Kota Mulut

Januari 6, 2013

Dimuat Haluan Minggu, 6 Januari 2013 ||

Di kota yang disekujur kasur para penghuninya tum­buh duri ini, aku senantiasa menikmati kehidupanku. Bukan sekelihatan badan saja, sekedalaman jiwa pun turut larut dalam kehidupan yang melompat-lompat ini. Begitulah aku mengenal tiap sudut kandang sendiri.

Setelah aku dewasa, aku kian menyadari bahwa inilah kota para pembunuh. Bahkan ibu dan ayahku terlahir hanya untuk pisau. Hidup mereka tak lepas dari batu asahan. Aku diberi minum darah dan dikenyangkan dengan bangkai, bangkai apa saja.

Di tanah yang terpaksa aku cintai ini, kematian ada­lah sebuah pengharapan be­sar. Sekalipun itu bagi bayang-bayang.

Jauh sebelum aku menge­nal pintu dan rumah, kuda dan pelana, orang-orang sudah lebih dulu menjadi pembunuh. Begitupun bagi sesiapa yang ingin mengunjukkan diri sebagai pembunuh ulung, maka mereka datangi kotaku. Di kota inilah tempatnya kemurkaan menjadi raja. Kematian adalah kebahagiaan nyata. Demikian cerita yang kudengar dari nenek kala beliau masih hidup, sewaktu aku kecil dulu, saat beliau mengajariku cara memegang pisau yang benar sambil mengata-ngatai ayah dan ibuku yang tak betul menga­jarkan anaknya memaut pisau. Sebenarnya orangtuaku sudah berkali-kali membe­ritahuku cara memegang pisau, namun setiap kali aku dipaksa memegang, setiap kali pula aku berusaha mele­paskan. Ada penolakan diri yang muncul dengan sendiri. Tapi itu dulu. Semakin aku lama hidup dan mengga­rukkan kuku di tembok kota ini, perlahan-lahan aku men­cintai pisau melebihi cintaku pada apa saja. Meskipun, hati kecilku masih menyimpan rasa yang masih sekuat masa lalu.

Dan, sebelum kau berani datang tanpa sepatu ke kota ini, aku lebih dulu mengamati wujud serupa denganmu. Pun dengan membawa buku tebal tanpa sampul lalu mengipas-ngipaskan tiap-tiap halaman­nya kepada kami. Terang-terangan mereka ke sini bukanlah untuk menjadi pembunuh –sebab buku bukan­lah pisau—itu artinya dia akan menjadi bagian malang dari ritual pembunuhan kami.

Pembunuhan bagiku men­jadi pembuktianku pada pahatan di nisan mendiang nenek dan lagam berserah pada kotaku. Sekalipun bang­kai nenekakan habis di telan prajurit cacing,tak akan ada kembang bermekar di taman kota. Karena keindahan ada­lah pantangan bagi kami. Keindahan tak lebih dari siraman emas yang menyeli­muti kotoran anjing. Keinda­han hanyalah kemanjaan pandangan bias semata. Jika disisir lebih jauh,di baliknya akan didapati banyak tangan berkuku hitam meruncing. Sementara ketika kami hilang, kuku itu kembali ke bentuk sedia kala. Ah! Itulah topeng. Itulah yang menyebabkan kami diam-diam layak dikatakan pembunuh.

Kau, entah datang dari­mana. Kami berterima. Ba­rang­kali kau ingin menjadi pembunuh pula. Sebagaimana penghormatan atas kedata­ngan tetamu, kami mengem­bangkan seprai di atas dipan berduri yang akan kau tum­pang tiduri di salah satu rumah di kota ini.

Malam-malam pertama kau mendengkur. Mengeliat-liat seperti mimpi sedang di surga. Di saat itu jua, kami diam-diam merogoh saku baju yang tergantung di belakang pintu, memastikan hitam atau putihnya warnamu. Kami tahu kau begitu lelap menikmati orkestra yang riuh dari dirimu sendiri. Dan, di saku itu, kami tak mendapati pisau. Berarti kau ke sini hanya untuk mengantarkan nyawa!

Seketika itu mata kami menjadi bohlam beratus-ratus watt yang tak kunjung putus. Tubuh kami berakar-akar saling merangkul memusati sebuah titik semut. Semua pada teriak tanpa suara. Siapa yang memijak semut itu lebih dulu bukanlah suatu kesulitan, karena tengiknya bangkai kijang tentulah ter­cium nyalang bagi auman harimau yang paling lantang.

Akan tetapi sepanjang rasamu akan sepakan dan terjangan dari kami, malah kemudian menjadi ngeong—perkabaran bagi kucing tua yang mendadak bunting di belakang rumah. Rembulandi kotaku menjadi merah, karena nyamuk lari dan berebutan menyemprotkan darah hisa­pan­nya ke sana. Kami yang berencana menikamkanmu dalam-dalam tepat di ulu hati malah terperanga mendapati pisau yang senantiasa diman­dikan dengan doa itu tak berhasil membuat gores sega­ris pun di tubuhmu, duhai orang tamu.

***

“Isyarat keabadian itu tak akan pernah lahir. Di atas tanah rekah ini kekekalan hanya berada di satu kursi, berbunga, berduri. Jika kalian bertanya keberadaanya, kuja­wab: ada di atas sana. Entah di atap, awan, atau kulit langit. Kalianlah yang sepa­tutnya mencari sendiri dengan memanjat sampai batas. Setelah itu kuharap kalian diam! Karena aku tak akan menjelaskannya lebih dalam dan tajam. Bagi kalianlah kenikmatan jika itu kalian dapatkan. Sungguh, saat ini, kita sedang berlabuh di der­maga untuk memuat seba­nyak-banyaknya ikan. Lalu kita berlayar kembali ke lautan luas, menuju daratan kekal. Kekal, ya itulah ke­abadian.”

Di senja  lapuk saat mata­hari buru-buru mencari seli­mut, kau menderetekan kata yang sekonyong-konyong lahir prematur dari muncung. Ada­kalanya pengertian-pengertian meruak begitu saja tanpa penawar, seperti ocehan pe­nyair tak berduit yang duduk di warung kopi pagi. Ka­dangkala desas-desus menebar bersama angin tak berwarna di sekitar tempat yang lebih tinggi itu. Kau seperti sedang mengunyah bom dan mem­buat pipimu kelihatan bulat, padat, meledak-ledak.

Dan, aku tak begitu mem­perhatikan ujaran yang api itu, karena bulu di dagumu senantiasa naik-turun seperti jungkat-jungkit dicat putih. Dan, aku tak tertarik bermain di sana. Aku takut bokongku tertusuk paku yang melekat di salah satu kursinya. Karena hanya ada dua kemungkinan tak dapat dikira-kira. Belum­lah aku sehebat itu dalam menentukan saku-saku mana berisi dan mana yang berlu­bang. Dan, siapapun tak akan pernah tahu, kecuali binimu. Itupun jika binimu suka mengorek saku-saku laki.

Tidak dengan mereka, barangkali api sudah tumbuh ke hati dan kobarannya penuh tiba di mata. Suara yang terdengar adalah suara hujan lebat menumbruk genteng, bagiku. Pada mereka tentulah tak sama. Itu barangkali mirip suitan pipit kecil pencumbu bayang-bayang yang kerap merayu petani bersenggama dengan padi dan pacul. Siulan godaan biar petani melupakan tetek bini yang tak lagi umbul. “Setelah rantang diberi, pa­sang topi, ayo pergi!” Bisikan yang menghanyutkan bukan?

Kauberi warna pada gerak bola mata, intonasi suara serta mimik muka. Tak lupa pada lukisan yang berkuas sajak-sajak cinta yang lahir dari kekekalan dan terlahir untuk keabadian. Sajak-sajak cinta yang ditulis penyair dengan tidak mabuk itu, bukanlah barang dagangan. Meskipun aku pernah melihat di televisi ada yang berani menjual sajaknya dengan harga celana dalam. Semen­tara, itu bukanlah aspal, semen, batu bata atau split yang biasanya lebih mudah untuk dikantongi. Aku takut kalau-kalau penyair itu malah menjadi mabuk setelah meli­hat ulah pengantong tadi. Kalaulah penyair itu sampai teler, aku bakal ragu melihat dahiku sendiri; yang belum sehitamkau punya.

Kami kau ajarkan menge­nal banyak matahari: mata­hari embun, matahari puncak, matahari remang, matahari tunggang gunung dan mata­hari gelap. Selama ini kami tak arif akan hal demikian. Karena bagi kami matahari-matahari itu tak ubahnya kerlip lampu diskotik bagi kenikmatan semu.

Semakin banyak yang meluruh dalam katamu, sema­kin banyak yang mengangguk-angguk mirip ayam kurik mencari sayap elang di dalam tanah yang dihilangkan mo­yangnya. Mereka menjadi kutub-kutub magnet beda kelamin, selalu mendekatimu dengan kuasa tak terkira.

Hingga kami tak lagi harus membunuh, untuk menun­jukkan kepada mereka, jika membunuh itu adalah sebuah kesalahan bagi kami.

***

Kotaku lama-lama telah berubah saja. Tak ada lagi pembunuh. Anak yang lahir tidak dikenalkan lagi dengan pisau. Begitupun anakku. Ia tak tahu pisau itu apa. Taman kota sudah menjadi ladang bunga yang mekar dengan tenang. Bahkan anakku ber­sama rama-rama gemar ber­main petak umpet di anta­ranya. Sampai sore, bahkan sampai gelap.

Dan aku tidak ingin lagi menceritakan kotaku kepada siapa saja. Biarlah kusimpan dalam cawan air minum untuk suatu waktu kuregukatau kutumpahi. Bahkan aku muak mengingatnya lagi sebagai kota pembunuh. Otakdan hatiku mendadak kusut bila mengingatnya lagi.

Masa lalu kami sudah dimakamkan oleh kau, orang tamu. Dan kami berterima­kasih tanpa ucapan dan sa­lam. Karena hati kami masih rada keras, dandarah pembu­nuh masih menyisa meskipun tak kental lagi.Akan kehila­ngan kehormatanbagi kami jika berkata terimakasih,ya, terimakasih, pada siapa saja, sekalipun pada langit biru.

Setelah kau mati dan kami semakin tua.Gasing waktu membuat perlahan-lahan merubah apa saja. Entah mengapa usaha kami menja­dikan akan-anak kami buat tidak jadi pembunuh malah kemudian menjadikan kami yang ditakdirkan sebagai orang yang siap dan akan untuk dibunuh.

Anak-anak kamilah yang sedang berusaha membunuh kami. Bukan dengan pisau, seperti cara kami, orangtua kami dan nenek-nenek kami saat akan membunuh. Akan tetapi, dengan,mu…lut.Ya mulut. Barangkali mereka kemudian akan menjadikan kota ini dengan sebutan: kota mulut? Entah. Lalu aku tak tahu dan tak ingin tahu bagaimana kelan­jutan kisah ini lagi. Sebab tubuhku yang renta ini hampir habis dilahap rayap saat matahari berada di mulut mereka.

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.