Kunang-kunang Rumah Kelam

Oktober 13, 2013

Dimuat Singgalang Minggu, 13 Oktober 2013 ||

“Ayah, aku pulang!” pekikku dalam hati.

Selendang gelap mulai membaluti langit ketika langkah kucepatkan. Jagad raya nyaris pekat. Untunglah neon rumah dan lampu jalan serempak beradu nyalang, dan terang pun kembali datang. Adzan magrib terdengar bersahut-sahutan. Tak lagi kupedulikan ransel yang berupaya menindih punggungku. Bahkan luka di lutut akibat tersandung ketika turun di terminal tadi kini seolah tak berasa. Betapa kerinduan meleburkan segala rasaku kini.

Dari kejauhan, rumah yang beratap rumbio itu mulai hadir di dalam remang. Semakin kuperlaju langkah, kian kuayunkan tangan. Sontak kuterkelu. Mendadak ada kejanggalan kudapati. Lampu lima watt yang tergantung di teras nampak pudur. Begitu pula dari dalam, tiada setitik pun sinar di sana.

Kucoba ketuk pintu panil yang semakin ripuk. Tak ada jawaban. Kuketuk sekali lagi dengan agak keras. Nihil. Barangkali ayah sedang ke luar. Mungkin ada keperluan atau ada yang mesti dibelinya. Aku menarik nafas panjang seraya membuang pikiran yang tidak-tidak.

Setelah ransel kuletakkan, lantas kududuki kursi kayu yang senantiasa hadir di tentang jendela. Kursi kayu yang masih seroman dulu; selain letak, goyahnya tak ubah sedikit pun. Keletihanku tak dapat disembunyikan. Perjalanan bus dari pulau seberang yang memakan waktu dua puluh jam lebih, membikin tulang-tulangku serasa remuk. Dalam pada itu, kursi itu bak bersuara, ia merayuku menopangkan punggung di sandarannya. Dan aku tak kuasa menolak.

Kuputar pemandanganku. Aku senyum-senyum sendiri mendapati setiap sudut tempat ini seakan-akan menghadirkan gambar-gambar yang bergerak dengan sendirinya. Kenangan masa lalu yang tiba-tiba mewujud.

 ***

“Kau tahu! Ayahmu bersetia dengan keluarganya. Lantaran itulah ia berperas peluh dengan giat. Pagi ke sore, subuh ke petang. Tapi kerja itu selalu enggan kausebut kala di sekolah. Malu katamu. Apa kau mendapati kenyataan atas kata-kata kawanmu yang kerap mengatakan: ayahmu lebih sayang pada beruknya? Sungguh, kalau tidak karena si Panjek, beruk peliharaan ayahmu itu, periuk tak bakal berisi, tudung tak bersambal, rumah tak berperabot. Tahu? Kau tak akan makan.”

Kakiku serasa dipakukan kuat-kuat ke lantai. Mataku hanya mampu memandangi ubin, seperti ada yang menarik di sana. Sebenarnya aku tak tahu harus mengarahkannya ke mana lagi. Jika aku tegakkan kepala ini, maka tatapanku akan tertumbuk pada sepasang mata ibu yang membulat sempurna. Sungguh, jantungku serasa mengempis melihatnya.

“Dan aku pun baru mengetahuinya setelah gurumu datang kepadaku. Katanya kau sengaja mengosongkan pekerjaan orangtua pada lembar data siswa yang dimintai pihak sekolah. Apa kau benar-benar menyimpan malu pada ayahmu? Sudahlah, lengahkan saja mereka. Betapa bodohnya kau jika apa yang kawan-kawanmu katakan itu selalu saja membuatmu menangis berkepanjangan. Toh, ayahmu bekerja dengan cara halal. Kapanlah aku dapat melihatmu pulang sekolah dengan tidak menangis macam ini lagi, Nak?”

Kedua tangan terus kusilangkan di balik punggung. Isak kutahan sehebat mungkin, meski sesekali ‘hik’ itu pun keluar juga. Kumain-mainkan keliman baju pramuka yang belum kuganti. Tentu belum kuganti lantaran marah ibu lebih dulu menyambarku tatkala mendapatiku menangis sepulang sekolah.

Aku tak dapat menyangkal, sedianya benar apa yang ditukaskan ibu padaku, terutama menyangkut sikapku. Setelah menetap di tempat ini, aku merasakan keterasingan, terlebih di lingkungan sekolah baruku. Kawan-kawanku kerap menertawakanku lantaran pekerjaan ayah. Bagi mereka pekerjaan ayahku adalah sesuatu yang aneh, barangkali lucu iya pula.

Setiap hari, ayahku yang pawang beruk, bersama si Panjek, beruk piaraan yang telah terlatih, akan mendatangi batang kelapa yang dimintai orang diambil buahnya. Dengan mengayuh kereta angin yang nyaris karat merata, ayah menganjakkan badan dari satu batang ke batang kelapa lain. Hanya dengan isyarat dari ayah, si Panjek akan lekas memanjat. Beruk itu pandai membedakan kelapa yang benar-benar masak, setengah masak, atau yang masih muda. Tergantung pemilik kelapa itulah nanti buah yang bagaimana yang hendak diturunkannya. Dan jika sudah, si Panjek akan dirantai di belakang sepeda. Ia akan duduk tenang di atas keranjang onggokan buah kelapa yang akan dibawa ke pemiliknya atau diantar ke pemasok jika pemiliknya bertitah demikian. Lebih-lebih jika diberi pisang atau kacang: bagaimana pun kondisi jalan dan sejauh apapun perjalanan, ia bakal senang-senang saja, persis hakim yang dijejali sekebat uang sogok ke balik sakunya.

Tentu saja, melihat itu, menjadi bahan buat kawan-kawan mengejekku. Apalagi ayah kerap ke belakang sekolah—bersebab di sana kelapa tumbuh dengan maha lebat. Barang tentu ayah akan membelah setapak di muka sekolahku. Terkadang dalam hatiku, aku diam-diam berdoa: semoga ayah lewat ketika kami tengah belajar. Sebab, jika begitu, tentulah mereka bakal luput pada kedatangan ayah. Namun, adakalanya ayah lalu bertepatan dengan waktu istirahat. Jika itu terjadi, segera saja mereka akan meneriakkan namaku keras-keras sembari mengarahkan pandangan kepada si Panjek; seolah-olah si Panjek adalah aku. Entahlah, apa di hati ayah saat itu. Mustahil jika ayah tak mendengarnya. Namun, kuperhatikan, tak sekalipun ayah membelalakkan mata atau bahkan menjewer kuping anak-anak itu. Apakah benar ayah lebih sayang kepada si Panjek? Ah, aku rasa ayah bukannya tak hendak berang. Ayah pasti memilih bersikap diam lantaran satu hal yang ia pendam sekuat hatinya. Ya, sebiji musabab: kebanyakan dari anak-anak itu adalah anak dari pelanggan jasa ayah, maka membuat perhitungan dengan anak-anak itu akan sama saja seperti mematahkan tunas yang hendak tumbuh.

Sementara, di tempat tinggalku dulu, pekerjaan seperti yang dilakoni ayah kini adalah lazim. Di sana, bahkan banyak masyarakat yang mengandalkan hidup pada pekerjaan itu. Pawang beruk seolah menjadi mata pencaharian utama dan menjanjikan.

Kadangkala aku merindukan kehidupan ketika di kampung dulu. Kehidupan yang tenang dengan suasana sekolah yang damai. Namun, waktu mustahil memutar-balik dengan sendirinya.

Sungguh! Jika tidak karena hama brengsek itu, kami tidak akan beranjak dari tanah leluhur kami.

Adalah serangan hama kumbang tanduk (seorang peneliti yang datang pernah menyebutnya: hama kwangwung) tiba-tiba menyebar dan menjangkiti kelapa-kelapa di kampungku. Hama itu bukan semata-mata menurunkan produksi buah kelapa, tetapi juga menyerang titik tumbuhnya pohon: membikin matinya tanaman kelapa! Hama itu semakin hari kian merebak. Masyarakat makin resah. Maka, di beberapa batang kelapa yang belum terserang, masyarakat memilih cepat-cepat menebangnya. Satu-satu dikuliti. Diambil janurnya, pelepahnya, akarnya, buahnya, juga kayunya, untuk dipergunakan atau mungkin dijual. Hingga, pohon kelapa menjadi sesuatu yang amat langka. Meski kedengaran berlebihan, dulu orang akan mengangguk sepakat jika dikatakan: nyaris tiap jengkal tanah ditumbuhi nyiur menjulang itu.

Aku masih ingat puncak dari kepasrahan masyarakat—tentunya lebih-lebih bagi para pawang beruk. Siang itu, masyarakat beramai-ramai menuju segerombolan mobil Jeep beroda raksasa yang datang ke kampung kami. Konon, orang-orang bermata sipit dan bersepatu lars yang di dalam mobil itu bersedia membeli beruk-beruk peliharaan kami. Memang mereka terang-terangan menginginkan beruk-beruk kami untuk kemudian dibawa nun ke Cina Timur guna diambil dagingnya untuk bahan baku makanan di beberapa restoran di Country Zixi. Akan tetapi itu tak lantas membuat masyarakat berkeberatan menjual binatang yang selama ini diandalkan dalam pencaharian. Sebab, tak ada alasan lagi bagi masyarakat untuk terus bersedia memelihara beruk-beruk yang kini tak dapat lagi digunakan. Agakku, hanya ayah sendiri yang enggan menjual beruknya—si Panjek.

Setelah kejadian itu, kehidupan masyarakat dibuat tak menentu. Ada yang beralih profesi bertani, beternak, membikin kerajinan rotan atau bertukang. Tak sedikit pula yang memilih merantau. Berbekal si Panjek, kami sekeluarga pun turut menjadi bagian yang juga memilih meninggalkan kampung.

Di tempat ini kami terhempas dan merangkai ranting-ranting kehidupan. Tak ada kepandaian lain yang dikuasai ayah. Maka, ayah tetap bertopang punggung pada pekerjaan yang sama: pawang beruk.

***

Aku tersadar dari lamunanku. Mengingat kenangan masa lalu seakan-akan membuat tubuh ini benar-benar bergerak kembali dan hadir dalam waktu-waktu yang telah terlewati. Angin malam terus berusaha memilin-milin dada. Sekawanan nyamuk semakin buas menggerayangi ariku. Sudah terlalu lama rasanya aku tersandar di kursi kayu ini. Tapi, ke mana ayah? Kenapa tak kunjung tiba di rumah. Rasa rinduku kini berbaur dengan kecemasan.

Sungguh, aku benar-benar merindukan ayah yang tinggal sendiri setelah setahun kematian ibu. Hampir setahun kami berpisah—sejak kepergianku ke pulau seberang untuk berkuliah. Sebelumnya tak ada yang menyangka anak pawang beruk ini akan mampu berkuliah. Namun, hal itu kutepis dengan prestasi yang akhirnya mendatangkan beasiswa bagiku. Dan lagi, ayah nampak bersemangat menyekolahkanku.

“Kau harus sekolah tinggi, setinggi batang kelapa,” kata ayah kala itu. “Si Panjek saja bisa sampai puncak, masa kau tidak,” tambah ayah sembari menciptakan tawa. Aku pun turut tergelak. Namun, aku menangkap makna lain atas ujaran tersebut.

Bulan semakin tersapu awan. Sekian detik bulatan itu seolah ditelan malam, sebelum detik berikutnya ia muncul kembali dengan bulatan yang lebih memesona. Kuraih jaket tebal dari dalam ransel. Hanya ini cara jitu untuk mematikan dingin yang berhasil membuat gigi-gigiku bergeretak. Kulayangkan pandangan sambil terus memindai sekitaran, berharap ayah muncul dari sembarang sudut.

Seketika, dari rumah sebelah, keluar lelaki berjambang. Di puncak kepalanya menempel topi sabut dan sarung terkulai lemah di tengkuknya. Agaknya, tetanggaku itu tengah dinanti kawan-kawannya di lepau untuk menggenapi kaki meja domino.

Menyadari kehadiranku, setengah berlari ia mendekatiku.

“Sudah hampir dua bulan rumahmu hanya disinari kunang-kunang,” katanya.

Padang, 2013

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.