Kebaikan Sahabat Kucing

Januari 27, 2013

Dimuat Lampung Post, Minggu, 27 Januari 2013 ||

“Ayo kita main,” ajak Pipit Putih.

“Ayo,” sahut Pipit Cokelat.

Kedua pipit mengepakkan sayapnya. Mereka terbang tinggi sekali. Hingga suatu ketika mereka mendarat di sebuah ranting pohon. Daun-daun pohon yang tumbuh dengan lebat di sekitaran ranting membuat kedua pipit merasa terlindungi dari sinar matahari yang sedang menerangi siang.

Tiba-tiba saja, kedua pipit itu terpaku melihat seekor Ikan Mas yang tergeletak di pinggir kolam. Ikan Mas itu habis melompat dari kolam, tapi lompatannya terlalu jauh hingga tubuhnya terhempas ke tepi kolam.

“Hei, lihat,” ujar Pipit Putih menunjuk dengan mengangkat sayapnya.

“Kasihan sekali ikan itu,” kata Pipit Cokelat.

“Iya, ayo kita bantu ikan itu kembali ke dalam air,” saran pipit Putih.

“Ayo,” Pipit Putih bersemangat.

Mereka terbang rendah hendak mendekati Ikan Mas yang malang. Mereka ingin segera menolong, karena menolong sahabat yang kesusahan adalah perilaku terpuji. Mendadak, dari arah yang lain, seekor Kucing Hitam berlari dengan cepat. Kucing Hitam itu buru-buru menggigit Ikan Mas yang sudah hampir kehabisan nafas. Ikan Mas itu lantas dibawanya sambil kembali berlari.

Kedua Pipit yang tadinya ingin menolong, jadi kaget atas sergapan Kucing Hitam terhadap Ikan Mas itu. Mereka berusaha mengejar. Namun, Kucing Hitam itu terlalu lincah. Dengan sigap kucing itu melompati rerumputan, menyelinap di antara bebatuan, kemudian tidak kelihatan lagi.

“Aduh, kita tidak berhasil menangkapnya?” keluh Pipit Putih.

Pipit Cokelat diam sejenak. Dia sedang mencari ide buat mencari keberadaan Kucing Hitam itu.

“Ah, bagaimana kalau kita minta bantuan Anjing Belang untuk mencarinya,” saran Pipit Cokelat

“Ide bagus! Ayo!” ujar Pipit Putih.

Kedua pipit itu pun mendatang Anjing Belang yang sedang tertidur pulas.

“Belang… Belang… Bangun!” ujar Pipit Putih.

“Aaa…,” Anjing Belang menguap lalu kembali melanjutkan tidur.

“Belang… belang… Ayo bangun!” Pipit cokelat terus menggoncang-guncang tubuh Anjing Belang.

“Ada apa sih? Kalian mengganggu tidurku tahu,” sahut Anjing Belang sambil menggosok-gosok matanya yang masih mengatuk.

Kedua pipit itu kemudian menceritakan kejadian yang tadi dialaminya.

Anjing Belang mengendus bekas jejak yang diringgalkan Kucing Hitam. Dan mereka berjalan mengikuti arah jejak itu. Tak lama kemudian, dari balik semak, mereka melihat Kucing Hitam tengah bersiap menyantap Ikan Mas. Kedatangan mereka membuat Kucing Hitam kaget dan berusaha lari jauh-jauh.

Untunglah Anjing Belang dapat menemukan keberadaan Kucing Hitam. Kedatangan mereka pun tepat pada waktunya, sehingga Ikan Mas yang malang itu dapat dikembalikan ke kolam. Ikan Mas jadi senang dan berterimakasih kepada Anjing Belang dan dua ekor pipit yang baik hati.

Kucing Hitam kesal. Ia tak jadi menyantap ikan kesukaannya. Padahal semua itu hampir saja terjadi.

“Semua ini gara-gara kedua Pipit itu!” hardiknya dalam hati. “Awas kalian, akan kubalas!”

Di taman dekat kolam, Pipit Putih dan Pipit Cokelat sedang asyik bermain. Mereka terbang kian kemari. Sesekali hinggap di dahan, kemudian terbang lagi. Berkejar-kejaran. Melihat mereka, Kucing Hitam mempunyai rencana akan mengerjai kedua pipit itu.

Sesaat sebelum Pipit Putih dan Pipit Cokelat bertengger, Kucing Hitam sudah menyiapkan seutas tali yang dibentuk bulat. Tali itu diletakkannya di salah satu dahan. Dari bawah pohon, Kucing Hitam bersiap dengan perangkapnya. Pada saat yang bersamaan, kedua pipit itu hinggap di jebakan yang tidak mereka ketahui. Melihat itu, Kucing Hitam cepat-cepat menarik tali. Ini membuat kaki kedua pipit jadi terikat. Kucing Hitam senang, perangkapnya berhasil.

“Rasakan kalian!” ujar Kucing Hitam.

“Tolong! Tolong! Lepaskan kami,” jerit kedua pipit itu.

Sayangnya, di taman dekat kolam tidak ada siapa-siapa.

“Kucing Hitam, lepaskanlah kami,” pinta Pipit Putih.

“Tidak mau. Ini karena kalian menggagalkanku menyantap ikan kesukaanku. Kalau tidak, tentulah aku sudah kenyang,” ungkap Kucing Hitam.

“Kami hanya ingin menolong ikan itu,” kata Pipit Putih.

Kucing Hitam tak peduli.

“Karena aku tidak jadi makan ikan, sekarang kalian yang akan aku makan,” ancam Kucing Hitam.

Kucing Hitam menurunkan tali yang telah mengikat kaki kedua pipit. Pipit-pipit itu dijinjing di belakang punggungnya dan dibawa ke rumah untuk disantap. Kedua pipit itu berusaha sekuat mungkin teriak dan mencoba melepaskan jeratan. Akan tetapi mereka tidak berhasil, jeratan tali begitu kuat.

Disaat Kucing Hitam berjalan di pinggir kolam, tiba-tiba saja langkahnya tersandung batu kecil. Kucing Hitam tak mampu mengimbangkan badan. Setelah lama kelamaan berputar, ia akhirnya terjatuh sendiri ke dalam kolam. Kebatan perangkap tali jadi terlepas membuat kedua pipit itu dapat kenbali terbang bebas.

Kucing Hitam berusaha berenang, tapi tak bisa. Ia malah semakin dibawa air ke tengah kolam. Di sana, sudah banyak ikan-ikan yang mulai mendekatinya, siap untuk menggigitnya. Namun, saat gerombolan ikan itu akan menggigit Kucing Hitam…

“Jangan!” seekor ikan meminta ikan-ikan lain mengurungkan niat.

“Ayo, kita bantu kucing ini kembali ke tepi,” ujarnya lagi.

Ikan-ikan jadi bergerombol. Bersama-sama mereka mendorong tubuh Kucing Hitam ke tepi kolam.

Ternyata ikan yang memberi perintah itu itu adalah Ikan Mas yang tadi akan dimakan Kucing Hitam. Kucing Hitam menjadi merasa bersalah atas kelakuannya.

“Terimakasih Ikan Mas. Engkau telah menolongku. Aku tak menyangka kau baik padaku. Sementara aku tadi hampir saja memakanmu.”

“Sama-sama Kucing Hitam. Aku tak ingin membalas kejahatan. Karena itu hanya perkerjaan yang sia-sia.”

Kucing Hitam tertunduk malu. Ia merasa bersalah pada sahabat-sahabatnya yang ternyata baik kepadanya.

“Aku juga minta maaf pada kalian, Pipit Putih dan Pipit Cokelat,” ucap Kucing Hitam lirih pada kedua pipit yang dapat kembali terbang bebas.

Sang kucing menjulurkan tangannya. Pipit menyambut.

“Sebagai gantinya, kamu harus mau ikut bermain bersama kami,” usul Pipit Putih.

“Ayo!” ujar Kucing Hitam kembali ceria.

Kucing Hitam kemudian bermain kejar-kejaran dengan kedua pipit. Hap. Hampir saja Pipit Cokelat tertangkap. Namun, Ikan Mas di kolam membentuk percikan kecil yang mengenai muka Kucing Hitam, sehingga Kucing Hitam jadi kaget dan Pipit Cokelat berhasil lari. Mereka tertawa gembira bersama-sama.

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.