Undangan Makan Malam

Juli 28, 2013

Dimuat Radar Surabaya, Minggu, 28 Juli 2013 ||

“Entah sudah berapa kali aku mengundangmu untuk turut serta pada acara makan malam bersama keluarga besarku. Akan tetapi kau selalu enggan menghadirinya. Sebenarnya ada apa?”

Tak ada jawaban yang keluar dari mulut lelaki itu. Selang beberapa saat kemudian ia langkahkan kakinya pergi meninggalkan wanita yang sedari tadi berdiri di hadapannya. Brak! Dihempaskannya pintu sekuat mungkin. Hampir saja mengenai batang hidung wanita itu. Bila tak cepat mengelak, habislah sudah rupa indah indera penciumannya yang makin ke ujung kian meruncing itu.

Setiba di dalam, sepasang bola mata sebentar menoleh kepada sudut dinding yang terpampang sebuah foto berbingkai. Lelaki itu meraih benda itu dari paku yang mengait, kemudian ia dekap dengan amat erat di dadanya. Tatapannya begitu dalam tatkala memerhatikan sesosok tubuh pada potret hitam putih yang kian memudar terselimuti debu.

***

 “Akhel, apa kamu yakin ingin benar-benar menikahi gadis kaya raya itu?”

Berkali-kali, hanya pertanyaan itu yang selalu diajukan lelaki tua itu kepada anaknya. Mungkin seribu kali sudah, semenjak anak lelaki semata wayangnya menyatakan niat untuk segera meminang seorang wanita yang telah berhasil menautkan cinta di pucuk hatinya.

Cinta pantangannya paksa; dipaksa mencintai atau memaksa untuk tidak mencintai. Bukanlah cinta namanya bila sepasang insan dipaksa untuk saling mencinta. Dan bila cinta itu terlahir dari ketulusan hati niscaya ia akan menciptakan sebuah kekuatan yang mahadahsyat, yang tak akan bisa dipaksakan untuk saling memisah.

Begitupun bagi Akhel. Meski pertanyaan ayahnya terkadang menjadi perintang hatinya, ia tetap yakin pada kebulatan keputusannya untuk segera mempersunting Entrin, gadis yang selalu ada di dalam doanya.

Pertanyaan itu bukan sekedar kata-kata hampa yang dilisankan begitu saja. Bukan pula selepas suara sekenanya. Adalah dalil kecemasan yang diungkap paling jujur dari lubuk hati seorang ayah terhadap masa depan anaknya.

Bagi Akhel, mungkin rumah tangga adalah sebuah ruang pelampiasan rasa sayang dan menyanyangi. Dengan menikah kemudian memiliki anak, maka ia akan merasakan kebahagiaan. Namun tidak bagi ayahnya. Lebih jauh dari itu. Setiap kali Akhel mengutarakan niatnya kepada ayah yang sekaligus menjadi pengganti ibu bagi kehidupannya sejak kecil, setiap kali pula ayahnya mencoba terus memberikan bayangan terhadap masa depan yang akan dilalui putra tunggalnya. Ayah adalah sosok malaikat pada kehiduan Akhel. Setelah kematian ibunya ketika ia berumur empat tahun, ayahlah yang menjadi tempat ia berbagi kasih dan sayang. Meski ketulusan cinta hanya ia dapati dari seorang orangtua, namun ia begitu menikmatinya. Hingga hutang rasa itulah yang kini menggantung tiada bertali.

“Gadis itu terlalu kaya untumu. Ayah takut nanti ia tak lagi menghargai dan menikmati tiap tetes keringatmu.” Pernyataan itulah selalu menjadi alasan tunggal yang kian meragukan langkah Akhel.

Memang, wanita yang akan dipersunting Akhel adalah seorang putri dari keturunan berada. Ayahnya seorang pengacara ternama negeri ini dan ibunya pengusaha tenun yang sukses. Wajar memang bila akhirnya ayah Akhel cukup bimbang untuk menguatkan langkah hati anaknya.

“Jika kelak menikahinya, tidaklah mungkin kamu terus-menerus mencukupi kebutuhan dengan limpahan materi dari pihak istrimu. Meski nantinya kamu akan diberikan rumah mewah, mobil, dan uang. Akan tetapi kamu adalah lelaki, Nak. Kamulah yang harus menafkahi keluargamu sendiri. Dengan usahamu, dengan tetesan keringat kamu besarkan anakmu. Sedangkan kini, pencarianmu saja tidak tetap. Cerpen-cerpenmu pun akhir-akhir ini jarang dimuat. Novelmu tak laku. Lantas mau kamu beri makan apa anak orang itu?”

“Tapi aku mencintainya!” Sebuah akhir kalimat yang selalu mengakhiri dialog antara anak dan ayah itu. Sebab tiada kata sambung lagi tercipta. Terlebih bagi ayahnya. Tak mampu lagi ia melanjutkan pembicaraan sepatah kata pun apabila mendengar keteguhan dari suara anak kesayangannya yang seumur-umur tak pernah meninggikan nada kepadanya.

Pasrah. Mungkin hanya itu yang bisa dilakukan lelaki yang beranjak tua itu. Membiarkan anak semata wayangnya mengambil keputusan bukan berarti ia tak memikirkan masa depan putranya itu. Meski jujur dari lubuk hatinya terdalam, ia gamang memiliki menantu yang jauh lebih tinggi derajat sosial dibandingkan anaknya yang kelak akan menjadi suami, nahkoda bagi pesiar masa depan mereka. Ia gamang akan  sedikit uang dari pencarian hasil kerja keras anaknya tak akan berharga lagi dimata istrinya. Namun sesungguhnya sebuah sebab yang jauh lebih memberatkannya: ia tak ingin perpisah itu tiba, ia berat untuk jauh dari anak lelaki satu-satunya yang amat berharga baginya dibandingkan apapun di dunia ini.

Akhel meluruskan kakinya. Tubuhnya ia rubuhkan ke badan kasur. Gumpalan kapuk kecil bertebaran bebas keluar dari sekitar sobekan yang kian melebar karena tidak pernah ditambal. Dadanya berdebar menahan beban. Ya, beban. Sebab padi tinggal menyiang, apalah daya mentari tak menyinari. Matanya terpaku menatap langit-langit kamar. Hatinya bergumam lirih, “Mengapa ayah tak merestui hubunganku? Seharusnya beliau senang sebab ada gadis jelita dan kaya raya mau menikah denganku….” Digenggam tepian seprai, ia remas sekuat-kuatnya mencoba melawan hasrat yang timbul di dalam jiwa.

“Ah bodoh. Apa yang telah aku lakukan. Mengapa aku selama ini tak lagi mendengarkan perkataan ayah. Aku tak mau menyakiti hatinya. Aku tak mau menjadi anak yang durhaka, tidak berbakti kepada orang tua. Ayah, maafkan aku. Telah membuatmu risau memikirkan aku. Maafkan aku ayaah….”

***

Seketika bingkai itu jatuh ke lantai, pecahlah kacanya berkeping-keping. Lelaki itu kemudian membuka matanya. Dilihatnya benda yang ia dekap sedari tadi kini telah hancur menuruti kehendak grafitasi bumi. Lamunan panjang telah membawanya hanyut ke dalam labirin masa lalu. Diraihnya lembaran potret yang dipenuhi kepingan kaca berserakan diatasnya. Sesaat, jari telunjuknya mengeluarkan darah karena tak sengaja tersentuh sebuah ujung kaca yang runcing. Akh… Mukanya meringis menahan perih. Darah itu kemudian menetes memberikan wewarna merah kepada potret hitam putih yang tergeletak.

“Ayah, andai kau masih disini. Aku ingin sekali berbagi kisah. Kini aku telah menyadarinya semuanya. Iya ayah semuanya…,”

Ditatapnya gambar lelaki tua samar pada selembar kertas dalam genggamannya. Air mata pun menitik berpadukan luka. Perih luka pada telunjuknya tak lebih menyakitkan dibanding luka di hati yang kini dialaminya. Lama ia termenung menatap kosong kepada sesosok rupa yang berkeliaran dalam hayalnya. Ayah.

Hanya satu yang diinginkan dalam kehidupannya: membuat ayah bahagia. Namun apalah daya, Tuhan telah menjemput sosok malaikat dalam kehidupannya sebelum ia sempat membingaikan senyum teruntuknya. Ia merasa mempunyai hutang besar yang belum terlunasi. Kepergian ayahnya untuk selamanya tak pernah ia duga barang sedikit pun. Memang kehendak Tuhan siapa yang tahu.

Pagi hari itu mereka masih bercakap. Tubuh ayah masih segar dan bugar seperti biasa, tak berpedoman kepada usianya yang beranjak tua. Akhir September nanti genaplah enam puluh delapan tahun. Bahkan sebelum hari istimewa itu tiba, Akhel dan Entrin telah jauh-jauh hari mempersiapkan kejutan dan pesta sederhana. Sikap Entrin terhadap ayah Akhel sangatlah dekat, begitu pun bagi ayah Akhel. Meskipun sebenarnya ia kurang setuju wanita itu berhubungan dekat dengan anaknya, namun ia pandai menyimpan segala rasa dan bijak dalam memilih sikap.

Senja kemudian, selepas ashar, Akhel mendapati sesosok tubuh terbaring tak berdaya di atas hamparan sajadah. Butiran tasbih masih di dalam genggaman lelaki itu namun tiada bergerak. Tak ada lagi kecupan kecil yang diberikan telunjuk dan ibu jarinya. Nafasnya diam. Jantungnya hening. Akhel memeluk tubuh itu. Tubuh yang dulu mengajarkannya menerima pemberian orang dengan tangan kanan. Tubuh yang dulu selalu berlari kepadanya kala ia terjatuh dari sepeda.

Kematian ayahnya membuatnya begitu terpukul. Perubahan besar terjadi dalam dirinya. Mau kau beri makan apa anak orang itu? Suara itu masih jelas, bahkan makin jelas di liang pendengarannya. Setiap waktu, setiap detik, hingga menyentuh ke dalam titik rasa.

Kini, hatinya tak lagi setegar dulu lagi, keyakinannya kian runtuh oleh tikaman rasa yang berjibaku liar di dalam batinnya.

***

Dibukanya pintu itu kembali. Dilihatnya wanita itu masih setia menunggu dengan menyandar di sisi dinding. Seketika air mata membutir di belahan pipi masing-masing.

“Maafkan aku yang tak pernah memenuhi undangan makan malam bersama keluar besarmu. Aku tak biasa menyuap nasi dengan sendok dan garpu.”

Leave a Reply:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.