban yang sama. Dan dengan serempak mereka pun berseru: “Pak Guruuu!”

Mendengar itu, Pak Guru beserta teman-teman yang lain pun tertawa.

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.