Degradasi Lagu-lagu Cinta

April 8, 2013

Dimuat Rubrik Seni-Budaya, Padang Ekspres, 8 April 2013 ||

difusikan dengan nada hingga kemudian menjadi seutuh lagu. Sejatinya, permasalahan-permasalahan tersebut bisa bersumber dari mana saja, entah itu konflik yang terjadi di luar tubuh (eksternal) atau konflik batin yang timbul di sukma (internal) si pencipta lagu  itu sendiri. Di sinilah musikalitas seorang pencipta lagu dituntut untuk semampunya peka dalam mencari dan mencuri permasalahan untuk kemudian dijadikan penyingkap tirai atas segenap bagian integral dari proses penciptaan sebuah karya lagu.

Permasalahan tidak hanya sekedar menjadi ladang inspirasi dari terciptanya sebuah karya lagu, tapi adakalanya menjadi tujuan lagu itu sendiri diciptakan. Sebutlah permasalahan yang kebanyakan diangkat: cinta, sesuatu yang bersifat universal dan memiliki konseptual humanis. Banyak pencipta lagu menjadikan cinta sebagai landasan dalam berkarya, atau mendedikasikan hasil karya cipta sebagai bukti kecintaan pada seseorang/sesuatu yang tentunya dicermati dalam pelbagai perspektif. Cinta memiliki arti dinamis dan akan berbeda-beda jika ditilik sesuai sudut pandang masing-masing. Namun, realita yang hadir di tengah-tengah kita saat ini, cinta dianggap bermakna tunggal, yakni menyiratkan markah kasmarannya sepasang makhluk tuhan.

Tak dapat dinafikan, eksistensi lagu-lagu berpakem cinta seperti ini pun seakan menjadi kacang goreng paling gurih yang laku di pasaran dari masa ke masa. Tren lagu cinta (kasmaran, patah hati, cemburu) berguling di dalam pusaran arus pasar yang ternyata berdampak menguntungkan kepada unsur-unsur yang terlibat, yang serta-merta menjadikan karya tersebut—lagu-lagu cinta—tetap bernafas di tengah-tengah masyarakat. Unsur-unsur tersebut terdiri dari tiga komponen, sebagaimana dipaparkan Dharsono dalam bukunya Kritik Seni, bahwa “seniman, karya seni dan penghayat adalah tiga komponen utama pendukung kehidupan seni.” Selanjutnya Dharsono juga berpendapat, “tidak satu pun komponen tersebut dapat diabaikan keberadaannya, karena kesatuannya yang dinamis memungkinkan seni hidup dan berkembang dalam masyarakat.”

Pada akhirnya selera pasar malah kemudian yang dijadikan stimulus bagi si pencipta lagu dalam memulai—atau bahkan tujuan akhir—proses berkarya. Secara langsung atau pun tidak langsung, hal tersebut jelas-jelas akan memengaruhi atma si pencipta lagu itu sendiri terhadap karya lagu yang dihasilkan. Ia seolah-olah terpaksa membiarkan laki pulang kelaparan, dagang lalu ditanakkan.

Kondisi dunia permusikan memang terkesan variatif. Lagu-lagu cinta dengan lirik-lirik kosong diakali dengan package sedemikian rupa. Good looking-nya penyanyi, band, grup vokal (boyband dan girlband) berhasil menjadi komoditas yang mampu membelalangkan netra orang banyak, terlebih pada kelompok usia-usia tertentu yang menjadi target pemasaran sebuah lagu. Ditambah lagi keberadaan media (cetak, elektronik, on-line, sosial) turut mengambil peran dalam mendukung eksistensi mereka.

Lantas, kenapa akhir-akhir ini kita jarang menemukan  lirik-lirik bernas yang memiliki pendekatan pada makna cinta yang hakiki?

Tak dapat dimungkiri, kondisi permusikan buah karya anak bangsa saat ini tengah berada pada fase pengikisan secara perlahan terhadap nilai-nilai dan kekuatan sebuah lirik lagu. Pencipta terkesan apatis dalam memuat lirik yang menuntut kontemplasi pendengar. Pendengar tidak lagi diajak berpikir dan menelaah makna tersirat dari tiap bait yang dilahirkan. Seolah-olah nuansa nada yang terkesan enak untuk didengar, serta-merta berpengaruh terhadap apresiasi lagu. Fenomenanya, seseorang secara tidak langsung akan mudah mengingat dan mengulang kembali lirik lagu yang ia dengar, tanpa memahami apa makna atau pesan atau ungkapan yang terkandung pada lirik tersebut.

Nasib lagu cinta hakiki

Hal berbeda malah didapati lagu-lagu bertema cinta—yang hakiki—lainnya.

Iwan Fals, salah seorang musisi yang berani mengartikan cinta dengan caranya sendiri. Pencipta lagu sekaligus penyanyi yang sepertinya tidak ada duanya, dan bahkan sepertinya tidak ada yang (ingin) menggantikannya. Kehadirannya menjadi fenomena tersendiri baik dari kalangan musisi maupun penikmat musik. Boleh dikatakan, hampir semua lagu-lagunya dibebani lirik-lirik tegas, lugas, keras dan menukik. Tentang kecintaan pada sosial, kecintaan pada negerikecintaan pada alam,  kecintaan pada pejabat pemerintahan (dengan menyampaikan pesan lewat lagu-lagu yang nyubit, ngegigit, ngegeplok). Permasalahan yang ia coba angkat tak hanya terkotak pada impresi cinta yang ia anut. Ia tidak alergi pada nyanyian romantisme melankolis. Ada—bahkan cukup banyak—ia lahirkan lirik-lirik percintaan kasmaran, namun tetap sarat makna, bernas, yang tidak sekedar kata-kata: aku cinta padamu.

Iwan Fals pencipta lagu yang genius dan memiliki kepekaan pada sekitar. Dalam buku Menelisik Perjalanan Batin Iwan Fals, Yudi Noor Hadiyanto membeberkan, “hampir semua lagu yang dia (Iwan Fals) ciptakan di awal karirnya, merupakan hasil pengamatan dan pengasahan yang brilian terhadap segala peristiwa yang ia dapatkan melalui koran dan berbagai media yang jadi grand issue actual saat itu. Peristiwa- peristiwa yang tersaji dalam liputan berita di setiap media massa atau yang ia lihat, dengar dan rasakan, terutama yang berhubungan erat dengan persoalan sosial, ia ramu dalam bait-bait syair. Kemudian dipadu dan diselaraskan dengan melodi yang melahirkan sebuah lagu.”

Sayangnya, saat sekarang ini, lagu-lagu bertema sosial, keagamaan, ekonomi, politik seakan dicap hanya akan menjadi konsumsi sekelompok pendengar saja, sehingga semakin lunturlah semangat pencipta lagu untuk kembali mengangkat tema-tema yang sejatinya memiliki esensi cinta tersebut.

Apakah kita harus menjadi Iwan Fals yang saat itu beradaan pada situasi kronik yang penuh dengan ketidakadilan, kesenjangan sosial, birokrasi tak berujung, untuk dapat peka akan kondisi lingkungan dan tidak skeptis mengatakan: this is my song!?

Aristoteles pernah berpendapat bahwa musik mempunyai kemampuan menumbuhkan jiwa patriotisme. Sejatinya, ungkapan banyak orang, “lagu dapat merubah dunia” adalah kesahihan akan peran karya lagu yang memengaruhi segala sisi kehidupan.

Pada episode-episode perpolitikan negara yang kian tidak waras ini, pada situasi negara yang sedang sakit parah, pada kondisi alam zambrud khatulistiwa yang dengan mudahnya diperkosa, betapa tanah air ini merindukan kelahiran “Iwan Fals-Iwan Fals” baru yang mau dan mampu berusaha dan bersuara mencari dan mencuri permasalahan yang sedang berkeliaran di sekitar untuk kemudian diolah dengan segenap rasa dan imajinasi sehingga tercipta sebuah karya lagu yang tidak hanya untuk didengar tapi juga diambil energi aspiratif dan demonstratif di dalamnya.

Sebenarnya banyak bertebaran pencipta lagu yang memiliki kapasitas untuk melakukannya. Tak ada salahnya mencoba (kembali) mengangangkat tema cinta dalam arti luas, arti cinta yang hakiki. Tapi, jika para pencipta lagu lebih memilih cinta dalam arti sempit untuk terus-menerus diangkat menjadi permasalahan yang fundamental, yang tentunya memiliki probabilitas besar pada penerimaan pasar, siap-siap saja kelak kita mendengarkan anak, cucu, cicit hanya pandai melatunkan lagu-lagu cinta untuk kekasih, dengan salah satu penggalan liriknya berbunyi: aku cinta kepadamu.


*Penulis adalah mahasiswa Teknik Sipil Unand. Tercatat sebagai anggota Divisi Musik UKS-UA (Unit Kegiatan Seni Universitas Andalas.)

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.