Menyambut Ramadhan

Juli 14, 2013

Dimuat Padang Ekspres, 14 Juli 2013 ||

Waktu istirahat tiba. Murid-murid SD Merah Putih tengah bermain dengan gembira di pekarangan sekolah. Mereka asyik berkejar-kejaran. Ada juga yang bermain petak umpet. Sedangkan anak-anak perempuan lebih memilih bermain lompat tali.

Tiba-tiba saja, Bu Guru menyuruh mereka masuk kelas, padahal bel pertanda masuk belum berbunyi. Anak-anak itu keheranan: mengapa disuruh masuk sementara jam istirahat belumlah habis. Mereka pun bergegas ke dalam kelas dan duduk dengan tenang di kursi masing-masing. Raut wajah mereka masih kelihatan bingung sebelum Bu Guru mulai berbicara.

“Anak-anak, hari ini adalah hari terakhir sekolah. Proses belajar mengajar di sekolah dihentikan satu bulan karena kita akan berada di dalam bulan suci Ramadhan,” mendengar itu, kebingungan mereka pun seketika sirna. “Sebagai gantinya, kalian harus mengikuti kegiatan Pesantren Ramadhan pada masjid atau mushalla yang dekat dari rumah kalian,” terang Bu Guru lagi.

“Baiklah. Sebelum pulang apa ada yang ingin ditanyakan?” Bu Guru memberi kesempatan para murid untuk bertanya.

Tampak di barisan pertama pojok kanan, seorang anak laki-laki mengacungkan tangan. Namanya Ardi.

“Ya, silakan,” Bu Guru mempersilakan Ardi.

“Bu, kenapa di bulan Ramadhan kita tidak boleh makan dan minum pada siang hari, padahal Bu Guru selalu menyuruh kita untuk tidak lupa makan siang agar tidak sakit perut,” tanya Ardi.

“Ardi, Allah memerintahkan kita untuk melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Puasa telah diwajibkan atas kita untuk menguji seberapa besar ketaqwaan kita pada-Nya,” terang Bu Guru. “Ardi masih ingat tidak bagaimana ciri-ciri orang yang bertaqwa itu?” tanya Bu Guru.

“Ingat Bu! Ciri-ciri orang bertaqwa ialah mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya,” jelas Ardi.

“Benar sekali. Makanya, puasa akan menjadi ujian untuk melihat sampai di mana ketaqwaan seorang hamba. Karena itulah, di bulan Ramadhan kita diuji menahan keinginan untuk tidak makan dan minum sampai waktu berbuka tiba,” tutur Bu Guru menjelaskan.

Ardi pun mengangguk. Raut mukanya lebih cerah setelah ia mendapat penjelasan dari Bu Guru.

“Selain itu, anak-anak, Allah berjanji: di bulan Ramadhan akan dibukakan segala pintu surga dan dikuncikan segala pintu neraka. Makanya, kita harus banyak beribadah di bulan Ramadhan. Tapi ingat, Allah tidak akan menerima ibadah seorang anak yang tidak meminta maaf kepada kedua orangtuanya serta kepada sesama kaum muslimin,” pungkas Bu Guru.

Ardi sangat menyimak apa saja yang disampaikan Bu Guru. Ia ingin sekali lebih mendekatkan diri kepada Allah.

Sebelum pulang, anak-anak itu membentuk barisan. Mereka saling bersalam dan menghapus segala kesalahan, dengan harapan: semoga Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan yang penuh berkah.

***

Ardi sudah tidak sabar ingin bertemu ayah dan ibu yang sangat dicintai. Ia ingin mencium tangan kedua orangtuanya. Ia ingin meminta maaf agar ibadahnya di bulan Ramadhan diterima oleh Allah. Dipercepatnyalah langkah kaki serta ayunan tangan.

Sesampainya di rumah,  diletakkannya tas di dekat meja belajar. Kemudian bersegera ia mengambil air wudlu guna mendirikan sholah Dzuhur. Sebagaimana kebiasaan yang diajarkan orangtuanya; mereka selalu berjamaah dalam mendirikan sholat. Ayah Ardi-lah yang menjadi imam. Usai dzikir dan berdoa, Ardi segera menuju orangtuanya.

“Ayah, Ibu, Ardi minta maaf apabila perbuatan atau kata-kata Ardi pernah menyakiti perasaan Ayah dan Ibu. Ardi ingin ibadah di bulan Ramadhan nanti diterima Allah. Ardi ingin menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua dan disayang Allah,” pinta Ardi sembari mencium tangan kedua orangtuanya.

“Tapi ingat ya Nak, puasanya jangan bolong lagi seperti tahun-tahun kemarin,” kata Ayah.

“Insyaallah, tahun ini Ardi bakal berusaha puasa sebulan penuh, Yah,” jawab Ardi yakin.

“Ibu senang sekali mendengarnya. Ternyata anak Ibu sudah punya niat yang kuat,” kata ibu sembari mengelus kepala Ardi.

“Oh ya, besok kita ke kampung yuk, minta maaf sama Nenek dan juga keluarga lainnya. Sekalian kita ziarah ke makam Kakek!” Ayah mengajak.

“Ayo Yah!” seru Ardi.

***

Keesokan harinya, mereka pun berangkat ke kampung halaman. Jaraknya cukup jauh, menghabiskan waktu sekitar lima jam menuju ke sana. Namun, Ardi tak merasakan kebosanan dalam perjalanan, karena keinginannya yang besar untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan kesucian hati. Apalagi Ardi ingin lebih banyak beribadah pada tiap-tiap hari di bulan Ramadhan nanti karena pahala yang berlipat ganda telah dijanjikan Allah.

Setiba di kampung, baru saja Ardi turun dari mobil, ia langsung berlari ke dalam rumah. Ia raih tangan neneknya yang semakin keriput digilas usia. Ia cium dengan penuh hangat.

“Nek, Ardi minta maaf ya, kalau lisan yang tak terjaga atau sikap yang pernah menyakitkan. Mudah-mudahan apa yang kita perbuat diridhai Allah,” ujap Ardi.

Sayangnya, tak sepatah kata pun keluar dari mulut nenek. Hanya air mata membutir lalu meluncur dari kedua belah pipinya. Nenek Ardi sudah dua setengah tahun terkena stroke. Seluruh anggota tubuhnya lumpuh dan tak bisa digerakkan. Kehidupannya tak lepas dari kursi roda.

Setelah berziarah ke pemakaman kakek, seharian penuh Ardi menghampiri rumah saudara-saudaranya. Saudara-saudara Ardi merasa senang mendapati kunjungan. Begitupun bagi Ardi, ia bahkan merasa lebih senang lagi karena telah menyucikan hati dengan meminta dan memberi maaf.

Kini, Ardi pun siap menyambut datangnya Ramadhan. Marhaban ya Ramadhan.

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.