Lelaki Kelingking dan Botolnya

Juni 10, 2012

Dimuat Singgalang Minggu, 10 Juni 2012 ||

Peri siang sukses besar mengamputasi langkah. Ah! sungguh, hidup terasa semakin membosankan. Lebih damai bermalas-malasan di dalam kamar. Rebahan di empuknya kapuk. Berpasrah di hadapan baling-baling yang rajin berputar. Aku merasa menjadi raja yang dikipasi ajudan di kiri-kanan dengan sebentuk bulu-bulu lebar.

Aku mencoba cuek saat peri siang mengerdipkan mata apinya, sembari tetap menguping pembicaraan bantal dan guling yang begitu alot.

“Lihat, nyalanya.”

“Terang begitu menyerang.”

“Panas.”

“Nikmati saja. Genting yang silau.”

“Dan aspal pun berubah jadi kolam.”

“Tengkuk berbutir peluh.”

“Kuduk semakin hitam. Berdaki.”

“Kening bergetah.”

“Gerah.”

“Bau.”

“Ah.”

Aku kemudian hilang. Sembunyi dalam mimpi di puncak siang. Persetan dengan peri siang. Kutendang guling yang sedari tadi erat dalam pelukan. Begitu pun bantal. Kasihan sebenarnya. Tapi aku kesal atas ocehan mereka. Bukankah siang adalah jembatan yang kelak mengantar kita kepada senja?

***

“Selamat siang kawan,” ada yang tiba-tiba membuka pintu kamarku yang tak pernah terkunci. Bagaimana hendak dikunci, lubang kuncinya saja tidak ada. Aneh, kata kebanyakan orang—mereka lebih gemar menghilangkan anak kunci. Ya, begitulah. Siapa lagi yang punya laku kalau bukan si ceking, aku menjulukinya lelaki kelingking, yang baru saja mengagetkanku yang perlahan hendak menuju alam mimpi. Ia telah menjualnya barang itu ke pedagang besi tua untuk mencari uang pembeli botol; aku baru tahu Rabu silam, sewaktu ia sedang mabuk berat dan tak karuan menderet dosa-dosanya. Dan, salah satunya itu.

Kebiasaan, selalu saja ia memakai kaus yang menyakitkan mata. Entah itu hijau seperti stabilo yang biasa menjadi penanda catatan kuliahku, kuningnya matahari pagi, atau merah nyala, semerah matanya.

“Kasihanilah kapuk kasur duhai manusia penidur, endus bau ketek melulu. Hahaha…,” ujarnya cengengesan sambil menguncang-guncang tubuhku, berusaha membangunkanku. Dia tahu aku tidur ayam.

Dia mengeluarkan sesuatu dari balik tas punggungnya yang penuh tambalan. Tidak kuperhatikan. Cepat kuputar badan, memunggunginya, dan kembali memejamkan mata berharap mimpi yang terhenti akan terulang kembali.

Tanpa melihat pun aku sudah tahu benar benda apa yang akan dikeluarkannya, lalu apa yang akan dia perbuatnya terhadap benda itu. Apalagi kalau bukan botol. Ya, botol: B-O-T-O-L, BOTOL!. Entah sudah berapa botol dia letakkan sembarangan di pinggir dinding kamarku. Bentuknya pun beragam. Ada yang seperti kristal, ada yang petak, ada juga yang lonjong.

Sudah berapa kali pula aku menyuruhnya untuk segera membuang. Akan tetapi tidak didengarnya. Sampai pernah aku mengancam akan memukul kepalanya dengan barang-barang peninggalannya itu. Tetap, sama saja hasilnya. Ia acuh. Bosan aku terus-menerus mengingatkannya. Pikirku, biar sajalah benda-benda itu di dalam kamar. Lagi pula bentuk botol itu artistik dan menarik. Setidaknya akan mampu mengisi kekosongan ornament interior kamarku.

“Eng-ing-eng…,” ujarnya kesenangan sembari mengeluarkan sebuah botol kaca dari dalam tasnya, kali ini berbentuk lebih unik, meruncing ke ke ujung. Seperti anak kecil yang sedang memamerkan mainan barunya saja tingkahnya.

“Mari minum,” tawarnya padaku.

Sudah biasa bagiku melihat dia membuka tutup botol dengan menggunakan gigi depannya yang sedikit tonggos itu. Mungkin akan menjadi sesuatu yang menakjubkan bagi siapa pun yang melihat aksinya pertama kali.

Meskipun begitu, tak ada niat bagiku untuk mencicipi, sekalipun dia tawarkan perai kepadaku. Pernah, aku berniat sekedar mencoba, setetes saja. Aku sempat penasaran, seperti apa rasanya ‘nikmat’ yang selalu dia sebut-sebut setiap kali selesai mereguk. Kata itu biasa dia lontarkan sambil menyeka sekitaran mulutnya yang basah. Namun, setiap hendak mencekik botol itu, pikiranku selalu saja tertuju kepada rupa-sifat iblis yang pernah diceritakan Uwo dulu, sewaktu aku kecil.

Sedikit tentang Uwo. Dulu, bila tiba senja. Aku dan kawan-kawan kecilku bergegas ke rumah Uwo guna mendengar cerita-ceritanya yang menarik. Kami duduk berjejer di anak tangga rumah kayu Uwo yang beratap gonjong seroman tanduk kerbau. Dengan wajahnya yang bersahaja, Uwo menyambut kami, sekalipun beliau sedang khusyuk menenun. Bahkan apabila beliau membuat penganan, kami selalu diberi cicip. Kami paling suka lamang tapai buatan Uwo. Lamak bana, serempak kami memberikan penilaian terhadap makanan khas yang satu ini. Uwo sangat sayang kepada kami. Sayang itu Uwo lampiaskan lantaran beliau mengangap kami adalah anak-anaknya, sedang beliau sendiri tidak memiliki keturunan. Takjub kami setiap kali mendengar kisah-kisahnya, tentunya setiap kisah mengandung nasihat yang membimbing kami kepada ajaran yang baik.

Aah… Aku menguap selebar-lebarnya. Terserahlah apa yang mau dilakukan lelaki kelingking itu. Lebih baik aku kembali tidur. Tidur adalah sesuatu yang paling mudah dan bermanfaat.

***

Dari dalam botol ada api. Muncul asap berbau mayat. Berkobar tinggi, setinggi keangkuhan yang melebur di tubuh debu. Bukan, pastinya itu bukan asap randang atau sampadeh dari tungku kayu mandeh. Asap itu pekat bukan kelabu. Lebih pekat dari segala pekat.

Orang-orang berdatangan. Ramai sekali. Entah dari kota, entah dari kaki gunung, entah dari kantor, entah dari kubangan sawah, entah dari pinggang bukit, entah dari dalam gua, entah dari pesisir, entah dari surau. Mereka mengelilingiku. Mereka berusaha memadamkan api. Api yang panas, lebih panas dari bara tungku.

Seorang dari mereka menertawakanku. Rupa yang tak asing di benakku. Lelaki kelingking bermata merah! Mengapa dia ada disana? Mengapa dia menertawakanku? Bukannya ikut menolongku dari kungkungan api yang siap membakar tubuh ini. Lagi pula semua ini karena ulahnya. Ulah botol miliknya. Botol yang dia letak sembarang di kamarku.

Api botol semakin panas saja. Lebih panas dari kerdipan peri siang. Lidahnya bercabang dua, bukan, bercabang tiga, bukan, bercabang lima, bukan, yang pastinya bercabang banyak sekali. Bantalku dijilat, kasurku dijilat, gulingku dijilat, jejak sepatuku dijilat, catatan kuliahku dijilat, botol-botol lain pun dijilatnya, seolah dia adalah maha botol di atas segala botol. Bahkan peri siang mati terkena jilatannya. Aku sedih peri siang mati. Meski kemarin-kemarin aku kesal dengannya, dengan kerdipan mata apinya.

Tak kuasa. Tak ada yang mampu menaklukan api botol. Mobil pemadam kebakaran sudah dikerahkan. Tapi mereka tidak mampu. Raungan sirinenya saja yang semakin memperseru suasana.

“Siram..!! Siram..!!” suara orang-orang berteriak. Aku mendengarnya sayup di tengah ribut sirine mobil pemadam kebakaran. Api dari botol semakin mendekatiku. Tapi tidak membakarku. Dia menari-nari di depanku. Dia mengajakku berdansa. Bahkan dia tersenyum kepadaku. Alamak, manisnya. Aku senang, risauku sedikit hilang. Peri siang saja tak pernah mengajakku seperti ini.

Di dalam botol yang lain, tiba-tiba muncul iblis yang sedang mengajarkan kepada anak cucu mereka: panas tetaplah panas, pekat selamanya pekat.

Iblis yang paling tua duduk tepat di tengah-tengah. Yang lainnya membuat posisi melingkar. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang pasti, aku tak berani mendekati mereka. Kucoba bertanya pada bantal. Dia diam. Begitupula guling. Kali ini mereka bersikap aneh, tak seperti biasa, nyiyir bukan kepalang.

Kemudian seperei mendekatiku dan menunjuk sesuatu ke arah selatan. “Barangkali dia bisa menjawab,” sarannya padaku.

Kutuju. Dia membetulkan duduknya. Singgasananya begitu indah. Penuh ukiran dan wewarna menarik hati. Ketika membalik, kulihat wajahnya. Ah, peri siang. Mengapa dia di sini? Bukannya dia sudah mati. Apa peri siang adalah samaran iblis? Atau iblis itu, adalah peri siang?

Kembali dia mengerdipkan mata apinya kepadaku. Kali ini aku tak bisa mengelak. Tidak seperti kemarin-kemarin, selalu aku mencoba bersikap masa bodoh atas kerdipannya. Peri siang begitu senang mendapatkan senyumku. Matanya semakin nyalang. Ah! Dia hendak menciumku. Belumlah sempat sebelum dua langkah kemudian iblis datang mendekati kami.

Itu iblis yang paling tua. Iblis yang menjadi pusat lingkaran tadi. Yang kutahu selama ini, iblis adalah monster dari segala monster, siluman dari segala siluman, rajanya dajjal, induknya setan. Tapi mengapa iblis tak seperti yang mereka bilang. Iblis sangatlah cantik dengan sekuntum mawar yang terselip di kupingnya. Tak ada bau mayat, tak ada panas, tak ada pekat. Sungguh, perlahan aku mencintainya. Sungguh, aku semakin tak mampu menyimpulkan nasibku.

Peri siang menatapku lain, tidak seperti tadi. Mukanya kusam seperti tertimbun lumut. Mata apinya redup. Dia menangis. Air matanya membasahi kasur, guling, juga hatiku. Tidak dengan bantal. Kemana perginya bantalku. Oh, ternyata iblis kecil sedang tertidur pulas di atas bantalku. Biarlah dia terlelap, kelak dia pun akan menjadi pemilik bantal itu.

Apa! Peri siang cemburu padaku. Aku tak menyangka peri siang begitu mencintaiku. Ia mengungkapkannya langsung padaku. Oh, Aku merasa sangat bersalah sebab selama ini tak pernah membalas kerdinpannya. Picingku dalam lelap acapkali bikin sedih. Sebagai permintaan maafku aku terpaksa menciumnya. Dia setuju. Kudekatkan bibirku. Ah, bibirnya nikmat sekali. Manis seperti cokelat. Tanpa sadar aku telah menelan habis bibirnya.

Tiba-tiba saja, peri siang berubah menjadi wujud iblis. Bukannya iblis sedang meniduri iblis kecil. Kenapa tiba-tiba berada di depanku? Aku terkejut bukan kepalang. Kali ini iblis yang kulihat bukan iblis yang cantik dengan sekuntum mawar terselip di kupingnya. Ini adalah iblis yang orang bilang. Iblis yang berbau mayat, iblis yang panas, iblis yang pekat, monster dari segala monster, siluman dari segala siluman, rajanya dajjal, induknya setan.

“Siram..!! Siram..!!” Suara orang-orang berteriak semakin jelas, keras. Raungan sirine pedaman kebakaran bukan main, kian menjadi-jadi. Dan botol semakin mengeluarkan kobaran api. Api yang persis seperti api iblis tadi.

Sepertinya aku akan mati. Aku akan bertemu peri siang yang sesungguhnya di surga kelak. Peri siang yang benar-benar mencintaiku. Peri siang yang gemar mengerdipkan mata apinya kepadaku.

***

Di mana peri siang? Di mana iblis? Di mana api? Di mana panas? Di mana pekat? Yang kudapati lelaki kelingking bermata merah sedang asyik mereguk minuman dari dalam botol kaca yang dia genggam. Ya, botol itu. Botol api. Botol iblis. Persis.

Kutendang botol itu, botol yang sedang dipegang erat oleh lelaki kelingking. Matanya semakin memerah mendapati tingkahku barusan terhadap benda kesayangannya. Botol itu pecah tepat di hadapannya.

Sepertinya iblis sudah mati. Api pun sudah padam. Aku senang bukan kepalang. Lebih-lebih rasanya dengan lepas dari jeratan tugas-tugas dosen.

Jemari lelaki itu sedikit berdarah setelah kupaksa membereskan pecahan benda-benda kesayangannya. Tak peduli bagiku. Tas punggungnya kini sudah penuh dengan botol-botol. Terserah mau dia apakan botol-botol yang biasa dia letakkan di sudut kamarku itu. Biarlah kamar ini cukup dihiasi jaring laba-laba atau sisa kotoran tikus, daripada kemudian iblis kembali mendatangiku. Ngeri. Lebih ngeri dari bayangan iblis yang dulu biasa diceritakan Uwo.

Tak lupa, kutagih uang ganti untuk membeli lubang kunci kamarku. Agar pintu kelak dapat kukunci, sehingga tak sembarangan orang bisa memasuki kamarku. Aku jera selama ini tak begitu.

Huh! kali ini aku sudah lega, tak ada lagi iblis, tak ada lagi api, tak ada lagi pekat, tak ada lagi lelaki kelingking, dan tak ada lagi botolnya yang membawaku pada sebuah kisah entah. Yang tersisa adalah peri siang yang setia mengerdipkan mata apinya kepadaku. Kali ini aku berniat membalas kerdipannya.

Padang, 2012

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.