Perempuan Peluru

Desember 11, 2011

Dimuat Padang Ekspres Minggu, 11 Desember 2011 ||

Perempuan itu berdiri paling depan dari kerumunan masa yang mengangkat tinggi kertas-kertas dan spanduk besar dengan tulisan beragam. Di kanan tangannya seperti sebuah corong yang dililit kabel dengan ujung segi empat segenggam, ia dekatkan ke bibir tipisnya yang menarik. Meneriakkan kata-kata hujatan. Di sampingnya beberapa laki-laki dengan ikat kepala merah-putih ikut berteriak lantang.

Tak peduli panas matahari membakar kulitnya, ataupun sirine mobil yang meraung-raung seperti pekikan kelelawar. Mungkin ada sekitar lima ratus orang disana berdiri sesak di depan pagar besi gedung megah bertembok tinggi.

Kalau diihat betul, paras perempuan itu sangat cantik. Cukup mampu untuk menawan hati lelaki yang memandangnya. Namun jangankan untuk menggoda, menyapanya saja tak ada yang berani.

Pernah, waktu di kampus ketika sedang duduk-duduk bersama dengan pembicaraan yang tidak menentu ujung pangkalnnya, di bangku bawah pohon. Kemudian, perempuan itu lewat dengan kaos merah menyala. Tiba-tiba temanku, si Jhon Koreang, mencoba menggodanya,

“Waduh, siang begini kok rasanya makin panas saja ya,” celetuknya berharap  perempuan itu kemudian membalas lelucon konyolnya.

Namun tidak seperti yang ia harapkan. Sekelebat wanita itu mengambil posisi menyerang, lalu mendaratkan sebongkah tinju ke pelipis sang pembuat suara, kemudian acuh meninggalkannya. Erang kesakitan yang ia titipkan lewat tonjolan besar membiru di ujung dahi si Jhon seakan menjadi isyarat, jangan sekali-kali menggangunya.

Hampir seminggu kuperhatikan benjolan itu tak kunjung berkurang. Hal itu malah menjadi bahan baru untuk menertawakan si Jhon yang malang.

***

Siang ini. Lidah matahari begitu bernafsu menjilati ubun-ubun. Sesiapapun manusia yang memiliki kepala pasti akan merasakannya. Simpang-simpang jalan raya tetap ramai seperti biasa. Mobil, sepeda motor, serta pejalan kaki, hilir mudik memenuhi lajur-lajur jalan dengan memberikan beban kepada perkerasan aspal yang berkelas itu. Bunyi klakson tak henti bertalu membentuk orkestra jalanan.

Dimana ada keramaian bisa ditebak pasti akan ramai pula pemburu receh dengan sekedar memasang air muka iba sembari menadahkan tangan, atau dengan menggaruk-garuk gitar. Mereka berputar-putar di sekitar traffic light, menyongsong kendaraan yang diberhentikan paksa oleh nyala merah lampu, berpindah dari satu kendaraan ke kendaraan lain. Semua mereka lakukan untuk melanjutkan hidup. Apalagi jaman sekarang begitu susahnya mencari pekerjaan, sedangkan harga kebutuhan hidup kian mencekik.

Di selatan. Bocah-bocah berseragam putih-merah ramai mengerumuni pedagang es serut yang mangkal di bawah rindang beringin dekat sekolah mereka. Sepertinya, udara panas adalah berkah yang dihadiahi sang pemberi berkah kepada para penjajal es. Tak heran air liur si bocah akan menitik tergoda untuk merasakan dingin yang mampu menyegarkan kerongkongan mereka.

Tiba-tiba dari arah berlawanan, kulihat tubuh berserakan di sepanjang jalan. Melewati bundaran kemudian berhenti di muka gedung tempo hari. Kubaca kata-kata amarah merajalela. Menakuti jiwa-jiwa yang kehilangan rupa. Menabuh pekik mengepul di telinga-telinga yang berliang dangkal. Entahlah, kurasa tiap jengkal jiwa telah dilumuri bencah. Hingga selangkah kaki enggan menyilangkan keterbukaan dalam kerakyatan.

Di barisan paling depan, seperti sesosok rupa yang tak asing lagi di benakku. Wajah itu, mata itu, bibir itu, tubuh itu, suara itu, semangat itu. Tak diragukan lagi dia adalah perempuan yang pernah membuat memar di pelipis si Jhon.

Tampak begitu semangat ia mengomandoi ratusan orang di belakangnya. Suara perempuan itu mampu membakar semangat orang-orang yang mendengarkannya. Sesekali ia bertingkah nekat, meloncati pagar atau menerobos susunan barikade penjaga bertubuh kekar. Bahkan ia sempat melempari gedung dengan batu hingga kaca-kaca sekelilingnya pecah tak bersisa.

***

Dor!

Entah peluru darimana tiba-tiba saja berlari kencang ke sebuah bidik sasaran. Sesosok tubuh yang tadinya kokoh dan tegar kini tergeletak lunglai. Sebutir peluru telah singgah di dada kiri perempuan itu. Ia tak kuasa berteriak kesakitan. Perlahan tubuhnya roboh. Darah mengalir deras membajiri selembar kertas besar yang tergeletak di dekatnya bertuliskan: “Perubahan”.

Padang, 2010-2011   

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.