Lubang di Kepala Tagok

Februari 3, 2013

Dimuat Singgalang Minggu, 3 Februari 2013 ||

lari darinya. Saat orang itu hendak berjalan tetapi ada Tagok di jalan itu, lantas orang tadi bakal memutuskan kembali atau memilih jalan lain. Rasa takut dan malas jika berurusan dengannya.

Namun, hal itu tidak dirasakan anak-anak sekitar. Mereka senang mengganggu Tagok. Kadangkala gangguan itu sedikit brutal; melempari kepala Tagok dengan batu, dan siapa yang melempar tepat mengena kepala, dialah pemenangnya. Anak yang menang itu akan disegani kawan-kawan sebaya. Bentuk keseganannya itu misalnya, ketika mereka bermain gundu, maka dia akan didahulukan selangkah atau boleh mengulang lemparan apabila salah ambung.

Tagok sering mengamuk dan mengejar anak-anak itu. Tetapi para bocah tak jua jera. Ada trik yang dimiliki anak-anak itu buat meredam Tagok. Amarah Tagok seketika akan sirna ketika diberikan sebungkus lolipop. Tagok akan sibuk sendiri dengan gula-gula tangkai itu dan melupakan para bocah yang tertawa terpingkal-pingkal karena berhasil lolos. Tagok nampak senang mendapati itu sekalipun kepalanya sudah mengucurkan banyak darah.

Di kampung, tempat tinggalnya kini, tak ada yang tak kenal dengan Tagok. Sebelum mengalami kegilaan, dulu dia disegani orang banyak. Bagaimana tidak, Tagok adalah seorang wakil rakyat. Tak hanya itu, ia pun ditakuti.

Banyak infrastruktur di kampung dia modali. Jalan yang dulunya tanah kini sudah mengkilat dengan aspal hotmix berkelas. Surau yang dulunya papan, yang semakin lama semakin koyak disantap anai-anai, kini sudah bertembok tinggi-tinggi, pakai keramik pula di luar-dalam. Rumah sekolah pun Tagok yang buat. Sampai kepada pasar bertingkat di tengah kampung. Kian melambunglah nama Tagok saat itu jua. Orang-orang pada menceritakannya, tidak di warung kopi, di kerumunan balai, di jalan sepulang sembahyang, di sawah saat istirahat menanam, di atas motor antara tukang ojek dan penumpang, di mana-mana harum namanya.

Itulah sebab ia disegani. Tentang ia ditakuti pun ada musababnya. Tagok punya pistol. Ia selalu memampangkan senjata api itu di selipan antara celana bagian depan dengan perut buncitnya. Ke mana saja ia pergi, pistol itu senantiasa ada. Maka orang-orang di kampungnya pada bergidik melihat senjata itu. Mereka sering menonton di televisi seorang jagoan laga berpistol yang jika terdesak akan memicu pelatuk. Dan ditayangan itu kaca mobil pecah dibuatnya. Apalagi tubuh manusia. Tak terbayangkan.

Tapi itu dulu. Sekarang tak ada yang segan padanya. Takut ia, sedikit. Namun dalil ketakutannya sudah berubah. Bukan karena pistol lagi (karena sudah lama pistol itu tak pernah nampak dibawa oleh Tagok), tapi karena Tagok itu orang gila yang suka berbuat semaunya.

“Ia bangun dan tidur di mana suka, entah di rumahnya, di jalan, atau di tengah pasar. Bahkan adakalanya Tagok berpakaian lengkap atas-bawah, kadangkala baju saja, atau celana saja. Kasihan melihatnya kini,“ tutur orang kampungnya.

“Kalau dulu, dia gagah. Pakaian necis. Rambut disisir rapi ke tepi. Badannya wangi. Kalau dia lewat, kita para orangtua sengaja menyuruh anak gadis kita duduk di teras. Mana tahu ada yang membuatnya terpikat.“

Akan halnya yang menyebabkan penyakit itu terjadi padanya, tak ada kabar pasti. Ada yang bilang: Tagok kena guna-guna. Ada pula yang berucap: Tagok salah minum obat. Bahkan ada kabar lain menyebutkan: kepala Tagok terhempas. Entahlah mana yang benar, atau semua itu benar, atau malah tak ada yang benar satu pun.

***

 Di rumahnya, Tagok tinggal sendiri.

Subuh. Cahaya matahari baru menggeliat. Ia terbangun dari tidurnya. Ia mengambil wudlu, sholah subuh, mengaji barang sepuluh ayat, berzikir sampai matahari bersinar penuh. Ah! mana ada orang gila begitu. Jika itu pikirmu, maka kukatakanlah: sesungguhnya Tagok itu tidak gila! Ya dia tidak gila.

Lalu ia hidupkan televisi, mengambil siaran berita pagi. Dengan segelas kopi agak pahit yang barusan dibuat, Tagok menonton dengan tenang di muka layar. Tagok menggeleng-geleng melihat kejadian yang terjadi di luar sana; tentang perang, tawuran pelajar, perampasan hak, kemiskinan, busung lapar, korupsi, demontrasi, kerusuhan.

Jika di dalam rumah, pakaiannya biasa, dandannya sedia kala. Sambil sesekali menyeruput kopi hangatnya, Tagok berkata kepada dirinya sendiri, ”Ternyata banyak orang yang sudah benar-benar gila.”

Pada salah satu segmen berita, ia melihat koleganya saat di kantor dulu sedang diwawancarai. Penyiar cantik yang memandu acara melontarkan bertubi-tubi pertanyaan; tentang dana yang tak jelas, tentang permasalahan yang membuat belum tuntasnya sebuah mega proyek, tentang tidak tranparannya keuangan yang sejatinya berasal dari uang rakyat. Koleganya itu menjelaskan dengan rinci bahwa itu hanya kesalahpahaman semata, semua sudah jelas, dan media saja yang memperkeruh suasana. Jelas ujarannya tadi membuat penyiar itu agak naik darah mendengarnya. Maka adu mulut terjadi pada dialog pagi itu.

Tagok sesekali tertawa mendengar itu. Yang pasti itu tawa sungguhan, bukan tawa dibuat-buat saat ia menjalani hidup sebagai peran orang gila. Barangkali baginya adalah sebuah kelucuan saat mendengar kepintaran koleganya bersilat lidah. Mengada-ada itu lucu. Lucu, karena ia tahu yang kejadian sebenarnya.

Saat itu jua, tiba-tiba khayalnya mengejawantah ke masa lalu. Ketika hatinya berkecamuk, saat ia dihadapkan pada dua pilihan: menerima suap atau tidak. Jika tidak menerima, rugilah. Zaman sekarang susah mencari kekayaan jika hanya mengandalkan gaji semata. Namun, jika ia terima, ia merasa sangat berdosa. Dan entah mengapa pada akhirnya tegerak hatinya buat menerima uang itu.

Pada mulanya Tagok terbius dengan uang-uang yang didapatinya itu. Apapun dibelinya. Apapun dilakukannya. Nafsu merajainya. Namun, lama-kelamaan ia seperti didatangi bayangan. Bayangan yang menampilkan masa-masa kecilnya, ketika ia merasakan hidup serba terbatas. Bayangan orangtua dan seluruh orang yang ia kenal baik, orang-orang yang senantiasa memberinya dukungan terhadap langkahnya. Maka, timbullah dalam dirinya buat menghapus dosa-dosa yang terlanjur dibuat. Dan, dengan uang itulah ia bangun kampungnya.

Setelah ia memastikan tak ada anak yang putus sekolah. Masyarakat sudah beribadah dengan tenang, tanpa gangguan air bocoran atap. Semua petani tak payah lagi mendukung padi, karena jalan sudah bagus sampai ke pematang. Setelah itu, ia putuskanlah untuk menjadi orang gila. Dengan segala alasan yang ia timbang-timbang, ia lebih senang dikatakan gila dan dilempari batu oleh anak-anak di kampung daripada disanjung dengan manis mulut di atas segala kebohongan.

***

Malam buta itu, penduduk kampung pada berhambur keluar rumah. Mereka terkesiap mendengar raungan serine di muka rumah Tagok. Suara yang seumur-umur hanya sekali itu hadir di kampung.

Tak dinyanya, kasus yang sedemikian rupa sudah ditutup rapat-rapat itu kini terbongkar sudah. Banyak nama yang tersandung, salah satunya: Tagok. Kabar bahwa Tagok setelah menghilang dari “kursi emas” di kantornya dan memilih tinggal di kampung, sampai kepada pihak berwajib. Sekalipun orang-orang mengatakan Tagok sudah gila dan tak bakal tahu apa-apa tentang perbuatannya dulu, tidak serta-merta membuat pihak kepolisian melepaskan Tagok.

Pintu digedor, Polisi memberi isyarat agar Tagok keluar rumah dan menyerahkan diri. Namun, tak ada tanggapan. Maka salah seorang polisi mengambil inisiatif untuk mendobrak pintu.

Seketika itu jua, orang-orang yang menyaksikkan penggerebekan itu pada terdiam, begitu pun para polisi. Di dalam rumah, tubuh Tagok terbujur beku, kepalanya sudah berlubang. Darah segar memancur di sekitaran keningnya. Di dekatnya, ada sebuah pistol tergeletak. Pistol itu mirip dengan pistol milikTagok. Pistol yang sejak dulu ternyata hanya memiliki satu butir peluru pada selongsongnya. Pistol yang selalu dibawa Tagok ketika masih dianggap waras.

Padang, 2012

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.