Perempuan Ransel

Februari 11, 2013

Dimuat Radar Surabaya, Minggu 11 Februari 2013 ||

Entahlah, mengapa aku begitu senang melihat perempuan itu mengundang ransel. Aku menyukai punggungnya yang tegar, dan aku gemar memandanginya—meskipun ransel itu terlihat terlalu berat dibebankan kepadanya dan itu bukan pemandangan yang semestinya tidak indah.

Perempuan itu tidak kelihatan kasar, bukan seperti perempuan-perempuan yang gemar menyandang ransel lainnya. Dia bukan perempuan pendaki gunung yang bersepatu lars atau berkulit legam. Bukan pula seorang tomboy berambut pendek yang setiap kali ke luar rumah akan menyembunyikan “mahkota”-nya dengan topi yang diputar ke belakang. Bukan, dia bukan seperti itu.

Aku mengumpamakannya dalam sebuah panggilan: perempuan ransel. Tentu, itu bukan nama sebenarnya yang jauh lebih indah dan enak buat disapa. Tentu saja, nama “pemberian” itu hanya aku yang memahaminya.

Aku hanya bertemu dengannya sesekali. Terkadang, entah terbilang berapa lama aku tak pernah melihatnya di kampus tempatku berkuliah. Meskipun begitu, kehadirannya selalu kutunggu-tunggu sebab menunggunya lebih menarik ketimbang menantikan kehadiran dosen yang hadir sekehendak hati.

Akan tetapi, dalam setiap hadirnya, seperti ada yang mengembang di dalam tubuh ini. Terlebih ketika menatapnya—dan tentu menatap ranselnya juga. Aku tak tahu apa sebabnya. Yang pasti, aku gemar melihat tubuhnya yang semampai itu berusaha kuat untuk menyandang ransel besar.

Perempuan itu tampak beda, tak seperti perempuan berkepang dua, perempuan berbunga kertas di telinga atau perempuan berbibir merah. Dia perempuan: perempuan senyatanya. Bukan perempuan yang ingin dimanja oleh lawan jenis. Bukan pula perempuan yang gemar mengumbar pesona. Dia tidak gemar bermanis muka. Tak sekalipun mendesah manja. Dan, aku… suka.

Di kelas, perempuan itu muncul tiba-tiba, seperti jambu air di pekarangan kampus; yang sesekali berbuah pelit, sesekali membentuk tangkup yang merona, bahkan adakalanya tak berbuah, hanya daun hijaunya saja yang menari kecil dibuai angin. Dan ketika perempuan itu ada, aku membayangkan batang jambu air mendadak tak berdaun, di rantingnya hanya ada buah, buah dan buah, sekonyong-konyong penuh. Ah, barangkali aku terlalu berlebihan. Tapi begitulah.

Pernah, di kampus kala itu. Toktok… Ada bunyi pintu yang diketuk dari luar. Tok tok… Suara itu terdengar lagi. Sementara, Pak Bahrun, dosen kami, masih asyik dengan coretan-coretannya di papan tulis, tak menghiraukan bunyi itu. Toktok… Suara itu semakin keras dan tegas, persis palu hakim memukul meja hijau takala memutuskan suatu perkara.

Kali ini Pak Bahrun memasang muka lain. Keningnya berkerut, alisnya naik. Ia tutup kepala spidol sambil mengarahkan langkah ke pintu kelas yang ditutupnya rapat sedari tadi—artinya tak ada lagi yang boleh masuk setelah dia.

“Maaf pak, saya terlambat,” pinta sesosok perempuan—ah, dia perempuan ransel— di seberang sana. Wajahnya memelas. Tatapannya kosong, menekur, memandang satu arah pada ujung sepatunya. Apa yang dilihatnya? Tak ada sebentuk apapun yang menarik. Aku pikir ia sedang memperhatikan iringan semut bersalaman.

“Masuk!” Ujar Pak Bahrun. Tumben sekali Pak Bahrun memperbolehkan mahasiswanya yang terlambat untuk masuk dan mengikuti pelajaran. Aku saja pernah terlambat barang satu menit, tidak mau ia membukakan pintu, malah aku dikata-katainya. Ah, keberuntungan benar bagi perempuan itu.

Aku terus memindainya, perempuan ransel yang terbungkuk-bungkuk menuju sebuah kursi kosong di sudut kelas, persis sebelah sebuah lemari kayu jati. Ransel besar itu menindihnya.

***

Hujan turun sejak tadi. Perempuan ransel itu tampak sibuk mengerjakan sesuatu di meja perpustakaan universitas. Pandangannya tertuju ke layar komputer jinjingnya yang mengeluarkan pantulan warna. Mukanya serius, mewujud lewat bola matanya yang menajam menatap monitor. Tak mau kalah, jemarinya berkejar-kejaran di atas jejeran tust alfabet pada keyboard. Sesekali mulutnya mengeja tanpa suara. Di sebelahnya, sebuah ransel tergeletak.

“Sedang apa?” tanyaku berminat memulai pembicaraan.

Satu detik, lima detik, dua puluh detik, tak ada jawaban. Ah, barangkali pertanyaanku barusan tak kedengaran sebab deras hujan di luar benar-benar memekakkan telinga.

“Sedang apa?” tanyaku kembali.

Perlakuan yang sama kuterima. Ia diam dan terus fokus kepada apa yang ia kerjakan. Lantas kubiarkan saja ia dengan aktivitasnya. Dan aku memutuskan melanjutkan pekerjaanku, merapikan buku-buku yang terserak di meja baca. Banyak pengunjung perpustakaan yang malas meletakkan bacaannya kembali ke tempat semula buku diambil. Biarlah, aku tak ambil pusing, barangkali inilah pengabdianku sebagai pengurus perpustakaan universitas.

Tak lama kemudian, seperti ada sentuhan kecil berasa di pundakku. Aku berbalik.

“Maaf, buku-buku sastra letaknya di lemari sebelah mana ya Mas?”

“Buku sastra?” reflek saja mulut ini berucap demikian. Aku tak sadar atas perkataanku barusan. Aku merasa heran saja, kenapa dia mencari buku sastra, padahal dia mahasiswi jurusan Teknik, sekelas denganku.

“Lho, buat apa? Kamu kan anak Teknik.”

“Kok Mas tahu?”

“Kita kan sekelas,”

“Oh ya?”

Ah, padahal aku merasa cukup tenar di lingkungan kampus.

“Aku ingin cari referensi, Mas,” katanya seraya kembali ke dudukannya tadi, “Buat cerpen-cerpenku yang akan kukirim ke redaktur koran.”

Aku semakin bingung. “Cerpen”, “redaktur”, “koran”, apa itu? Kata-kata yang asing ditelingaku, dan terasa aneh saja ketika mahasiswi Teknik menyebutnya, pikirku.

“Aku suka menulis. Aku ingin jadi cerpenis hebat, kemudian namaku ada di koran-koran,” matanya berbinar-binar, seperti seseorang yang sedang menceritakan kekasihnya. Seperti sedang kasmaran.

“Oh, bagus itu, wartawan memang pekerjaan yang menarik,” sahutku sembari melempar senyum termanisku sembari terus membenahi pekerjaan.

“Aduh…,” perempuan itu menghembuskan nafasnya boros. “Cerpenis itu penulis cerita pendek Mas, beda dengan wartawan,” kali ini dia mencoba menjelaskan dengan lebih sabar.

“Oh,” ucapku polos, seakan-akan paham. Padahal….

Ah, sepertinya aku begitu bodoh mengikuti alur pembicaraannya. Aku tak tertarik melanjutkan percakapan. Sepertinya bahasa kami berbeda. Aku, orang teknik, tentu mencintai angka dan rumus-rumus.

“Sini deh mas.” Perempuan itu mengajakku ke dekat tempat duduknya. Kemudian ia raih ransel besar yang ia letakkan tepat di sebelah kanannya.

Sreet… resleting yang menutupi ransel itu perlahan digesernya ke batas tepi, sehingga terbentuklah nganga dari tengah-tengah. Sekejap aku melihat bayangan putih di dalam ransel itu. Seperti lembaran kertas yang banyak dan berserakan. Perempuan itu mengeluarkan secarik. Benar saja, itu adalah lembaran-lembaran kertas.

“Coba lihat ini,” ia memberikan beberapa lembar kepadaku.

“Apa ini?” tanyaku tak paham.

“Baca dulu,” pintanya lagi.

Aku membacanya. Ternyata sebuah cerpen. Namun, tidak lama aku memelototi isi kertas itu. Tak minat aku melanjutkan membaca. Entah mengapa, mataku tiba-tiba saja mengantuk.

Aku menguap panjang. “Cerita yang bagus,” kataku memuji, meskipun tak semuanya kubaca—memang aku malas membaca akan tetapi  tentu lihai dalam berhitung, apalagi soal keteknikan.

“Ini cerpen perdanaku yang dimuat di sebuah koran lokal,”

“Benarkah?”

“Ya, cerpen perdana dan cerpen satu-satunya yang dimuat,” imbuhnya lagi.

“Apa di dalam ranselmu itu cerpen semua?” tanyaku mengira-ngira.

“Ya,” jawabnya seraya menganggukan kepala.

“Loh, sebanyak itu cerpenmu mengapa cuma satu ini saja yang masuk koran?” tanyaku penuh selidik.

“Entahlah, aku tak tau apa maunya redaktur. Yang pasti, tugasku menulis dan terus menulis. Dimuat atau tidak, itu urusan redaktur,” jawabnya tegas dan penuh semangat.

Tanpa sadar, aku jadi tertarik. Kami bercerita cukup lama. Sedangkan di luar, hujan sudah reda, sementara perpustakaan masih belum seutuhnya rapi, bahkan semakin acak-acakkan dengan tumpukan buku-buku sastra di sana-sini—aku memintanya mengajariku cara menulis cerpen.

***

Ah, pertemuanku dengan perempuan itu waktu itu benar-benar telah merubah pandanganku terhadap dunia tulis-menulis, dan pada akhirnya turut merubah hidupku. Kadang, aku tak percaya atas gelar yang diberikan orang kepadaku: cerpenis. Ya, segalanya telah berubah dengan tidak disangka-sangka.

Namun, sejak aku suatu kali pernah memperlihatkan cerpen-cerpenku yang dimuat hampir di seluruh media lokal, nasional bahkan internasional kepadanya, sejak saat itu pula aku tak pernah lagi bertemu dengannya, perempuan ransel. Ke mana lagi dikundangnya ransel itu?

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.